Ingin mendapatkan informasi terkini langsung ke WhatsApp Anda? Ikuti Channel saya!

Jangan Asal Sentuh! Kenali Anatomi, Kaligrafi, dan Cara Katalog Naskah Kuno

Pusing ngolah naskah kuno? Yuk pahami istilah manuskrip, kaligrafi, preservasi, sampai trik katalogisasinya di sini!
Foto oleh mohamed abdelghaffar dari Pexels


Coba bayangin skenario ini: kamu lagi magang di sebuah perpustakaan Islam bersejarah atau arsip nasional. Tiba-tiba, pembimbing magangmu menyodorkan tumpukan buku kuno berdebu peninggalan ulama abad ke-18. Bentuknya murni tulisan tangan tanpa sampul yang jelas, kertasnya super rapuh, dan tintanya meliuk-liuk ekstrem sampai susah dieja. Kalau kamu memperlakukan naskah itu layaknya buku cetakan modern biasa—dibuka lebar-lebar 180 derajat di atas meja dan halamannya ditekuk—kamu bisa saja merusak artefak sejarah yang harganya tak ternilai!

Keresahan dan rasa takut salah handling (penanganan) ini wajar banget dialami oleh mahasiswa Ilmu Perpustakaan. Mengolah naskah kuno atau yang kerennya disebut manuskrip itu butuh keahlian khusus. Kita nggak cuma berhadapan dengan teks berisi ilmu pengetahuan, tapi juga dengan benda bersejarah yang rapuh dan punya kerumitan anatomi yang sangat unik.

Biar kamu siap mental dan punya skill mumpuni saat ketemu warisan sejarah ini, hari ini kita bakal menyelami dunia pengelolaan manuskrip Arab. Kita akan bedah tuntas mulai dari istilah-istilah dasarnya, jenis kaligrafinya, cara aman memegangnya, sampai trik mengatalogkannya biar naskah tersebut gampang dicari sama pemustaka di OPAC (Online Public Access Catalog). 

Yuk, simak baik-baik!

Poin Kunci

Konsep Utama Deskripsi Singkat Aplikasi Praktis di Perpustakaan
Terminologi Manuskrip Dokumen tulisan tangan (handwritten) yang biasanya hanya ada satu salinan tunggal, termasuk Majāmī' (kumpulan naskah). Mengidentifikasi kepemilikan unik, seperti riwayat waqf (wakaf) pada naskah (Click et al., 2016; Joudrey et al., 2015).
Kaligrafi (Khaṭ) Gaya tulisan Arab seperti Kufi, Nasakh, Ṡuluṡ, dan Riq'ah. Pustakawan harus bisa membaca gaya kaligrafi untuk menentukan judul asli di balik tipografi yang rumit (Mohd Ikhwan Ismail et al., 2011).
Kondisi & Preservasi Keadaan fisik naskah yang rentan rusak akibat penyimpanan buruk, perang, atau usia kertas. Menggunakan alat bantu seperti bantal penyangga tulang buku (spine support cushions) dan sarung tangan katun (Click et al., 2016).
Katalogisasi Kodikologis Perekaman detail fisik (kodikologi) dan pemecahan entri katalog untuk naskah kompilasi. Membuat metadata yang mendetail dan membuat entri terpisah untuk setiap karya di dalam naskah kompilasi (Click et al., 2016).

Berkenalan dengan Terminologi Manuskrip Arab

Sebelum masuk ke urusan teknis perpustakaan, kita samakan frekuensi dulu tentang apa itu manuskrip. Di dunia pengatalogan, manuskrip didefinisikan sebagai dokumen tulisan tangan (handwritten), yang biasanya eksis dalam bentuk salinan tunggal, bukan hasil cetakan mesin yang diproduksi massal (Joudrey et al., 2015). Di zaman peradaban Islam klasik, sebelum adanya mesin cetak, ilmu pengetahuan ditransmisikan dan disalin murni menggunakan goresan tangan para ulama atau muridnya.

Salah satu terminologi paling unik yang wajib kamu tahu saat mengolah manuskrip Arab adalah majāmī' (bentuk jamak dari kata majmū'). Istilah majāmī' merujuk pada kumpulan beberapa naskah atau karya yang berbeda, namun disatukan ke dalam satu jilid buku fisik untuk tujuan pendidikan atau perlindungan preservasi. 

Kadang kala, satu jilid fisik majāmī' ini bisa memuat lebih dari 100 judul karya yang berbeda-beda (Click et al., 2016). Selain itu, kamu juga bakal sering ketemu dengan status kepemilikan sejarah berupa waqf (wakaf), di mana naskah tulisan tangan tersebut sengaja didonasikan oleh tokoh tertentu atau keluarganya kepada masjid dan madrasah agar bisa dipelajari oleh para akademisi di masa lalu (Click et al., 2016).

