Seberapa Luas Isi 'Koper' Bahasamu?
![]() |
| Foto oleh Vlada Karpovich dari Pexels |
Bayangkan kamu lagi asyik ngopi di kantin bareng sirkel BEM-mu. Kamu ngobrol santai pakai bahasa campur-campur: "Ana kemaren telat banget masuk kelas Nahwu, dosennya udah natep tajam, kena mental deh gue."
Tiba-tiba, Ketua Jurusan ikut duduk di meja kalian. Secara otomatis, tanpa disuruh, tulang punggungmu tegak dan gaya bahasamu langsung berubah 180 derajat menjadi: "Selamat siang, Bapak. Mohon maaf, apakah ada arahan untuk acara seminar jurusan minggu depan?"
Kenapa kamu merasa "wajib" untuk langsung menukar style bahasamu begitu ada orang dengan status sosial berbeda masuk ke dalam kelompokmu?
Dari mana kamu belajar "aturan tak tertulis" kapan harus pakai bahasa yang rumit (resmi) dan kapan cukup pakai bahasa yang simple (santai)?
Fenomena "ganti setting bahasa" secara real-time ini membuktikan bahwa kita adalah bagian dari sebuah masyarakat tutur yang punya norma bersama, dan masing-masing dari kita dibekali semacam "koper" berisi ragam bahasa yang kita sesuaikan dengan kelas sosial dan situasi. Yuk, kita bedah teorinya!
Konsep Kunci
| Topik Utama | Inti Bahasan (Key Takeaways) |
|---|---|
| Bahasa & Tutur | Langue: Sistem tata bahasa universal di kepala masyarakat (abstrak). Parole: Praktik nyata bahasa yang diucapkan tiap individu sehari-hari (konkret). |
| Masyarakat Tutur | Sekelompok orang yang bukan cuma bahasanya sama, tapi juga punya norma dan aturan main yang disepakati bersama dalam berkomunikasi. |
| Khazanah Verbal | (Verbal Repertoire). "Kotak perkakas" bahasa milik seseorang. Makin sering bergaul, makin banyak koleksi ragam/kode bahasa yang dikuasai. |
| Bahasa & Kelas Sosial | Cara kita ngomong mencerminkan status sosial. Ada Kode Terperinci (baku/kompleks) untuk kaum terpelajar, dan Kode Terbatas (santai/kasual) untuk inner circle. |
Bahasa (Langue) dan Tutur (Parole)
Bapak linguistik modern, Ferdinand de Saussure, memberikan fondasi penting dalam melihat bahasa melalui pemilahan konsep langue dan parole [Suhardi & Murniah, 2009].
Secara sederhana, langue adalah sistem bahasa atau keseluruhan kaidah tata bahasa (grammatical rules) yang ada di dalam benak seluruh anggota masyarakat tutur secara kolektif dan bersifat abstrak [Tricahyo, 2021].
Sementara itu, parole adalah wujud nyata dari sistem tersebut, yakni praktik tuturan atau ujaran yang dieksekusi langsung oleh tiap individu dalam kehidupan sehari-hari [Tricahyo, 2021].
Linguistik tradisional biasanya hanya fokus membedah langue (seperti rumus tata bahasa murni) secara kaku di belakang meja. Namun, sosiolinguistik justru sangat peduli pada ranah parole karena praktik nyata bahasa ini selalu dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial di sekitar penuturnya sehingga menjadikannya sangat bervariasi [Suhardi & Murniah, 2009].
Poin Elaborasi:
- Langue bersifat sosial (dimiliki bersama) tetapi abstrak (ada di pikiran).
- Parole bersifat individual (diproduksi per orang) dan konkret (diucapkan).
Contoh Konkret: Sebagai mahasiswa Sastra Arab, kamu tahu aturan Mubtada' Khabar secara teori di kepala (itu langue). Tapi pas kamu ngobrol pake bahasa Arab dengan temanmu, kadang kamu pakai dialek Mesir ('Amiyah) yang nggak pakai aturan itu dengan kaku (itu parole).
