7 Alasan Saya Migrasi dari Mendeley ke Zotero

Sejak 2018 saya aktif sebagai Mendeley Advisor, namun kini menggunakan Zotero. Apa alasan saya migrasi?

Sumber: Pixabay


Saya suka Mendeley, tapi...

Saya tidak pernah menghitung, berapa kali saya mengisi atau menyelenggarakan pelatihan terkait penggunaan Mendeley. Namun, Anda dapat mencek melalui erickunto.com/p/narasumber.html. Beberapa orang mungkin mengasosiasikan nama saya dengan Mendeley. Mungkin karena betapa seringnya saya muncul terkait kegiatan Mendeley.

Saya mulai aktif membagikan pengalaman penggunaan Mendeley sejak 2018. Kebetulan juga saya terlibat sebagai salah satu advisor, dari >100 advisor Mendeley yang ada di Indonesia. Bahkan, awal tahun 2019 sempat dilabeli Mendeley Advisor of the Month 😆. Sempat juga ditawari untuk nongol di Elsevier Connect sebagai guest blogpost, namun saya urungkan karena bertentangan dengan prinsip saya 😄.

Kunjungi daftar lengkap Mendeley Advisor Indonesia di https://sitasi.org.

Namun, di awal Agustus 2021 ini saya memutuskan untuk mundur dari Mendeley Advisor. Ini artinya, saya tidak lagi menyediakan dukungan teknis terkait Mendeley. Anda tidak perlu kaget karena keputusan ini sebenarnya sudah saya rencanakan jauh-jauh hari, terutama sejak studi saya hampir segera selesai (ujian tertutup bulan Januari 2021). Repot juga kan jika harus membuat kutipan satu per satu dari disertasi yang telah kita tulis? 😂

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan saya mengambil keputusan ini antara lain:

Keputusan sepihak

Saya berusaha menjadi anggota komunitas yang supportif. Setiap kali ada permintaan uji coba fitur baru, permintaan feedback, dlsb. saya berusaha meluangkan waktu untuk itu. Dan ini saya lakukan tidak hanya di komunitas Mendeley, namun di komunitas lain juga demikian. 

Beberapa waktu lalu, Mendeley mengeluarkan informasi bahwa akan menghentikan beberapa fiturnya, termasuk dukungannya terhadap aplikasi iOS dan Android, Mendeley Profile, Mendeley Funding, Mendeley Career, dlsb. Fitur-fitur ini dihapus tanpa ada pemberitahuan awal (terutama kepada advisor) padahal merupakan fitur-fitur yang membuat saya tertarik memilih Mendeley.

Informasi penting ini sejauh pengetahuan saya, belum pernah disinggung kepada para advisor yang jumlahnya >5.000 di dunia. Beberapa advisor juga kaget terhadap keputusan ini. Saya hanya kuatir, ketika dengan tiba-tiba Mendeley Desktop akan dihentikan dan digantikan dengan Mendeley Reference Manager. 

Apakah Anda siap jika ini terjadi sewaktu-waktu?

Update yang tidak lebih baik

Mendeley didukung penuh oleh Elsevier, baik dalam hal dana, SDM, maupun sumber daya lainnya. Saya selalu heran ketika setiap kali ada update versi terbaru ternyata tidak menyelesaikan bug atau issue sebelumnya.

Sebagian besar pengguna Mendeley yang menghubungi saya adalah bertanya terkait kendala teknis yang dihadapi, seperti: gagal instal Mendeley, add-in Word yang hilang, notifikasi error yang selalu muncul, dlsb.

Bahkan, Mendeley versi terbaru yang dinamai Mendeley Reference Manager menurut saya tidak lebih baik dari Mendeley Desktop. Cermati perbandingan kedua versi Mendeley ini melalui tautan ini.

Pengenaan biaya masuk sovenir

Salah satu kelebihan Mendeley dari sisi advisor adalah kita dapat melakukan rekues atau permintaan sovenir ketika kita menyelenggarakan pelatihan atau workshop Mendeley. Sayangnya, sejak awal tahun 2020 Kemenkeu merilis aturan baru yang menyatakan setiap barang masuk dari luar negeri dikenakan biaya masuk dan PPN.

Beberapa advisor pernah melaporkan bahwa pernah dimintai pembayaran pajak hingga lebih dari 1 juta untuk pengiriman sovenir ini. Ya, meskipun kita tidak wajib untuk menebusnya namun ini bisa jadi akan menjadi pertimbangan tertentu setiap ada event Mendeley yang meminta pengiriman sovenir.

Meskipun faktor ini tidak berkaitan langsung dengan Mendeley, bisa jadi beberapa advisor mulai enggan request sovenir setiap kali ada agenda pelatihan Mendeley, termasuk saya 😄. Untung rekuest sovenir terakhir (ternyata dikirim sebesar 30 kg) yang saya terima di akhir tahun 2019 belum dikenakan peraturan baru ini. Bisa dibayangkan, berapa juta biaya yang akan ditagihkan ke saya.

