Penulis Utama vs Anggota: Menghitung Jatah Angka Kredit di Sinta 2
![]() |
| Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels |
Halo Bapak/Ibu Dosen, peneliti, dan rekan-rekan pejuang Tridarma di seluruh Nusantara!
Bagaimana progres penelitian semester ini? Apakah draf manuskrip sudah siap di-submit, atau masih bolak-balik direvisi reviewer? Apa pun statusnya, mari kita rehat sejenak dan menyeruput kopi sambil membicarakan hal yang paling krusial di ujung perjalanan sebuah publikasi: pembagian Angka Kredit (AK).
Pernah tidak sih Bapak/Ibu mengalami momen awkward ini: Setelah berbulan-bulan susah payah meneliti, mengolah data, dan menulis paper bareng tim, pas artikelnya berstatus published, malah bingung sendiri. "Eh, poin saya sebenarnya dapat berapa nih?" Atau mungkin ada rasa nyesek di dalam hati ketika menyadari bahwa nama kita ada di urutan kelima, dan poin yang didapat ternyata tidak cukup untuk membiayai secangkir kopi (secara kiasan, tentu saja).
Mempublikasikan riset secara kolaboratif alias rame-rame memang seru, meringankan beban kerja, dan sangat didorong oleh kementerian untuk memupuk budaya akademik yang sehat. Tapi, saat tiba waktunya melaporkan portofolio untuk usulan kenaikan jabatan, perhitungan "jatah kue" Angka Kredit sering kali bikin kening berkerut, bahkan bisa memicu friksi diam-diam di ruang dosen.
Apalagi sekarang kita telah memasuki era baru! Dengan terbitnya Permendiktisaintek No. 52 Tahun 2025 tentang Profesi, Karier, dan Penghasilan Dosen, serta rilisnya Petunjuk Teknis (Juknis) terbarunya, cara kita mengelola kinerja mengalami perubahan fundamental. Penilaian dosen kini tidak lagi mencampuradukkan semua kinerja dalam satu keranjang DUPAK yang memusingkan.
Sekarang, kinerja kita dibagi dua jalur utama:
AK Konversi: Didapatkan dari Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) tahunan Bapak/Ibu, yang berfokus pada pengajaran, pengabdian masyarakat, dan penunjang.
AK Prestasi: Ini dia panggung utamanya! Kinerja penelitian tidak masuk dalam SKP, melainkan dinilai terpisah menjadi AK Prestasi. Publikasi yang Bapak/Ibu hasilkan akan dinilai oleh Tim Penilai Internal di Perguruan Tinggi (atau LLDIKTI bagi dosen swasta) setiap akhir tahun.
Karena Riset (AK Prestasi) punya jalur eksklusif dan menjadi syarat mutlak (proporsi minimal) untuk bisa promosi jabatan, maka mengetahui secara pasti berapa poin yang akan kita dapatkan dari sebuah publikasi kolaboratif adalah kewajiban mutlak. Kita tidak bisa lagi "meraba-raba" atau sekadar menebak.
Oleh karena itu, di artikel kali ini, kita akan membedah tuntas 9 skenario pembagian poin untuk satu artikel Jurnal Nasional Terakreditasi Peringkat 2 (Sinta 2) yang ditulis oleh maksimal 5 orang. Mengapa Sinta 2? Karena jurnal di level ini (dengan nilai setara Sinta 1, yaitu 25 AK) sering kali menjadi primadona para dosen untuk mengumpulkan pundi-pundi poin secara efektif.
Siapkan catatan Anda, mari kita mulai "memotong kue" Angka Kredit ini!
Aturan Main Pembagian AK
Sebelum kita masuk ke skenario hitung-hitungan yang bikin overthinking, kita harus paham dulu teori dasar pembagiannya. Ibarat membagi sebuah pizza ukuran besar, ukuran loyang untuk Jurnal Nasional Terakreditasi Peringkat 1 atau Peringkat 2 adalah 25 Angka Kredit (AK). Nilai 25 AK ini adalah nilai 100% atau nilai maksimal jika tulisan itu sempurna.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sangat adil dalam menghargai kontribusi nyata. Artinya, siapa yang kerjanya paling banyak, dia yang berhak memotong porsi kue paling besar. Jabatan First Author (Penulis Utama) dan Corresponding Author (Penulis Korespondensi) adalah dua posisi kasta tertinggi dalam sebuah publikasi.
