Ingin mendapatkan informasi terkini langsung ke WhatsApp Anda? Ikuti Channel saya!

Sadar Nggak Sih Kalau Lidah dan Grammar Kita Sering 'Keseleo'?

Foto oleh Tima Miroshnichenko dari Pexels


Bayangkan kamu lagi nugas terjemahan bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Karena kamu terbiasa dengan struktur bahasa daerah atau bahasa lisanmu, kamu tanpa sadar nulis, "Buku ini miliknya Zaid", atau saat menerjemahkan struktur kalimat Arab yang mendahulukan fi'il (kata kerja), kamu refleks menulis "Telah datang dosen itu ke kelas." (padahal di bahasa Indonesia yang baku harusnya subjek duluan). 

Di sisi lain, setiap hari kita santai saja menggunakan kata kertas, kursi, makalah, atau musyawarah tanpa merasa sedang ngomong bahasa Arab.

Mengapa kebiasaan dari bahasa pertama (bahasa ibu) kita sering "bocor" dan seolah merusak susunan bahasa kedua yang sedang kita pelajari?

Lalu, apa bedanya "kebocoran" atau "keseleo" tata bahasa tersebut dengan kata-kata serapan (seperti kursi atau kabar) yang sudah kita anggap lazim dan baku?

Fenomena "keseleo" yang melanggar aturan baku ini dikenal dengan sebutan Interferensi, sedangkan kata serapan yang sudah membaur sempurna dan diakui masyarakat disebut Integrasi—dua 'anak kandung' dari kontak bahasa yang bakal kita bedah tuntas hari ini!

Konsep Kunci

Topik Utama Inti Bahasan (Key Takeaways)
Kontak Bahasa Bertemunya dua bahasa dalam diri seorang dwibahasawan yang memicu saling pengaruh. Melahirkan fenomena interferensi dan integrasi.
Interferensi "Keseleo Bahasa" (Negatif): Penyimpangan kaidah bahasa yang satu akibat terbawa kebiasaan bahasa lain. Sifatnya perorangan dan dianggap error atau salah.
Contoh Interferensi Bisa terjadi di tataran Fonologis (salah pengucapan huruf), Morfologis (salah tempel imbuhan), atau Sintaksis (salah susunan kalimat).
Integrasi "Naturalisasi" (Positif/Baku): Unsur bahasa asing/daerah yang diserap, disesuaikan ejaan & pelafalannya, lalu disahkan jadi milik bersama.
Perbedaan Kunci Interferensi: Belum disahkan, merusak kaidah, sering terjadi karena ketidakpahaman.
Integrasi: Sudah disahkan (masuk kamus), disesuaikan kaidahnya, memperkaya bahasa.

Pengertian Interferensi dan Contohnya

Ketika seseorang menguasai dua bahasa (bilingual), otak mereka seringkali secara otomatis mentransfer struktur bahasa pertama ke bahasa kedua. Nah, Interferensi adalah gejala penerapan struktur bahasa yang satu terhadap bahasa yang lain sehingga menimbulkan penyimpangan kaidah (error/kesalahan) [Suhardi & Murniah, 2009].

Interferensi terjadi karena penutur tidak menguasai sepenuhnya kaidah bahasa kedua, atau karena kebiasaan bahasa ibunya sangat kuat [Nuryani et al., 2021]. Berbeda dengan campur kode yang sengaja dilakukan buat gaya-gayaan, interferensi ini sifatnya murni "keseleo" secara leksikal maupun gramatikal. 

Selama ini istilah interferensi selalu dipakai dengan konotasi negatif karena berkaitan dengan perusakan norma atau standar bahasa [Suhardi & Murniah, 2009].

Contoh Konkret Fonologis: Orang Arab tulen sering kesusahan menyebut fonem /p/ karena di bahasa Arab Fusha tidak ada, sehingga mereka melafalkan kata "Polisi" menjadi "Bolisi". Ini adalah interferensi fonologis.

Contoh Konkret Morfologis/Sintaksis: Dalam buku Suhardi & Murniah (2009: 46), dicontohkan seorang bibi berbahasa Jawa yang ngomong bahasa Indonesia ke keponakannya: "Kalo naik (kelas), nanti takbelekke pitik". Kata takbelekke adalah interferensi imbuhan Jawa ta'-ake (saya-kan) yang ditempel paksa ke kata beli, yang maksudnya "saya belikan ayam".

Integrasi Kosakata

Kalau interferensi itu dianggap "ilegal", Integrasi adalah proses "naturalisasi" unsur bahasa asing yang sudah sepenuhnya legal dan sah [Nuryani et al., 2021]. Integrasi adalah penggunaan unsur bahasa lain (biasanya berupa kosakata) secara sistematis seolah-olah unsur tersebut adalah bagian dari bahasanya sendiri. 

