Ingin mendapatkan informasi terkini langsung ke WhatsApp Anda? Ikuti Channel saya!

Satu Bahasa Beda Rasa atau Beda Bahasa Tapi Serasa

Foto oleh Pixabay


Bayangkan kamu sedang study tour ke Mesir. Secara teori, kamu merasa sangat percaya diri karena sudah menguasai Nahwu-Shorof (tata bahasa Arab baku). Tapi saat kamu jajan falafel di pinggir jalan Kairo dan mendengar pedagangnya mengobrol dengan temannya pakai dialek 'Amiyah Mesir yang super cepat, kamu malah blank dan merasa seperti sedang mendengar bahasa dari planet lain! 

Padahal secara resmi, Mesir itu negara berbahasa Arab, sama dengan Arab Saudi.

Kenapa dialek lokal ('Amiyah) Mesir dan dialek lokal Irak bisa terdengar sangat berbeda hingga saling tidak paham, tapi secara politik keduanya tetap diklaim sebagai "satu bahasa" yaitu Bahasa Arab?

Siapa sih sebenarnya yang berhak menentukan bahwa sebuah cara bicara itu pantas disebut "Bahasa" yang mandiri, dan yang lainnya cuma sekadar "Dialek" rendahan?

Realitasnya, batas antara bahasa dan dialek itu seringkali bukan ditentukan oleh rumus grammar, melainkan oleh siapa yang punya "kekuatan politik" dan "identitas sosial"—fenomena inilah yang akan kita bongkar hari ini, lengkap dengan cerita lahirnya bahasa-bahasa "darurat" seperti Pidgin dan Creole!

Konsep Kunci

Topik Utama Inti Bahasan (Key Takeaways)
Bahasa vs Dialek Perbedaan keduanya seringkali politis, bukan linguistis. "Bahasa adalah dialek yang punya angkatan bersenjata."
Lingua Franca Bahasa perantara yang dipakai oleh kelompok-kelompok yang tidak punya bahasa ibu yang sama (contoh: Bahasa Inggris, Bahasa Arab Fusha).
Pidgin & Creole Pidgin: Bahasa darurat/kontak, struktur simpel, nggak punya penutur asli.
Creole: Pidgin yang diwariskan ke anak-anak dan menjadi bahasa ibu/pertama.
Jenis Bahasa (Sosiopolitik) Vernakular (bahasa ibu lokal), Standar (dibakukan, bergengsi), Nasional (simbol identitas), Resmi (digunakan untuk birokrasi negara).
7 Kriteria Pembeda Kriteria Bell (dalam Wardhaugh): Standardisasi, Vitalitas, Historisitas, Otonomi, Reduksi, Campuran, Norma De Facto.

Bahasa dan Dialek

Dalam kacamata sosiolinguistik, membedakan "bahasa" dan "dialek" itu susah-susah gampang. Secara teori linguistik murni, dua variasi disebut dialek dari satu bahasa yang sama jika penuturnya masih bisa saling memahami (mutual intelligibility). 

Tapi di dunia nyata, hukum ini sering dilanggar karena faktor politik dan identitas sosial [Wardhaugh, 2015]. Misalnya, Bahasa Mandarin dan Kanton di Cina itu secara lisan sama sekali tidak saling dimengerti (seperti bahasa Jerman dan Belanda), tapi orang Cina sepakat menyebutnya sebagai "satu bahasa" demi persatuan politik dan karena sistem tulisannya sama [Wardhaugh, 2015]. 

Hal yang sama terjadi di dunia Arab; dialek Maroko dan dialek Irak mungkin tidak bisa saling memahami, tapi karena ikatan sejarah, agama, dan kiblat pada Modern Standard Arabic (Fusha), semuanya sepakat itu adalah "Bahasa Arab" [Wardhaugh, 2015]. Makanya, muncul kelakar sosiolinguis terkenal:

"A language is a dialect with an army and a navy" (Bahasa hanyalah sebuah dialek yang punya pasukan militer dan kekuasaan).

Lingua Franca

Lingua franca adalah bahasa yang disepakati untuk dipakai berkomunikasi oleh orang-orang yang bahasa pertamanya (bahasa ibunya) berbeda [Holmes & Wilson, 2017]. Lingua franca ini semacam "bahasa jembatan". 

Di seluruh dunia Arab, ragam bahasa Arab Klasik/Fusha digunakan sebagai lingua franca di antara kaum terpelajar [Holmes & Wilson, 2017]. Di Indonesia, sebelum ada Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu Pasar sudah berabad-abad menjadi lingua franca di jalur perdagangan rempah-rempah Nusantara.

Pidgin dan Creole (Bahasa "Darurat" yang Bertransformasi)

Ini adalah bagian paling seru dari fenomena kontak bahasa!

Pidgin

Pidgin adalah bahasa kontak yang muncul ketika dua kelompok (atau lebih) yang tidak punya bahasa sama sekali, terpaksa harus berkomunikasi (biasanya untuk urusan dagang atau di perkebunan masa penjajahan). 

Pidgin punya ciri khas: fungsinya sangat terbatas, tata bahasanya sangat disederhanakan (grammar ala kadarnya), tidak ada tenses yang rumit, dan tidak memiliki penutur asli alias bukan bahasa ibu siapapun [Holmes & Wilson, 2017; Romaine, 2000].

Creole

Kalau bahasa Pidgin tadi terus dipakai dalam waktu lama sampai orang-orang itu menikah dan punya anak, anak-anak mereka akan tumbuh dengan menjadikan Pidgin itu sebagai bahasa ibu mereka. 