Berdasarkan pedoman penilaian AK riset, terdapat tiga prinsip pemotongan kue yang menentukan nasib poin setiap dosen:
Aturan "Borongan" (60% - 40%)
Skenario ini terjadi jika Penulis Utama (Pertama) juga merangkap tugas sebagai Penulis Korespondensi.
Karena dia memborong dua tanggung jawab berat (menulis draf utama dan menjadi jembatan komunikasi yang berdarah-darah dengan reviewer jurnal), maka dia berhak memotong kue paling besar, yaitu 60%.
Sisanya yang 40% akan dilempar ke meja, untuk dibagi rata kepada seluruh co-authors (penulis pendamping/anggota biasa).
Aturan "Berbagi Peran" (40% - 40% - 20%)
Skenario ini terjadi jika Penulis Utama dan Penulis Korespondensi adalah dua orang yang berbeda. Biasanya, mahasiswa pascasarjana atau dosen muda menjadi penulis pertama, sementara dosen senior atau promotornya mengambil peran korespondensi.
- Penulis Utama: Berhak atas porsi 40%.
- Penulis Korespondensi: Berhak atas porsi 40%.
Kasihan anggota biasa, sisa kuenya kini tinggal 20% yang harus dibagi rata ke seluruh nama yang tersisa di daftar penulis.
Aturan Khusus "Duo Dinamis" (50% - 50%)
Bagaimana jika penulisnya hanya dua orang, dan perannya dipisah (satu orang sebagai Penulis Utama, satu orang lainnya sebagai Penulis Korespondensi)? Apakah jatah 20% untuk anggota hangus karena tidak ada orang ketiga?
Jawabannya: Tidak hangus! Dalam kasus eksklusif 2 penulis dengan peran terpisah ini, porsi sisa 20% tersebut diserap secara proporsional.
Pembagian akhirnya menjadi sangat seimbang: 50% untuk Penulis Utama dan 50% untuk Penulis (Pendamping/ANggota yang sekaligus menjadi Penulis) Korespondensi.
Agar lebih jelas, mari kita lihat tabel ringkasan aturan pembagian persentase berikut:
Tabel 1 Persentase Pembagian Angka Kredit Berdasarkan Peran Penulis
| Skenario Kepenulisan | Hak Penulis Utama (First Author) | Hak Penulis Korespondensi (Corresponding Author) | Sisa untuk Penulis Anggota (Dibagi Rata) |
|---|---|---|---|
| Penulis Tunggal | 100% | 100% | Tidak ada |
| Utama merangkap Korespondensi | 60% | (Sudah tergabung di Utama) | 40% |
| Peran Dipisah (Hanya 2 Penulis) | 50% | 50% | Tidak ada sisa |
| Peran Dipisah (> 2 Penulis) | 40% | 40% | 20% |
Sangat jelas, kan? Nah, sekarang mari kita mainkan simulasinya menggunakan nilai riil dari Jurnal Sinta 2, yaitu 25 AK!
9 Kemungkinan Hitungan (Simulasi Lengkap Sinta 2)
Sesuai janji, kita akan membedah secara matematis siapa mendapat apa, jika sebuah manuskrip Sinta 2 digarap oleh maksimal 5 orang. Daftar di bawah ini wajib Bapak/Ibu bookmark sebelum memutuskan untuk "numpang nama" di artikel rekan sejawat!
Skenario 1 Penulis (Solo Karier)
Menulis sendirian memang sunyi, sepi, dan menguras energi. Tapi saat artikelnya accepted, Anda akan tertawa paling lebar.
Penulis Tunggal = Panen penuh 100% (25 AK). Mantap! 25 poin langsung masuk ke kantong AK Prestasi Anda. Sangat signifikan untuk mendongkrak syarat usulan Lektor atau Lektor Kepala. Tapi ingat, awas capek sendiri, ya!