Kosakata asing yang masuk ini disesuaikan dengan sistem fonologi (bunyi) dan morfologi (imbuhan) bahasa penerimanya, sehingga masyarakat penuturnya tidak lagi merasa bahwa itu adalah bahasa asing.

Contoh Konkret: Ribuan kosakata bahasa Indonesia merupakan hasil integrasi dari bahasa Arab, seperti kata Kabar (dari Khabar), Musyawarah, Makalah, Kertas, Kursi, hingga Jadwal. Semuanya sudah masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan dilafalkan dengan lidah lokal.

Perbedaan Interferensi dan Integrasi 

Agar nggak bingung membedakan keduanya, kita bisa melihatnya dari kacamata penerimaan masyarakat tutur (akseptabilitas):

  • Segi Kaidah: Interferensi dianggap sebagai penyimpangan/kesalahan dari kaidah bahasa yang baku karena belum disesuaikan. Sebaliknya, integrasi justru sudah menyesuaikan diri dengan kaidah bahasa penerima.
  • Segi Status: Interferensi bersifat sementara, seringkali perorangan (idiolek), dan terjadi pada penutur yang sedang belajar bahasa baru (interlanguage). Sedangkan integrasi bersifat permanen, diakui secara institusional (masuk kamus), dan dipakai oleh seluruh anggota masyarakat.
  • Analogi: Interferensi itu ibarat turis yang melanggar aturan lalu lintas di negaramu karena dia pakai aturan negaranya. Integrasi itu ibarat warga negara asing (WNA) yang sudah pindah kewarganegaraan, dapat KTP, dan taat pada aturan negaramu.

Pertanyaan Refleksi

  1. Berdasarkan penjelasan Suhardi & Murniah (2009), jelaskan apa yang dimaksud dengan Interferensi dan mengapa gejala ini seringkali dikonotasikan secara "negatif" dalam kajian linguistik! Sebutkan satu contoh interferensi fonologis (bunyi) yang sering terjadi di sekitarmu!
  2. Di bawah ini terdapat dua kalimat yang sering diucapkan oleh masyarakat. Analisislah kedua kalimat tersebut! Manakah yang merupakan contoh Interferensi Morfologis (pengaruh imbuhan daerah), dan manakah yang memuat contoh Integrasi Kosakata (dari bahasa Arab)? Jelaskan kriteria perbedaannya secara konseptual!
    • "Anak itu sedang dimarahin sama Ibunya." (Padahal baku-nya: 'dimarahi')
    • "Beliau sedang duduk di atas kursi sambil membaca majalah." 
  3. Kamu adalah seorang guru Bahasa Arab. Kamu menyadari bahwa tulisan esai bahasa Arab murid-muridmu penuh dengan Interferensi Sintaksis, di mana mereka menyusun kalimat bahasa Arab persis seperti struktur Subjek-Predikat-Objek (S-P-O) bahasa Indonesia, bukan Fi'il-Fa'il-Maf'ul Bih (P-S-O). Sebagai pendidik yang paham Sosiolinguistik, strategi edukatif seperti apa yang akan kamu terapkan untuk mengoreksi penyimpangan (interferensi) tersebut tanpa membuat murid merasa "bahasa ibunya" (bahasa Indonesia) disalahkan secara berlebihan?
  4. Sejarah mencatat bahwa bahasa Indonesia adalah "bahasa yang sangat terbuka". Ribuan kosakata bahasa Arab telah mengalami Integrasi ke dalam bahasa Indonesia melalui proses asimilasi fonologis dan pergeseran makna (semantik) yang panjang selama berabad-abad. Namun, seringkali makna asli dari kosakata Arab tersebut menyempit atau bahkan melenceng jauh ketika sudah berintegrasi ke bahasa Indonesia (Contoh: kata 'Kalimat' di bahasa Arab berarti 'kata', tapi di bahasa Indonesia diintegrasikan dengan arti 'susunan kata/sentence'). Lakukan investigasi leksikal! Temukan 5 (lima) kosakata hasil integrasi bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia yang telah mengalami pergeseran/perubahan makna secara signifikan. Analisislah makna asli (dalam bahasa Arab) vs makna hasil integrasi (dalam bahasa Indonesia). Evaluasilah secara kritis: Apakah fenomena "pembelokan makna" dalam proses integrasi ini merupakan bentuk kemunduran/kerusakan pesan, ataukah ini adalah wujud nyata dari kejeniusan budaya lokal dalam mengadaptasi konsep asing (cultural adaptation)? Argumenmu harus merujuk pada konsep penerimaan masyarakat tutur (speech community)!