Ingin mendapatkan informasi terkini langsung ke WhatsApp Anda? Ikuti Channel saya!

Kenapa Kita Nggak Pernah Pakai Bahasa yang Sama?

Foto oleh cottonbro studio dari Pexels


Coba perhatikan aktivitasmu seharian ini: saat presentasi makalah di depan kelas, kamu memakai bahasa Indonesia yang sangat rapi dan terstruktur; tapi begitu jam istirahat dan ngumpul di kantin, kosakatamu berubah total dipenuhi slang seperti "mager", "kepo", atau sapaan khas sirkelmu. 

Begitu pula saat kamu membaca berita di portal online dibandingkan dengan membaca puisi karya Kahlil Gibran, rasa dan pilihan katanya jauh berbeda, padahal sama-sama pakai bahasa.

Kenapa bahasa yang pada dasarnya punya satu aturan baku (seperti KBBI atau tata bahasa) bisa punya wujud yang begitu beragam di dunia nyata?
Apakah perbedaan wujud bahasa ini murni terjadi secara acak, atau ada pola khusus yang mengaturnya?

Realitas bahwa bahasa itu selalu menyesuaikan diri dengan "siapa yang ngomong", "untuk apa", "seberapa formal situasinya", dan "pakai media apa" inilah yang akan kita bedah secara mendalam dalam topik Variasi Bahasa.

Konsep Kunci

Topik Utama Inti Bahasan (Key Takeaways)
Variasi Segi Penutur Bergantung pada siapa yang berbicara. Meliputi: Idiolek (khas individu), Dialek (wilayah), Kronolek (zaman/waktu), dan Sosiolek (status/kelas sosial).
Variasi Segi Pemakaian Bergantung pada bidang/tujuan penggunaannya (disebut Register/Fungsiolek). Contoh: bahasa jurnalistik, sastra, militer, medis.
Variasi Segi Keformalan Bergantung pada situasi. Martin Joos membaginya jadi 5 gaya: Beku (frozen), Resmi (formal), Usaha (consultative), Santai (casual), Akrab (intimate).
Variasi Segi Sarana Bergantung pada medium yang dipakai. Dibedakan menjadi Ragam Lisan (banyak dibantu intonasi/gestur) dan Ragam Tulis (harus jelas strukturnya).

Variasi Bahasa dari Segi Penutur

Variasi bahasa pertama dilihat dari "siapa" penuturnya. Dalam masyarakat, kita tidak hidup homogen, melainkan punya latar belakang asal, umur, dan status sosial yang berbeda [Malabar, 2015]. Perbedaan latar belakang inilah yang melahirkan variasi bahasa dari segi penutur, yang terbagi menjadi empat jenis:

Idiolek

Variasi bahasa yang bersifat sangat personal atau perseorangan. Ibarat sidik jari, setiap orang punya "warna" suara, pilihan kata, atau gaya bicara yang khas [Malabar, 2015].

Dialek (Regional)

Variasi bahasa dari sekelompok penutur di suatu wilayah geografis tertentu. Walaupun bahasanya sama, logat dan kosakatanya bisa beda [Malabar, 2015].

Kronolek (Dialek Temporal)

Variasi bahasa yang digunakan pada kurun waktu atau masa tertentu [Malabar, 2015].

Sosiolek (Dialek Sosial)

Variasi yang berkaitan erat dengan status, pendidikan, dan kelas sosial penuturnya. Ini yang paling kompleks karena memunculkan istilah seperti akrolek (ragam elit bergengsi), basilek (ragam kalangan bawah), slang (bahasa rahasia/gaul anak muda), jargon (kosakata khusus kelompok profesi), dan kolokial (bahasa percakapan sehari-hari) [Malabar, 2015].

Contoh Konkret: Dialek bahasa Arab orang Mesir ('Amiyah Mesir) beda dengan orang Arab Saudi (Dialek Regional). Di sisi lain, slang atau bahasa prokem yang kamu pakai dengan teman tongkrongan adalah contoh dari Sosiolek.

Variasi Bahasa dari Segi Pemakaian

Variasi bahasa yang ini nggak peduli siapa yang ngomong, tapi lebih peduli "bahasa ini dipakai untuk bidang apa?". Variasi ini lazim disebut sebagai Fungsiolek atau Register [Malabar, 2015]. Setiap bidang kehidupan punya gaya dan kekhasan kosakata tersendiri. Ciri yang paling menonjol dari variasi ini ada pada tataran kosakata, meskipun struktur kalimatnya kadang juga mengikuti [Malabar, 2015].

Ragam Jurnalistik

Singkat, padat, lugas. Sering menghilangkan awalan me- atau ber- agar hemat ruang (misal: "Gubernur tinjau lokasi banjir") [Malabar, 2015].

Ragam Sastra

Mengutamakan nilai estetis (keindahan), sering mengorbankan struktur normatif demi eufoni (kemerduan bunyi) dan metafora [Malabar, 2015].

Ragam Ilmiah

Jelas, lugas, baku, dan bebas dari ambiguitas atau makna ganda [Malabar, 2015: 175].