Skenario 2 Penulis (Duo Dinamis)
Format ini sangat ideal untuk dosen pembimbing dan mahasiswa bimbingannya, atau dua kolaborator lintas kampus yang saling melengkapi.
- Penulis Utama merangkap Koresp = Utama (15 AK), 1 Anggota (10 AK). Hitungan: Utama ambil 60% x 25. Anggota ambil sisa utuh 40% x 25.
- Peran Dipisah = Utama (12,5 AK), Koresp (12,5 AK). Hitungan: Karena hanya berdua dan peran pisah, berlaku aturan 50%-50%. Masing-masing dapat 50% x 25. Pembagian yang sangat adil dan win-win solution jika Anda mengerjakan riset dengan porsi bobot kerja yang benar-benar seimbang.
Skenario 3 Penulis (Trio Macan)
Tiga orang adalah jumlah yang cukup umum di Indonesia. Satu orang konseptor, satu orang tukang koding/olah data, dan satu orang penulis draf.
- Penulis Utama merangkap Koresp = Utama (15 AK), 2 Anggota (@ 5 AK). Hitungan: Utama ambil 60%. Sisa 40% [10 AK] dibagi 2 anggota. 10/2 = 5 AK per orang.
- Peran Dipisah = Utama (10 AK), Koresp (10 AK), 1 Anggota ngenes dapet (5 AK). Hitungan: Utama 40% x 25 = 10. Koresp 40% x 25 = 10. Sisa 20% [5 AK] jatuh seutuhnya ke satu-satunya anggota. Menjadi anggota ketiga di sini masih lumayan dapat 5 poin. Cukup untuk menambah tabungan angka kredit pelan-pelan.
Skenario 4 Penulis (Kuartet)
Semakin banyak kepala, semakin ringan risetnya. Tapi ingat, kuenya tidak ikut membesar, lho!
- Penulis Utama merangkap Koresp = Utama (15 AK), 3 Anggota (@ 3,33 AK). Hitungan: Utama ambil 60%. Sisa 10 AK dibagi 3 anggota.
- Peran Dipisah = Utama (10 AK), Koresp (10 AK), 2 Anggota (@ 2,5 AK). Hitungan: Sisa 20% [5 AK] dibagi 2 anggota. 5/2 = 2,5 AK. Mendapat 2,5 AK dari Jurnal Sinta 2 sebenarnya terasa sedikit "rugi bandar", apalagi kalau Anda berkontribusi cukup banyak di lapangan.
Skenario 5 Penulis (Batalyon Riset)
Nah, ini dia skenario yang paling sering kita temui karena alasan "solidaritas satu departemen".
- Penulis Utama merangkap Koresp = Utama (15 AK), 4 Anggota (@ 2,5 AK). Hitungan: Sisa 10 AK dibagi 4 anggota.
- Peran Dipisah = Utama (10 AK), Koresp (10 AK), 3 Anggota (@ 1,67 AK). Hitungan: Sisa 5 AK dibagi 3 anggota = 1,67 AK. Makin ke bawah letak nama Anda, poin anggota cuma sisa remah-remahnya saja! 1,67 AK hampir tidak terasa dampaknya di laporan AK Kumulatif Bapak/Ibu.
Agar Bapak/Ibu lebih mudah melakukan screenshot dan membagikannya di grup WhatsApp Prodi, berikut adalah tabel rekapitulasinya:
Tabel 2 Simulasi Poin Angka Kredit (AK) Jurnal Sinta 2 (Maks 25 AK)
| Skenario Jumlah Penulis | Peran Penulis | Poin Penulis Utama | Poin Penulis Korespondensi | Poin Masing-Masing Penulis Anggota |
|---|---|---|---|---|
| 1 Orang | Tunggal | 25 AK | - | - |
| 2 Orang | Utama merangkap Koresp | 15 AK | (merangkap) | 10 AK |
| 2 Orang | Peran Dipisah (50%-50%) | 12,5 AK | 12,5 AK | - |
| 3 Orang | Utama merangkap Koresp | 15 AK | (merangkap) | 5 AK |
| 3 Orang | Peran Dipisah | 10 AK | 10 AK | 5 AK |
| 4 Orang | Utama merangkap Koresp | 15 AK | (merangkap) | 3,33 AK |
| 4 Orang | Peran Dipisah | 10 AK | 10 AK | 2,5 AK |
| 5 Orang | Utama merangkap Koresp | 15 AK | (merangkap) | 2,5 AK |
| 5 Orang | Peran Dipisah | 10 AK | 10 AK | 1,67 AK |
Mengapa Strategi Poin Ini Sangat Vital untuk Promosi Karier?