Alasan saya migrasi ke Zotero

Sebelum memutuskan menggunakan atau migrasi ke Zotero, saya juga mencoba beberapa RMS lain. RMS yang saya coba mulai dari JabRef, Citavi, EndNote, dan Sciwheel. Setiap RMS pasti memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Namun, untuk saat ini Zotero yang dapat memfasilitasi berbagai kebutuhan saya, terkait pengelolaan referensi ilmiah.

Sumber: erickunto.com

Tersedia fitur Find Fulltext PDF

Sebelum diakuisisi Elsevier, Mendeley sebenarnya juga memiliki fitur ini. Entah apa alasan pastinya, fitur ini kemudian dihapuskan. Uniknya, beberapa RMS tetap mempertahankan fitur ini. Beberapa RMS yang pernah saya coba seperti Sciwheel, JabRef, Zotero, bahkan EndNote pun memiliki fitur pencarian fulltext ketika kita memiliki metadata URL dan/ DOI artikel. Tentunya, ini berlaku jika artikel tersebut bersifat open access.

Fitur ini sangat memudahkan pengguna jika ingin mendapatkan fulltext tanpa harus mengunjungi dan mengunduh satu per satu artikel yang diinginkan. Anda cukup memasukkan semua metadata artikel open access yang ingin diunduh ke dalam library Zotero. Pastikan tersedia URL dan/ DOI lalu klik kanan dan temukan opsi Find Available PDF.

Terintegrasi dengan Retraction Watch

Dalam dunia publikasi ilmiah, dikenal istilah retraction (retraksi) yang terjadi manakala penerbit atau pengelola jurnal menarik peredaran artikel yang telah terbit. Mengapa bisa demikian? 

Artikel yang diretraksi terjadi ketika terjadi pelanggaran etika publikasi. Menurut panduan COPE, Editor dapat menarik artikel ketika menemukan indikasi:

  • They have clear evidence that the findings are unreliable, either as a result of major error (eg, miscalculation or experimental error), or as a result of fabrication (eg, of data) or falsification (eg, image manipulation)
  • It constitutes plagiarism
  • The findings have previously been published elsewhere without proper attribution to previous sources or disclosure to the editor, permission to republish, or justification (ie, cases of redundant publication)
  • It contains material or data without authorisation for use
  • Copyright has been infringed or there is some other serious legal issue (eg, libel, privacy)
  • It reports unethical research
  • It has been published solely on the basis of a compromised or manipulated peer review process
  • The author(s) failed to disclose a major competing interest (a.k.a. conflict of interest) that, in the view of the editor, would have unduly affected interpretations of the work or recommendations by editors and peer reviewers.

Sebagai akademisi yang berkecimpung di dunia ilmiah, tentunya sebisa mungkin kita menghindari mengutip artikel yang telah diretraksi. Sejauh pengamatan saya, RMS yang mendukung fitur Retraction Watch saat ini hanya Zotero. 

Retraction Watch merupakan basis data yang memantau artikel-artikel yang diretraksi. Jangan sampai kita sebagai author dan/ pengelola jurnal secara sadar (atau tidak sadar) mengutip artikel-artikel yang diretraksi. 

Daripada harus mengecek satu per satu artikel ke laman website resmi penerbit atau melalui Retraction Watch, kita cukup memasang Zotero versi beta (fitur ini akan tersedia otomatis di Zotero 6). Secara otomatis akan terdeteksi jika kita mengimpor artikel yang telah diretraksi (seperti gambar di bawah ini) ke dalam library Zotero. Bahkan, Zotero juga akan memberi notifikasi ketika kita mengutip artikel tersebut di dalam manuskrip kita. 

Tarikan metadata yang lebih sempurna

Sama seperti kebanyakan RMS lain, Zotero juga memiliki Zotero Connector sebuah add-in browser yang dapat membantu kita menarik informasi metadata dari halaman website yang sedang kita buka. Dari beberapa pengalaman saya menggunakan add-in ini, kemampuan penarikan metadatanya lebih lengkap dan sempurna jika dibandingkan dengan importer lain. 

Jika tidak percaya, coba bandingkan beberapa tipe halaman website seperti: artikel jurnal, artikel media massa, video YouTube, Twitter, dlsb. Selain itu, kita juga dapat menambahkan secara sekaligus jika halaman yang jika buka memuat >1 artikel. Menarik bukan?

Dan yang lebih hebatnya lagi, hanya dengan menginput ISBN buku kita dapat langsung mengimpor metadata buku yang mencakup: author, title, year, city, publisher. Metode ini merupakan salah satu metode dari 6 Cara Impor Referensi di Zotero.

Plugin yang dapat meningkatkan performa Zotero

Karena dikembangkan dengan sistem open source, banyak plugin yang dikembangkan oleh pihak ketiga. Plugin-plugin ini tentunya dibuat untuk melengkapi fitur-fitur utama yang belum/tidak tersedia di Zotero. 