Masyarakat Tutur (Speech Community)
Dulu, para tokoh linguistik murni seperti Noam Chomsky menganggap bahwa masyarakat tutur itu homogen alias seragam sempurna [Suhardi & Murniah, 2009]. Kenyataannya, pandangan ini dianggap fiktif dalam kacamata sosiolinguistik karena masyarakat di dunia nyata itu sangat heterogen.
William Labov mendefinisikan bahwa masyarakat tutur bukanlah sekadar sekumpulan orang yang memakai bahasa yang sama, melainkan kelompok yang berpartisipasi dalam "seperangkat norma bersama" (shared norms) terhadap bahasa [Suhardi & Murniah, 2009; Malabar, 2015].
Artinya, mereka sepakat tentang bahasa mana yang dianggap halus, bahasa mana yang kasar, dan kapan bahasa itu pantas digunakan. Di sisi lain, Gumperz menekankan bahwa masyarakat tutur terbentuk karena adanya interaksi dan komunikasi yang teratur dalam suatu wilayah [Malabar, 2015].
Poin Elaborasi:
- Definisi tradisional (Lyons): Masyarakat tutur = orang yang bahasanya sama.
- Definisi Sosiolinguistik (Labov & Gumperz): Masyarakat tutur = ada interaksi intens dan ada norma kebahasaan yang disepakati bersama.
Contoh Konkret: Mahasiswa jurusan Sastra Arab UIN dan kumpulan fans K-Pop di Jakarta sama-sama berbahasa Indonesia. Tapi mereka adalah dua masyarakat tutur yang berbeda karena norma penilaiannya beda (Mahasiswa Arab biasa menyapa "Akhi/Ukhti", sementara fans K-Pop memakai istilah "Oppa/Eonni").
Khazanah Verbal (Verbal Repertoire)
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak hanya menguasai satu jenis gaya bahasa baku saja. Setiap anggota guyub tutur secara tidak sadar memiliki "kotak perkakas" bahasa yang disebut khazanah verbal (verbal repertoire) [Suhardi & Murniah, 2009].
Khazanah verbal adalah bentangan atau rentang variasi linguistik yang dimiliki seseorang, yang memungkinkannya untuk berfungsi secara tepat dalam berbagai ranah (domain) komunikasi [Suhardi & Murniah, 2009].
Semakin luas pergaulan dan mobilitas seseorang, biasanya khazanah verbalnya semakin kaya.
Pemilihan bahasa dari "kotak perkakas" ini sangat ditentukan oleh ranah atau domain komunikasinya, yang meliputi partisipan, tempat, dan topik [Holmes & Wilson, 2017].
Poin Elaborasi:
- Khazanah verbal tiap individu berbeda-beda tergantung latar belakang pendidikan dan pergaulannya.
- Pemakaian khazanah verbal diatur oleh ranah (domain) sosial, seperti ranah keluarga, ranah pendidikan, ranah agama, atau ranah kerja.
Contoh Konkret: Khazanah verbal (verbal repertoire) seorang mahasiswa Sastra Arab bisa berisi: Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah (dipakai saat sidang skripsi), Bahasa Gaul/Prokem Jaksel (dipakai di media sosial), Bahasa Jawa Ngoko (dipakai ke keluarga di kampung), dan Bahasa Arab (dipakai saat lomba debat bahasa Arab).
Bahasa dan Tingkat Sosial Masyarakat
Bahasa yang kita ucapkan ibarat "KTP" sosial kita; ia bisa mencerminkan dari kelas mana kita berasal. William Labov membuktikan bahwa ada korelasi kuat antara variasi pelafalan seseorang dengan kelas sosialnya di perkotaan [Tricahyo, 2021].
Ahli lain, Basil Bernstein, membagi ragam bahasa penutur berdasarkan kelas sosial menjadi dua: Kode Terperinci (Elaborated Code) yang kompleks, baku, mandiri dari konteks, dan biasa dipakai kaum terpelajar; serta Kode Terbatas (Restricted Code) yang kalimatnya pendek, banyak kata ganti "kamu/mereka", dan sangat bergantung pada konteks tongkrongan inner circle [Tricahyo, 202].