Bapak/Ibu mungkin berpikir, "Ah, nggak apa-apalah dapat 1,67 AK, yang penting nambah portofolio." Eits, mari kita lihat gambaran besarnya sesuai aturan main di Permendiktisaintek 52/2025 dan Juknis terbaru.
Saat ini, sistem tidak lagi menoleransi "dosen yang cuma jago ngajar tapi nol riset". Ada aturan yang namanya Proporsi Angka Kredit Penelitian yang wajib dipenuhi. Tanpa mencapai rasio persentase ini, berkas usulan promosi Bapak/Ibu otomatis ditolak oleh sistem, sehebat apa pun nilai SKP (AK Konversi) yang didapatkan.
Berikut adalah syarat mutlak proporsi penelitian:
- Naik ke Lektor: Butuh minimal 35% poin dari penelitian.
- Naik ke Lektor Kepala: Butuh minimal 40% poin dari penelitian.
- Naik ke Profesor: Butuh minimal 45% poin dari penelitian.
Mari kita buat simulasinya: Katakanlah Bapak Dosen Budi saat ini menjabat Lektor (Nilai Dasar AK: 200). Beliau ingin promosi menjadi Lektor Kepala (Nilai Dasar AK: 400). Selisih poin yang harus dicari adalah 200 AK tambahan.
Sesuai aturan, 40% dari 200 AK tambahan tersebut WAJIB berasal dari AK Prestasi (Penelitian). Artinya, Pak Budi butuh tabungan minimal 80 Angka Kredit murni dari riset.
Bagaimana Pak Budi memenuhi target 80 AK ini menggunakan Jurnal Sinta 2?
Skenario A
Pak Budi selalu numpang nama sebagai Anggota ke-5, dengan peran terpisah. Di posisi ini, Pak Budi hanya mendapat 1,67 AK per artikel. Untuk mencapai 80 AK, Pak Budi harus menerbitkan 48 artikel Sinta 2! (80 / 1,67 = 47,9). Ini jelas tidak masuk akal, bikin burnout, dan mustahil dilakukan dalam 2-3 tahun tanpa melanggar kewarasan.
Skenario B
Pak Budi menyusun strategi: Selalu menjadi Penulis Utama merangkap Korespondensi. Di posisi ini, Pak Budi mengamankan 15 AK per artikel. Untuk mencapai 80 AK, Pak Budi cukup menerbitkan 6 artikel Sinta 2 (6 x 15 = 90 AK). Sangat realistis, terencana, dan bisa dicapai dalam waktu 2 tahun jika produktif!
Catatan Tambahan Syarat Khusus: Jangan lupa, untuk promosi ke Lektor dan Lektor Kepala, aturan Juknis mewajibkan Bapak/Ibu memiliki minimal 1 syarat khusus berupa publikasi ilmiah (Sinta 2 masuk kategori ini). Jadi, posisi Penulis Utama/Korespondensi tidak bisa ditawar lagi.
Dari simulasi di atas, terlihat jelas kan mengapa memahami hitung-hitungan pembagian Angka Kredit ini bukan sekadar urusan pelit atau tidak pelit dengan rekan sejawat, melainkan soal taktik menyelamatkan karier akademik kita sendiri!
Tips Strategis Kolaborasi Riset Era Baru
Setelah memahami realita yang lumayan menohok di atas, bagaimana sebaiknya Bapak/Ibu mengatur strategi kolaborasi agar tidak dirugikan tapi tetap menjaga pertemanan? Berikut beberapa tips ala academic survival:
Amankan Posisi Corresponding Author!