Jenis-Jenis Tulisan dalam Manuskrip

Membaca manuskrip Arab itu ibarat kita sedang mengapresiasi sebuah karya seni tingkat tinggi. Sebagian besar judul dan teks utama di dalam manuskrip tidak ditulis dengan huruf standar, melainkan menggunakan seni tulisan tangan khas Arab yang dikenal dengan istilah khaṭ (kaligrafi). Dalam sejarah peradaban Islam, ada banyak sekali gaya kaligrafi yang digunakan oleh para penyalin teks, di antaranya yang paling populer adalah gaya Kūfī, Naskhī, Ṡuluṡ, dan Riq'ah (Ismail et al., 2011).

Sebagai seorang pustakawan, biasanya kamu tidak akan menemui banyak kesulitan jika teks tersebut ditulis dengan gaya yang umum dan sederhana seperti Naskhī atau Ṡuluṡ. Namun, tantangan terbesarnya muncul ketika penyalin naskah zaman dulu menggunakan gaya tipografi atau ornamen grafis yang saling tumpang tindih demi memperindah halaman awal naskah (Ismail et al., 2011). Akibatnya, huruf-hurufnya menjadi sangat rumit untuk dibaca dan ditebak vokalisasinya (harakatnya) sehingga pustakawan pemula sangat berisiko salah dalam menuliskan judul aslinya di katalog perpustakaan.

Istilah Kondisi dan Preservasi Manuskrip

Manuskrip adalah harta karun budaya sebuah bangsa yang wujud fisiknya sangat rentan terhadap kerusakan. Banyak koleksi manuskrip Islam yang hancur akibat tragedi peperangan atau konflik politik (seperti peristiwa Arab Spring di Timur Tengah), serta mengalami pemburukan kondisi fisik karena ditaruh di ruang penyimpanan (storage) yang buruk tanpa alat pengontrol suhu lingkungan (Click et al., 2016).

Saat mendeskripsikan kondisi fisiknya, kamu akan sering mendapati kertas naskah yang sudah sangat rapuh, berlubang dimakan serangga, atau tintanya yang mulai memudar. Oleh karena itu, penanganan fisiknya wajib menggunakan alat bantu khusus demi keamanan atau preservasi. Standar internasional mengharuskan kita memakai sarung tangan katun (cotton gloves) saat membalik halamannya, serta menggunakan bantal penyangga punggung buku (spin support cushions) dan pita pengikat (ribbons) agar jilidan naskah yang usianya sudah ratusan tahun itu tidak patah saat dibuka (Click et al., 2016).

Pengenalan Katalogisasi Manuskrip (Kodikologi)

Ini dia bagian akhirnya: memasukkan data peninggalan masa lalu ini ke sistem komputer perpustakaan! Mengatalog naskah kuno itu level kesulitannya jauh lebih tinggi daripada buku cetakan modern. Memasukkan informasi bibliografis standar seperti "judul" dan "pengarang" saja tidaklah cukup. Kamu diwajibkan untuk mencatat informasi kodikologis, yaitu ciri-ciri spesifik fisik dari buku tersebut (Sayyid, 1998, dalam Click et al., 2016). 

Data kodikologi ini meliputi catatan mendetail tentang jenis kertas yang dipakai, keberadaan cap air, jenis tinta, hingga iluminasi (hiasan) di pinggir halaman, yang membuktikan bahwa salinan naskah tersebut benar-benar unik dan berbeda dari salinan lain di seluruh dunia.

Tantangan paling epik adalah saat kamu harus mengatalog manuskrip berjenis majāmī' (kumpulan naskah) tadi. Kamu harus membedah isi buku tersebut dengan sangat cermat. Praktik yang paling ideal adalah pustakawan harus membuat entri atau cantuman metadata yang terpisah untuk setiap karya di dalamnya (misalnya membuat 100 cantuman terpisah untuk 1 jilid fisik majāmī') agar setiap teks ilmu di dalamnya bisa dilacak secara individu dan saling terhubung di mesin pencarian katalog (Click et al., 2016).

Akhir Kata

Wah, ternyata kerjaan mengolah manuskrip kuno itu seru dan menantang banget, ya! Kita diajak jadi detektif forensik yang menyelamatkan jejak sejarah peninggalan masa lalu agar tidak hilang ditelan zaman, mulai dari urusan mengurai kaligrafinya yang rumit, melindungi kertasnya dari kerusakan, sampai meracik cantuman kodikologinya dengan teliti.

Nah, sebagai bahan refleksi buat kamu nih sambil ngerjain tugas: Coba bayangkan kalau sebuah perpustakaan punya koleksi majāmī' bersejarah yang di dalamnya memuat puluhan karya pemikir besar masa lalu, tapi pustakawannya malas membedahnya dan cuma mencatat "Satu Jilid Kumpulan Naskah" di sistem katalog (OPAC). Kira-kira, apa dampak kerugian terbesarnya buat mahasiswa, peneliti sejarah, atau dosen kalian yang lagi desperate mencari rujukan teks yang sangat spesifik dari naskah tersebut?