Selain kelas ekonomi/pendidikan, di beberapa masyarakat terdapat tingkat tutur (seperti krama/ngoko di Jawa atau Bali) yang digunakan untuk merepresentasikan jarak sosial dan rasa hormat berdasarkan kasta, kekayaan, atau usia [Malabar, 2015].
Poin Elaborasi:
- Elaborated Code: Sering dipakai kelas menengah-atas, kalimat kompleks, jelas, logis.
- Restricted Code: Sering dipakai kelas pekerja/antar-teman akrab, kalimat terpotong, maknanya hanya dimengerti kelompoknya sendiri.
- Stratifikasi sosial (seperti bangsawan, pejabat) melahirkan Tingkat Tutur (speech levels).
Contoh Konkret: Di komunitas keturunan Arab di Kelurahan Kauman Pekalongan, strata sosial terlihat dari bahasanya. Terdapat hierarki bahasa Arab Tinggi dan Rendah. Misalnya, menyebut orang tua dengan kata "Syaiban" (Tinggi/Hormat) vs "Kharrat" (Rendah/Kasar) tergantung pada status sosial ekonomi dan kedekatan penuturnya [Tricahyo, 2021].
Pertanyaan Refleksi
- Menurut Ferdinand de Saussure, konsep bahasa dibagi menjadi dua, yakni langue dan parole. Jelaskan dengan bahasamu sendiri perbedaan antara keduanya, dan sebutkan mana yang menjadi fokus utama dalam kajian sosiolinguistik!
- William Labov menolak gagasan linguistik tradisional yang mendefinisikan Masyarakat Tutur (Speech Community) sekadar sebagai "kumpulan orang yang menggunakan bahasa yang sama". Menurut pandangan sosiolinguistik Labov, sekelompok orang baru bisa disebut sebagai satu masyarakat tutur jika mereka memiliki "norma bersama" (shared norms). Identifikasikan, apakah mahasiswa di kampusmu dan preman di terminal terdekat dapat dikategorikan ke dalam satu masyarakat tutur yang sama? Berikan argumentasi logismu berdasarkan teori Labov!
- Teori Basil Bernstein membagi gaya komunikasi menjadi Elaborated Code (kode terperinci) dan Restricted Code (kode terbatas). Coba bayangkan kamu sedang membuat draf naskah pidato untuk diucapkan oleh Ketua BEM di depan Rektorat, lalu membandingkannya dengan transkrip voice note obrolanmu dengan sahabat terdekatmu. Analisislah mengapa pemakaian Restricted Code justru jauh lebih efektif dan menunjukkan solidaritas yang tinggi saat berkomunikasi dengan sahabat, dibandingkan jika kamu menggunakan Elaborated Code!
- Dalam kajian bahasa dan tingkat sosial, kita mengetahui adanya fenomena Tingkat Tutur (seperti ngoko-krama pada bahasa Jawa, atau penggunaan bahasa Arab berkelas vs pasaran pada komunitas keturunan Arab di Pekalongan). Di masa lampau, hal ini dijunjung tinggi sebagai bentuk kesantunan dan hierarki sosial. Namun, di era digital modern saat ini, banyak generasi muda (Gen-Z) yang menganggap bahwa "kasta bahasa" semacam ini menciptakan ketidaksetaraan (inequality) dan lebih memilih bahasa Indonesia atau bahasa gaul yang sifatnya egaliter (setara untuk semua orang tanpa memandang usia/jabatan). Evaluasilah nasib "Tingkat Tutur" di era modern ini. Apakah fenomena memudarnya penggunaan bahasa hierarkis (tingkat tutur) di kalangan anak muda merupakan bentuk hilangnya tata krama budaya (cultural loss), ataukah itu merupakan wujud pemberontakan positif terhadap stratifikasi sosial kelas atas yang opresif?

Gabung dalam percakapan