Jika Bapak/Ibu menargetkan usulan Lektor Kepala atau Profesor, menjadi Penulis Utama (First Author) saja kadang tidak cukup aman jika perannya dipisah. Usahakan untuk memegang peran ganda sebagai Utama dan Korespondensi (memotong 60%). Jika Bapak/Ibu adalah pembimbing mahasiswa S2/S3, biarkan mahasiswa menjadi Penulis Pertama, dan Bapak/Ibu menjadi Penulis Korespondensi (memotong 40%). Ini jauh lebih menguntungkan daripada sekadar ditaruh di penulis kedua tanpa status korespondensi (hanya dapat sisa kue).
Hindari Budaya "Gerbong Kereta"
Budaya memasukkan nama sejawat hanya karena kedekatan, rasa segan, atau "gantian numpang" harus mulai dikurangi. Aturan Permendiktisaintek sangat adil menghargai kontribusi riil. Jika sebuah riset nasional Sinta 2 digarap sampai 6-7 orang, nilai yang didapat oleh para anggota di ujung gerbong sangat tidak sepadan dengan beban administrasinya. Kolaborasi ideal untuk jurnal nasional adalah 2 hingga 3 orang, di mana masing-masing punya tugas dan pembagian poin yang layak.
Terapkan Sistem "Arisan Riset"
Alih-alih membuat 1 paper dengan 5 penulis yang poinnya kecil-kecil, lebih baik pecah kolaborasi tersebut. Buatlah 5 paper berbeda sepanjang tahun. Pada Paper A, Dosen 1 jadi Penulis Utama. Pada Paper B, giliran Dosen 2 jadi Penulis Utama, dan seterusnya. Ini memastikan setiap orang di dalam tim riset tersebut memiliki portofolio sebagai Penulis Utama untuk keperluan syarat khusus promosi jabatan.
Jangan Lupa Lapor dan Mutakhirkan di SISTER!
Aturan paling keren di dunia tidak akan berguna kalau sistem tidak mencatatnya. Berdasarkan arahan terbaru dari sosialisasi kementerian, setiap capaian kinerja penelitian (AK Prestasi) yang telah dinilai dan disahkan oleh Tim Penilai Internal harus langsung didokumentasikan ke dalam layanan SISTER (Sistem Informasi Sumber Daya Terintegrasi). Jadi, rajin-rajinlah mengecek dan memutakhirkan data rumpun ilmu, kepakaran, serta NIK Bapak/Ibu di platform tersebut.
Kesimpulan
Membangun karier akademik di era Permendiktisaintek No. 52 Tahun 2025 ibarat berlari maraton, bukan lari sprint. Kita butuh napas panjang, perencanaan yang matang, dan pemahaman aturan yang tajam. DUPAK lama mungkin sudah lenyap, tapi AK Konversi dan AK Prestasi hadir menuntut kita bekerja lebih cerdas (work smart), tidak hanya bekerja keras (work hard).
Pembagian persentase penulis di jurnal (entah itu Sinta, Prosiding, atau Jurnal Internasional Bereputasi) adalah regulasi baku yang harus kita manfaatkan sebagai pedoman penyusunan road map riset pribadi kita setiap semesternya.
Jadi, Bapak/Ibu Dosen, sudahkah Anda mengecek naskah yang sedang di-draft saat ini? Anda berada di urutan ke berapa? Apakah perannya terpisah atau dirangkap? Yuk, obrolkan pembagian poin ini secara transparan dan profesional di awal proyek riset agar tidak ada yang merasa nyesek di akhir.
Bagaimana dengan pengalaman Bapak/Ibu? Pernahkah punya cerita unik saat menjadi penulis ke-5 di Jurnal Sinta 2? Atau malah pernah jackpot dapat publikasi Sinta 1 sebagai penulis tunggal? Boleh banget di-share pengalaman suka-dukanya di kolom komentar di bawah ini, ya!

Gabung dalam percakapan