Ketika Pidgin sudah mendapatkan penutur asli (nativisasi) dan strukturnya menjadi kompleks (kosakatanya bertambah banyak untuk segala urusan hidup), maka ia naik kelas menjadi Creole [Holmes & Wilson, 2017: 95; Romaine, 2000].

Contoh Konkret: Juba Arabic di Sudan Selatan berawal dari bahasa Pidgin untuk urusan dagang yang menyederhanakan morfologi bahasa Arab murni, tapi seiring waktu berkembang dan stabil menjadi kreol di wilayah tersebut [Holmes & Wilson, 2017].

Jenis Bahasa berdasarkan Sosiologis, Politik, dan Pemerolehan

Secara sosiopolitik, bahasa di sebuah negara itu ada "kasta" atau peranannya masing-masing [Holmes & Wilson, 2017]:

Bahasa Vernakular (Pemerolehan)

Bahasa yang tidak dibakukan (tidak punya kamus resmi), diwariskan turun-temurun di rumah, dan dipakai untuk hal-hal santai. Contoh: Bahasa daerah/bahasa ibu.

Bahasa Standar (Sosiologis)

Dialek tertentu yang karena faktor politik/ekonomi "dimenangkan", lalu dibakukan (dibuatkan kamus dan tata bahasa resmi), dan diajarkan di sekolah-sekolah formal.

Bahasa Nasional (Politik - Identitas)

Bahasa yang diangkat oleh negara untuk fungsi ideologis, sebagai simbol persatuan dan identitas bangsa Contoh: Bahasa Indonesia dalam Sumpah Pemuda.

Bahasa Resmi/Official (Politik - Utilitarian)

Bahasa yang secara hukum diakui oleh negara untuk keperluan birokrasi, dokumen hukum, dan operasional negara. Di Indonesia, Bahasa Nasional dan Bahasa Resmi kita kebetulan sama, yaitu Bahasa Indonesia. Tapi di Singapura, bahasa nasionalnya Melayu, tapi bahasa resminya ada empat: Inggris, Mandarin, Melayu, Tamil.

Tujuh Kriteria Pembeda Bahasa (Teori Bell)

Untuk mengukur apakah suatu sistem komunikasi itu layak disebut "Bahasa" yang mapan atau cuma "Dialek", sosiolinguis (Bell, dalam Wardhaugh 2015) merumuskan tujuh kriteria utama:

  1. Standardisasi: Apakah bahasa itu punya aturan tata bahasa dan kamus yang baku?
  2. Vitalitas: Apakah bahasa itu masih memiliki penutur asli yang hidup dan aktif menggunakannya?
  3. Historisitas: Apakah penuturnya merasa bahasa itu adalah warisan leluhur yang mengikat identitas sejarah mereka?
  4. Otonomi: Apakah penutur merasa bahasanya mandiri dan berbeda mutlak dari bahasa tetangganya?
  5. Reduksi: (Sering terjadi pada dialek) Apakah bahasa tersebut dianggap sebagai bentuk "turunan" atau variasi yang direduksi dari sebuah bahasa standar?
  6. Campuran: Apakah penutur merasa bahasanya itu "murni", atau mereka sadar itu hasil campur-aduk (seperti Pidgin)?
  7. Norma De Facto: Apakah ada semacam kesepakatan sosial tak tertulis di masyarakat mengenai "cara berbahasa yang baik dan benar" yang ditiru semua orang?

Pertanyaan Refleksi

  1. Sebutkan perbedaan paling mendasar antara bahasa Pidgin dan bahasa Creole berdasarkan status "penutur asli"-nya menurut Holmes & Wilson!
  2. Dalam konsep sosiopolitik suatu negara, terdapat istilah Bahasa Nasional dan Bahasa Resmi. Mengacu pada penjelasan di atas, mengapa sebuah negara bisa memiliki hanya satu Bahasa Nasional (sebagai identitas), namun bisa memiliki lebih dari dua Bahasa Resmi untuk operasional negaranya? Berikan argumentasi logismu!
  3. Jika kita menggunakan teori mutual intelligibility (keterpahaman timbal balik) yang kaku dalam linguistik murni, dialek 'Amiyah Maroko dan dialek 'Amiyah Mesir seharusnya diklasifikasikan sebagai "dua bahasa yang berbeda". Namun nyatanya, keduanya tetap diakui di dunia internasional sebagai "Satu Bahasa Arab". Gunakan konsep "Otonomi" dan "Historisitas" dari Tujuh Kriteria Pembeda Bahasa untuk menjelaskan mengapa fenomena politik identitas ini bisa menumbangkan teori linguistik murni!
  4. Saat ini di wilayah Jakarta dan kota besar lainnya, anak muda mulai membentuk variasi bahasa "Jaksel" yang secara masif mencampurkan bahasa Indonesia dengan kosakata, idiom, dan bahkan struktur sintaksis bahasa Inggris. Beberapa pengamat mengklaim ini adalah fase awal pembentukan Pidgin modern di era digital. Apakah "Bahasa Jaksel" memenuhi syarat untuk disebut sebagai Pidgin yang kelak bisa menjadi Creole? Bandingkan dengan definisi Pidgin: fungsi terbatas, bahasa kontak karena tidak ada kesamaan bahasa ibu, simplifikasi struktur. Ataukah ini murni hanya sebuah sosiolek/campur kode untuk gaya hidup? Berikan alasan akademismu!