Plugin Scite yang dapat mendeteksi kutipan berdasarkan konteks

Beberapa plugin yang saya rekomendasikan antara lain:

  • Zotero PubPeer, mirip integrasi Retraction Watch, plugin ini dapat menampilkan komentar dari PubPeer
  • Scite, mengetahui jumlah kutipan berdasarkan konteks (positif, negatif, atau netral)
  • ZotFile, memungkinkan Anda memberi nama, memindahkan file PDF dengan mudah
  • Better BibTeX, menulis menggunakan LaTeX? Tambahkan plugin ini

Silakan cek dan pasang plugin Zotero melalui zotero.org/support/plugins.

Tersedia built-in PDF reader

Salah satu fitur terbaru Zotero yang dapat diakses pada versi beta adalah PDF reader. Sebelumnya, kita harus menggunakan PDF reader aplikasi lain untuk membuka artikel atau ebook berformat PDF. Sekarang, kita dapat langsung membuka, membaca, dan memberi anotasi PDF langsung di Zotero.

Tutorial mengaktifkan PDF Reader di Zotero dapat Anda akses di sini.

Tersedia aplikasi versi IOS

Zotero versi desktop memang dibutuhkan ketika kita ingin membuat kutipan dan daftar pustaka di sebuah dokumen. Namun, jika ingin membaca saya cenderung memilih menggunakan perangkat mobile. Dengan adanya aplikasi, saya dapat membaca kapan pun saya memiliki waktu luang tanpa harus membuka laptop.

Ketika Mendeley menghentikan dukungan terhadap aplikasi di iOS dan Android, Zotero justru kebalikannya. Saat ini Zotero sedang mengembangkan aplikasi di iOS yang juga dapat kita gunakan selain untuk membaca juga untuk anotasi. Mudah-mudahan dalam waktu dekat versi Android dirilis. Ulasan lengkap tentang aplikasi Zotero di iOS dapat dibaca di sini.

Dikembangkan oleh lembaga nirlaba

Sebagaimana dinyatakan pada laman resminya:

Zotero is a project of the Corporation for Digital Scholarship, a nonprofit organization dedicated to the development of software and services for researchers and cultural heritage institutions, and is developed by a global community.

Apa keuntungannya? Karena tidak berorientasi profit, pengembangan Zotero tidak diarahkan untuk mencari keuntungan finansial, termasuk kegiatan monetisasi. Pengembangan Zotero ke depan tidak ada kaitannya dengan siapa penyuplai dana dan sumber daya lainnya. Tidak juga disesuaikan dengan permintaan penyumbang dana.

Artinya, kita sebagai pengguna akan lebih aman dan terjamin bahwa Zotero dapat dimanfaatkan secara gratis dan aktivitas penggunaan Zotero tidak diarahkan untuk menggali pundi-pundi keuntungan finansial (misal penjualan data pengguna).

Pelatihan Zotero pertama kali

Tidak mudah ternyata untuk mengubah mindset dan branding kuat Mendeley. Beberapa pihak pernah mencoba menawari saya untuk menjadi narasumber terkait penggunaan Mendeley. Ketika saya tawarkan untuk mengganti Mendeley dengan Zotero, ada beberapa pihak yang enggan melanjutkan kesepakatan. Pokoknya Mendeley begitu jawabnya karena sudah permintaan dari atasan 😆.

Alhamdulillah, Binus Business School menjadi mitra pertama saya untuk penyelenggaraan pelatihan Zotero. Saya ucapkan terima kasih atas kepercayaannya. Anda dapat mengakses materi "Mengelola Referensi Ilmiah dengan Zotero" melalui tautan ini

Dan kedua kalinya saya memberi pelatihan Zotero adalah untuk pada mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta. Sesi ini merupakan rangkaian kegiatan Research Bootcamp yang dihadirkan untuk memberi dukungan teknis kepada mahasiswa untuk menyiapkan luaran skripsi/tesis menjadi artikel ilmiah. Anda dapat mengakses materi kegiatan tersebut secara gratis di erickunto.com/2021/08/research-bootcamp.html

Saya berharap, semoga ke depan makin banyak lagi pengguna Zotero di Indonesia karena mengetahui banyaknya kelebihan Zotero jika dibandingkan dengan RMS lain.

Saya suka Zotero, tapi...

Beberapa fitur yang menurut saya perlu dikembangkan, baik terintegrasi langsung di Zotero atau menggunakan plugin antara lain:

  • hyperlink citation, fitur yang memungkinkan pengguna untuk menautkan kutipan di badan teks dengan informasi di Daftar Pustaka.
  • penyimpanan cloud pihak ketiga, seperti GoogleDrive, OneDrive, atau Dropbox yang lebih familiar untuk pengguna.
  • integrasi WPS, karena pada faktanya saat ini mulai banyak akademisi yang menggunakan WPS sebagai alternatif Microsoft Word.
Dengan tambahan fitur-fitur di atas, Zotero pasti akan lebih mumpuni sebagai RMS. Semoga ada pihak-pihak yang mengembangkannya dan dapat kita nikmati pada update versi Zotero berikutnya.

Baca Juga