Ingin mendapatkan informasi terkini langsung ke WhatsApp Anda? Ikuti Channel saya!

Satu Tongkrongan Beda Vibes: Kenapa Grammar Saja Tunduk Pada Patriarki?

Foto oleh Tim Mossholder dari Pexels


Coba perhatikan obrolan di grup kelasmu; kalau anak perempuan memuji temannya, mereka akan royal memakai kata sifat yang emotif dan tanda baca berlimpah seperti "Ih, Masya Allah ukhti, bajunya lucuuuu banget deeeh! 😍", sementara anak laki-laki cenderung merespons seadanya dengan "Y", "Otw", atau "Mantap". 

Di sisi lain, kalau kamu belajar Nahwu, kamu pasti tahu aturan bahwa jika di dalam satu ruangan ada 99 perempuan dan 1 laki-laki, maka kata ganti (amīr) yang digunakan untuk memanggil mereka semua secara otomatis berubah menjadi hum (mereka laki-laki), bukan lagi hunna (mereka perempuan).

Apakah perbedaan gaya chatting antara cowok dan cewek itu adalah bawaan lahir (biologis), atau karena masyarakat yang 'memaksa' mereka bertingkah laku seperti itu?

Mengapa struktur tata bahasa, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa lainnya, seolah-olah menjadikan laki-laki sebagai "standar" dan perempuan sebagai "pengecualian"?

Realitas bahwa bahasa itu tidak netral dan sarat akan bias gender—baik sebagai cermin ketidaksetaraan di masyarakat maupun sebagai alat untuk membentuk identitas maskulin/feminin—inilah yang akan kita bongkar habis-habisan hari ini!

Konsep Kunci

Topik Utama Inti Bahasan (Key Takeaways)
Seks vs Gender Seks (Jenis Kelamin): Bawaan biologis dari lahir (kodrat).
Gender: Konstruksi sosial-budaya tentang peran maskulin & feminin.
Bahasa Seksist Bagaimana bahasa merugikan/meminggirkan perempuan. Laki-laki sebagai entitas utama (unmarked), perempuan sebagai entitas turunan (marked).
Refleksi Struktur Sosial Bahasa bertindak sebagai "cermin" yang memantulkan ideologi patriarki dan ketidaksetaraan kekuasaan di masyarakat.
Pembentuk Struktur Sosial Konsep "Doing Gender". Bahasa bukan cuma warisan, tapi dipakai secara aktif untuk menciptakan identitas (membangun hierarki vs keakraban).
Gaya Komunikasi Report Talk (Laki-laki): Fokus pada transfer informasi, status, dan kompetisi.
Rapport Talk (Perempuan): Fokus pada empati, kedekatan, dan hubungan.

Konsep Jenis Kelamin (Seks) dan Gender 

Sebelum membedah bahasanya, kita wajib clear dulu soal bedanya Sex dan Gender. Seks (jenis kelamin) merujuk pada karakteristik biologis dan anatomi fisik yang membedakan manusia menjadi jantan dan betina [Wardhaugh, 2015; Romaine, 2000]. Sifatnya mutlak dan bawaan lahir. 

Sementara itu, Gender adalah konstruksi kultural, atau sifat-sifat yang dianggap pantas oleh masyarakat tertentu untuk disematkan pada laki-laki (maskulinitas) dan perempuan (feminitas) [Wardhaugh, 2015]. 

Dalam sosiolinguistik modern, gender tidak lagi dipandang sebagai "sesuatu yang kita miliki" sejak lahir, melainkan "sesuatu yang kita lakukan" (doing gender) melalui interaksi sehari-hari [Wardhaugh, 2015; Holmes & Wilson, 2017].

Contoh Konkret: Fakta bahwa laki-laki punya pita suara lebih tebal sehingga suaranya ngebass adalah urusan Seks. Tapi, anggapan bahwa perempuan kalau ngomong harus lemah lembut, banyak basa-basi, dan pantang ngomong kasar, itu murni urusan Gender (konstruksi budaya).

Bahasa Sebagai Refleksi Struktur Sosial (Bahasa Seksis) 

Dalam teori ini, bahasa dipandang sebagai sebuah 'cermin' dari masyarakat pemakainya. Karena selama berabad-abad masyarakat dunia (termasuk Arab dan Indonesia) hidup dalam sistem patriarki (laki-laki sebagai pemegang kuasa tertinggi), maka bahasa secara otomatis merefleksikan dominasi laki-laki tersebut [Romaine, 2000]. 

Bahasa pada dasarnya "man-made" (dibuat oleh laki-laki) sehingga meletakkan laki-laki sebagai titik pusat, sementara perempuan dianggap sebagai sub-ordinat, turunan, atau makhluk yang terasingkan dari bahasa [Romaine, 2000; Tricahyo, 2021]. Banyak kosakata dan tata bahasa yang merugikan perempuan (sexist language). Laki-laki selalu menjadi bentuk dasar (unmarked), sedangkan perempuan diberi imbuhan/tambahan (marked).

Contoh Konkret: Di Indonesia, profesi normal selalu diasosiasikan dengan laki-laki. Saat ada perempuan yang jadi polisi, kita wajib nambahin embel-embel "Polwan", padahal polisi laki-laki tidak pernah disebut "Polki" [Tricahyo, 2021]. Di bahasa Arab, kata benda mudzakkar (maskulin) adalah bentuk dasar, sedangkan muannats (feminin) harus ditambah ta' marbuthah (seperti ālib -> ālibah). Bahkan untuk sapaan kelompok (hum/kalian), satu laki-laki bisa mengalahkan eksistensi puluhan perempuan dalam tata bahasa gramatikal Arab.