Contoh Konkret: Kata "Operasi". Jika dipakai dalam register medis, artinya pembedahan pasien. Tapi jika dipakai dalam register militer/kepolisian, artinya penertiban atau penyerbuan terencana.

Variasi Bahasa dari Segi Keformalan

Kalau kamu sadar, tingkat kesopanan bahasa kita selalu berubah tergantung situasinya. Tokoh linguistik Martin Joos membagi variasi bahasa berdasarkan tingkat keformalannya (style) ke dalam lima tingkatan pasti [Malabar, 2015]:

Ragam Beku (Frozen)

Paling formal, bahasanya kaku, strukturnya panjang, dan kata-katanya tidak boleh diubah sedikitpun. Dipakai di situasi sangat khidmat.

Ragam Resmi (Formal)

Bahasa baku atau standar yang dipakai di pidato kenegaraan, rapat dinas, dan buku pelajaran.

Ragam Usaha (Consultative)

Paling sering dipakai di keseharian resmi (sekolah, transaksi jual-beli). Operasional, tidak terlalu kaku, tapi juga belum santai.

Ragam Santai (Casual)

Dipakai ngobrol bareng teman/keluarga di waktu santai. Banyak menggunakan kata yang dipendekkan (alegro) dan struktur tidak baku.

Ragam Akrab (Intimate)

Dipakai oleh orang yang hubungannya sudah sangat akrab (sahabat kental/pasangan). Kalimatnya sangat pendek, kadang artikulasinya sengaja dibuat nggak jelas karena satu sama lain sudah paham konteksnya.

Contoh Konkret: (Beku) Teks sumpah jabatan, Al-Qur'an. (Resmi) Makalah skripsi. (Usaha) Ngobrol sama dosen pembimbing. (Santai) Ngopi di kantin. (Akrab) "Yang, ambilin itu dong."

Variasi Bahasa dari Segi Sarana

Variasi ini dilihat dari "jalur" apa yang dipakai untuk menyampaikan bahasa tersebut. Secara garis besar dibagi menjadi dua: ragam lisan dan ragam tulis [Malabar, 2015].

Ragam Lisan

Banyak dibantu oleh unsur non-linguistik (gerak tubuh, mimik muka, intonasi suara). Kalau ada kesalahpahaman, bisa langsung dikoreksi saat itu juga.

Ragam Tulis

Tidak dibantu oleh unsur fisik/suara, sehingga strukturnya harus jauh lebih jelas, rapi, dan eksplisit agar pembaca tidak salah tafsir [Malabar, 2015].

Contoh Konkret: Orang yang lagi marah bisa bilang "Pergi!" secara lisan dengan nada tinggi (maknanya jelas dari nada). Kalau di tulisan, butuh tanda seru atau huruf kapital ("PERGI!") untuk menggantikan intonasi tersebut.

Pertanyaan Refleksi

  1. Sebutkan dan jelaskan lima gaya/ragam bahasa berdasarkan tingkat keformalan yang dikemukakan oleh Martin Joos! Berikan minimal satu contoh situasi penggunaannya untuk masing-masing ragam!
  2. Dalam kelompok variasi sosiolek, kita mengenal istilah "Slang" dan "Jargon". Meskipun keduanya merupakan bahasa khas dari sekelompok orang, keduanya memiliki perbedaan fungsi dan sifat yang sangat mencolok. Jelaskan perbedaan antara Jargon dan Slang berdasarkan sifat kerahasiaan penggunanya menurut referensi Malabar (2015)! Berikan contoh dari kehidupan kampusmu!
  3. Analisislah gaya bahasa mahasiswa ketika berkomunikasi melalui aplikasi WhatsApp atau Line. Jika ditinjau dari Segi Sarana, ia jelas merupakan "Ragam Tulis". Namun, jika ditinjau dari Segi Keformalan, strukturnya lebih sering menyerupai "Ragam Santai/Akrab" atau ragam lisan (penuh singkatan, tidak mematuhi ejaan baku). Strategi apa saja yang dilakukan pengguna bahasa digital (seperti kamu) untuk mengatasi hilangnya "unsur non-linguistik/intonasi" (yang biasanya ada di ragam lisan) saat mengetik pesan santai dalam bentuk tulisan?
  4. Saat ini, marak fenomena berbahasa anak muda Jakarta Selatan (atau di kota besar lainnya) yang sering melakukan percampuran bahasa secara intens (code-mixing bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, seperti "jujurly", "which is", "literally"), atau di kalangan mahasiswa agama yang mencampur dengan bahasa Arab ("afwan akhi, ana lagi futur"). Evaluasilah fenomena bahasa campuran ini! Jika dipetakan menggunakan klasifikasi Variasi Bahasa, apakah fenomena ini pantas dikategorikan sebagai Dialek Sosial (Sosiolek) tipe baru, ataukah sekadar sebuah Register untuk ruang pergaulan? Berikan kesimpulanmu, apakah variasi ini memperkaya atau justru membahayakan kaidah bahasa nasional/standar di masa depan!