Ingin mendapatkan informasi terkini langsung ke WhatsApp Anda? Ikuti Channel saya!

Jangan Asal Ambil Nama Belakang! Trik Jitu Bikin Titik Akses Katalog Literatur Arab

Buku Arab susah dicari di OPAC? Yuk, pelajari cara menentukan tajuk utama dan rahasia menata nama penulis klasik buat katalogmu!
Foto oleh sirmudi_photography dari Pexels


Pernah nggak sih kalian lagi hectic nyari referensi buat bab dua skripsi dan butuh banget kitab karangannya Imam Al-Ghazali? Kalian dengan pede mengetik nama aslinya secara lengkap, "Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad", di komputer perpustakaan. Tapi anehnya, hasil pencariannya malah zonk alias kosong melompong. Eh, pas iseng ngetik "al-Gazālī", tiba-tiba muncul puluhan buku.

Atau mungkin kalian pernah memegang satu buku berbahasa Arab yang kover depannya super penuh. Di situ ada nama penulis asli teksnya, ada nama penulis komentar tambahannya, sampai ada nama editornya. Terus kalian mikir, "Kalau disuruh input ke komputer perpustakaan, nama siapa nih yang bakal aku jadikan bintang utamanya biar buku ini gampang dicari orang lain?"

Masalah kayak gini sering banget bikin mahasiswa Ilmu Perpustakaan overthinking. Di sinilah ilmu tentang Titik Akses (access point) bermain. Kalau kita sampai salah menentukan nama di dalam sistem katalog, buku-buku keren itu bakal jadi "harta karun yang hilang" dan susah banget ditemukan oleh pemustaka. Biar kalian nggak bingung saat magang nanti, yuk kita bedah cara jitu menata titik akses buat literatur Arab!

Si Bintang Utama: Penentuan Tajuk Utama

Di dalam dunia katalogisasi, tajuk utama (main entry) adalah titik akses pertama yang dipilih untuk mewakili sebuah bahan pustaka di dalam katalog. Intinya, ini jatuh pada nama kreator atau orang yang paling bertanggung jawab atas isi pemikiran di buku tersebut (Bowman, 2003). Nah, literatur Arab punya keunikan yang sering bikin pustakawan terkecoh karena halaman depannya penuh dengan istilah teknis.

Biasanya kalian akan menemukan istilah seperti ta'līf (dikarang oleh), taḥqīq (diedit atau diverifikasi oleh), atau syarḥ (dikomentari oleh) (Ismail et al., 2014). 

Hati-hati saat menemukan buku yang isinya adalah hasil komentar panjang lebar (syarḥ) terhadap suatu kitab klasik. Aturan internasional menyebutkan bahwa jika karya tersebut secara dominan dipresentasikan sebagai karya si pembuat komentar, maka tajuk utamanya jatuh ke tangan si komentator tersebut, bukan penulis naskah aslinya (Bell, 2015). Jangan sampai salah ya!

Para Aktor Pendukung: Tajuk Tambahan

Kalau tajuk utama cuma boleh ada satu, nah tajuk tambahan (added entry) boleh ada banyak! Fungsinya ibarat jaring pengaman agar pengguna perpustakaan tetap bisa nemuin bukunya lewat nama pihak lain yang ikut berjasa. Di buku-buku cetakan Arab, peran seorang muḥaqqiq (editor akademis yang meneliti dan memverifikasi manuskrip kuno agar bisa dicetak modern) itu sangat dihargai (Ismail et al., 2014). Jadi, nama muḥaqqiq atau penerjemah ini wajib banget dibikinkan titik akses tambahan.

Selain itu, tajuk tambahan juga dipakai buat mengamankan variasi judul. Pengarang Arab zaman dulu suka banget bikin judul kitab yang sangat panjang dan bersajak puitis, kadang digabung dengan kata wa-yalīhi (yang diikuti oleh) (Ismail et al., 2014). Sebagai pustakawan, kalian cukup mengambil judul utamanya saja sebagai tajuk judul, sementara frasa puitis sisanya disimpan sebagai tajuk tambahan variasi judul biar mesin pencari OPAC tetap bisa melacaknya.

Seni Menulis Nama Pengarang Klasik dan Kontemporer

Ini dia tantangan paling epiknya: menentukan susunan nama pengarang! Penulisan nama penulis Arab itu aturannya dibedakan berdasarkan zaman hidup mereka. Kalau berhadapan dengan pengarang kontemporer (hidup di abad ke-19 dan ke-20 ke atas), aturannya gampang banget karena mereka sudah mengadopsi sistem nama keluarga (surname). Jadi, kita tinggal ambil elemen paling belakang sebagai nama di daftar entri (Dagher dan Soufi, 2021).

Tapi, beda cerita dengan tokoh klasik. Mereka tidak mengenal nama keluarga. Nama mereka super panjang karena merupakan gabungan dari ism (nama depan), nasab (silsilah ayah), kunyah (julukan relasi keluarga), laqab (nama sifat), dan nisbah (asal daerah) (Dagher dan Soufi, 2021). Standar pengatalogan mewajibkan kita memasukkan nama penulis klasik murni berdasarkan bagian nama yang paling terkenal atau yang paling sering dirujuk sejarah, dan jika ada kata sandang al- di bagian depannya, kata tersebut diabaikan saja dalam pengurutan abjad (Dagher dan Soufi, 2021). Makanya nama al-Gazālī jauh lebih mudah ditemukan ketimbang nama aslinya.

Praktik Bikin Kartu Katalog Sederhana

Setelah datanya terkumpul, kita harus meraciknya ke dalam bahasa sistem komputer (metadata) menggunakan format MARC21. Tajuk nama pengarang utama biasanya dimasukkan ke dalam Tag 100, lalu judul utamanya ditaruh di Tag 245, dan tajuk tambahan untuk aktor pendukung seperti editor ditaruh di Tag 700 (Kao, 2001).

Mari kita simulasikan! Misalnya ada kitab karangan tokoh klasik bernama 'Alī bin Muḥammad ibn al-Ḥasan ibn Zayn al-Dīn al-'Āmilī yang kemudian diedit (taḥqīq) oleh tokoh modern Musytāq al-Zaydī (Bell, 2015). 

Di dalam sistem, kalian akan mengisi Tag 100 dengan tajuk "Ibn Zayn al-Dīn, 'Alī bin Muḥammad" karena itu adalah elemen silsilahnya yang paling populer. Setelah mengisi judulnya di Tag 245, kalian tinggal mengisi Tag 700 dengan tajuk "al-Zaydī, Musytāq" sebagai tambahan untuk sang editor. Rapi dan searchable, kan?

Penutup

Ternyata, menentukan satu nama untuk dijadikan "kunci" pencarian di katalog itu butuh insting detektif yang kuat dan tidak bisa asal comot kata paling belakang saja. Semuanya dilakukan demi satu tujuan: memudahkan teman-teman kita menemukan literatur yang tepat!

Nah, sebagai bahan refleksi buat kalian nih sambil ngopi: Coba bayangkan kalau setiap perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia punya kebijakan suka-suka sendiri dalam menentukan "nama mana yang paling terkenal" dari tokoh Arab klasik, kira-kira hambatan apa saja ya yang bakal dialami mahasiswa kalau mereka mau menelusuri literatur antar-kampus lewat portal repositori nasional?