Bahasa Sebagai Pembentuk Struktur Sosial 

Bahasa bukan cuma alat komunikasi yang pasif, tapi ia aktif membentuk peran sosial seseorang di masyarakat. Tokoh seperti Deborah Tannen menjelaskan bahwa laki-laki dan perempuan sejak kecil "dibentuk" oleh masyarakat untuk menggunakan bahasa dengan tujuan yang beda:

Report Talk (Laki-laki)

Cenderung memakai bahasa untuk memamerkan pengetahuan, mempertahankan status, kompetitif, dan langsung pada intinya (straight to the point). Laki-laki tidak takut berdebat karena itu bagian dari kompetisi status [Tricahyo, 2021].

Rapport Talk (Perempuan)

Cenderung memakai bahasa untuk membangun hubungan (intimacy), mencari simpati, menghindari konflik terbuka, dan menjaga perasaan lawan bicara. Makanya perempuan lebih sering pakai gaya bahasa tidak langsung (hedges/tag questions) [Tricahyo, 2021]. Melalui pemilihan gaya bahasa yang konsisten inilah, laki-laki dan perempuan terus-menerus memproduksi dan membentuk batas status sosial mereka (social identities) di dalam masyarakat [Holmes & Wilson, 2017; Wardhaugh, 2015].

Contoh Konkret: Saat nongkrong, obrolan cowok sering diisi dengan saling ejek (roasting/ritual insults) untuk menunjukkan siapa yang posisinya paling "Alpha" di sirkel itu. Sedangkan obrolan cewek biasanya saling memuji penampilan atau curhat (bergosip) untuk membangun kedekatan dan koneksi emosional [Holmes & Wilson, 2017; Bassiouney, 2009].

Pertanyaan Refleksi

  1. Jelaskan perbedaan paling mendasar antara istilah Jenis Kelamin (Sex) dan Gender menurut kacamata sosiolinguistik, dan berikan satu contoh spesifik yang merepresentasikan perbedaan tersebut!
  2. Di dalam literatur, disebutkan bahwa bahasa itu penuh dengan bias patriarki yang menempatkan perempuan di posisi subordinat. Perhatikan kata serapan seperti Aktor - Aktris, Dewa - Dewi, atau frasa Ibu Rumah Tangga. Analisislah fenomena kosakata tersebut ke dalam konsep Bahasa Seksis (Sexist Language)! Mengapa penambahan imbuhan atau pembentukan kata khusus untuk perempuan dianggap sebagai bentuk peminggiran eksistensi perempuan secara linguistik?
  3. Deborah Tannen membedakan pola komunikasi menjadi Rapport Talk (khas perempuan) dan Report Talk (khas laki-laki). Coba bayangkan skenario ini: Seorang istri curhat kepada suaminya, "Duh, aku capek banget seharian ngurusin acara, panitia yang lain pada lepas tangan." Suaminya membalas, "Ya udah, besok kamu mundur aja dari panitia biar nggak capek." Sang istri malah marah karena merasa tidak dimengerti. Sebagai mahasiswa sosiolinguistik, gunakan teori Rapport dan Report Talk untuk memecahkan misteri miskomunikasi lintas-gender ini! Mengapa respons suami yang niatnya memberikan "solusi logis" justru dianggap tidak sensitif oleh sang istri?
  4. Dalam teorinya, Penelope Eckert (dalam Wardhaugh, 2015) dan Deborah Cameron menekankan konsep "Doing Gender", yakni bahwa kita tidak "memiliki" gender secara kaku, melainkan kita "melakukan" dan terus-menerus "membentuk" identitas gender kita melalui cara kita meracik bahasa dalam interaksi sosial. Saat ini, di media sosial (X/Twitter, TikTok, IG), banyak bermunculan fenomena di mana perempuan (misal: komunitas fangirl K-Pop, atau aktivis kampus) secara aktif meminjam gaya bahasa slang atau kasar yang dulu identik dengan "Bahasa Laki-Laki" (seperti mengumpat, menggunakan makian kasar, bersikap blak-blakan/konfrontatif).
    • Lakukan pengamatan di timeline media sosialmu (atau ambil contoh dari figur publik perempuan/komunitas tertentu). Temukan 3 bukti screenshot di mana perempuan mengadopsi gaya tutur maskulin (Report Talk atau bahasa asertif/konfrontatif).
    • Analisislah temuan tersebut: Apakah pergeseran gaya bahasa perempuan di internet ini merupakan bentuk perlawanan terhadap penindasan bahasa (mendobrak man-made language dan subordinasi perempuan)?
    • Evaluasilah dari sudut pandang Bahasa Sebagai Pembentuk Struktur Sosial: Apakah dengan mengadopsi cara bicara laki-laki, perempuan sedang menciptakan kesetaraan kuasa (power equality), atau justru ironisnya mereka malah mengonfirmasi bahwa "bahasa laki-laki"-lah yang paling kuat dan ideal untuk digunakan di ruang publik? Argumenmu wajib merujuk pada konsep dari Wardhaugh (2015) atau Tricahyo (2021)!