Kenapa Kita 'Geli' Sendiri Baca Status Zaman SMP?
![]() |
| Foto oleh Magnus Mueller dari Pexels |
Pernah nggak sih kamu iseng nge-scroll status Facebook atau cuitan Twitter kamu zaman SMP atau SMA dulu? Pasti bawaannya pengen buru-buru hapus akun karena malu melihat ketikan alay penuh singkatan aneh (misal: "aq mw mkn dlu eaps") atau penggunaan slang yang cringe banget kalau dibaca sekarang.
Namun, sadar nggak kalau orang tuamu di grup WhatsApp keluarga punya gaya chat yang beda lagi, biasanya super kaku atau malah penuh dengan emoticon jempol dan mawar merah?
Kenapa gaya bahasa kita bisa berubah drastis dari zaman remaja labil ke masa dewasa atau masa kuliah sekarang?
Apakah ini murni karena perbendaharaan kata kita yang bertambah, ataukah ada "tekanan sosial" (seperti tuntutan profesionalitas) yang diam-diam memaksa kita mengubah cara ngomong?
Ternyata, bahasa yang kita pakai itu punya "fase umur" layaknya manusia; ada masanya ia suka memberontak, dan ada masanya ia jadi sangat tertata—fenomena yang diatur oleh faktor sosial ini bakal kita kupas tuntas dalam materi Variasi Bahasa Berdasarkan Usia (Age-Grading)!
Konsep Kunci
| Topik Utama | Inti Bahasan (Key Takeaways) |
|---|---|
| Hubungan Bahasa & Usia | Penggunaan bahasa berkaitan erat dengan tahapan umur penutur (Age-grading). Makin tinggi usia, makin berubah pilihan kosakatanya. |
| Tuturan Anak-anak | Masih tahap penguasaan bahasa. Sering terjadi reduksi (pengurangan) partikel atau kata hubung. Fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar. |
| Tuturan Remaja | Puncak pemakaian bahasa vernakular/slang. Unik, eksklusif, dan berfungsi sebagai penanda solidaritas kelompok serta pemberontakan norma. |
| Tuturan Dewasa | Lebih mapan, stabil, dan patuh pada kaidah standar/baku. Sangat dipengaruhi oleh tekanan dunia kerja dan tanggung jawab sosial. |
| Faktor Sosial & Age-Grading | Pola bentuk "U": Penggunaan bahasa gaul tinggi di usia remaja, turun (jadi baku) di usia kerja/dewasa, dan naik santai lagi di masa tua (pensiun). |
Hubungan Bahasa dan Umur (Age-Grading)
Umur secara langsung membagi masyarakat menjadi beberapa golongan usia, dan setiap fase usia ini memunculkan dialek sosial (sosiolek) yang berbeda [Tricahyo, 2021; Malabar, 2015]. Perbedaan variasi bahasa antar-umur ini biasanya tidak terletak pada isi pesan, melainkan pada pilihan kosakata, morfologi, dan struktur sintaksisnya [Malabar, 2015].
Pakar sosiolinguistik William Labov menyatakan bahwa:
seiring bertambahnya umur seseorang, semakin banyak pula kosakata yang dikuasainya, dan pemahaman terhadap struktur bahasanya pun makin matang [Tricahyo, 2021].
Dalam sosiolinguistik Barat, perubahan gaya bahasa seiring bertambahnya usia individu disebut sebagai Age-grading. Fitur bahasa seperti nada suara (pitch), kosakata makian (swear words), hingga pelafalan akan berubah-ubah menyesuaikan tahapan hidup penuturnya [Holmes & Wilson, 2017].
Tuturan Anak-anak
Anak-anak menggunakan ragam tutur yang jauh berbeda dibandingkan remaja atau orang dewasa. Karakteristik utama dari tuturan anak-anak adalah adanya reduksi (pengurangan) pada struktur kebahasaannya.
Mereka sering kali memotong atau menghilangkan kata penghubung, kata depan, maupun partikel tertentu karena kemampuan kognitif dan sintaksis mereka masih dalam tahap perkembangan [Tricahyo, 2021].
Tuturan Remaja (Masa Puncak Slang dan Eksistensi)
Ini adalah fase bahasa yang paling liar! Ragam tutur remaja terkesan sangat unik, inovatif, dan bervariasi. Keunikan ini muncul karena remaja memiliki kecenderungan psikologis untuk membentuk kelompok-kelompok in-group yang eksklusif (tongkrongan) [Tricahyo, 2021].
Untuk membedakan diri mereka dari anak-anak dan dari orang tua, remaja menciptakan bahasa rahasia atau slang (bahasa prokem) yang hanya dimengerti oleh sirkel mereka sendiri [Tricahyo, 2021].
Remaja menggunakan frekuensi bahasa vernakular (non-baku) yang sangat tinggi karena adanya peer group pressure (tekanan teman sebaya) untuk "tidak tunduk" pada aturan resmi masyarakat [Holmes & Wilson, 2017].
Tuturan Dewasa dan Peran Faktor Sosial
Ketika remaja lulus kuliah dan masuk ke dunia kerja (usia dewasa), gaya bahasa mereka perlahan "jinak". Ragam orang dewasa dicirikan dengan keteraturan dan kesesuaian dengan kaidah kebahasaan yang berlaku di masyarakat [Tricahyo, 2021]. Hal ini terjadi bukan karena mereka lupa cara bahasa gaul, tetapi karena tekanan sosial (faktor sosial).
Orang dewasa memiliki tuntutan profesionalisme di kantor, mulai memiliki anak (sehingga harus memberikan contoh bahasa yang baik), dan harus berinteraksi dengan institusi resmi negara [Holmes & Wilson, 2017].
Menariknya, grafik age-grading menunjukkan pola U: frekuensi pemakaian kata gaul/kasar tinggi di masa remaja, lalu turun drastis dan menjadi sangat baku saat usia 30-50 tahun (karena tekanan karier), lalu naik lagi (menjadi lebih santai) saat mereka masuk usia pensiun/lansia karena tekanan sosial untuk tampil "keren dan berwibawa" di depan publik sudah berkurang [Holmes & Wilson, 2017].
Contoh Konkret: Seorang mahasiswa Sastra Arab yang dulunya saat nongkrong sering memaki teman dengan kata-kata kasar (ragam remaja), akan otomatis menghilangkan kebiasaan tersebut dan menggunakan Bahasa Indonesia ragam resmi atau bahasa Arab yang sangat Fusha ketika usianya 30 tahun dan ia bekerja sebagai Diplomat atau Dosen.
Pertanyaan Refleksi
- Berdasarkan penjelasan Tricahyo (2021), apa karakteristik yang paling membedakan antara Tuturan Anak-anak, Tuturan Remaja, dan Tuturan Dewasa dalam masyarakat? Sebutkan masing-masing satu ciri khas linguistiknya!
- Dalam sosiolinguistik, kita mengenal istilah Age-grading. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Age-grading menurut referensi yang telah dibahas! Berikan contoh bagaimana sebuah kosakata makian (swear word) bisa menjadi indikator fenomena age-grading pada lintasan hidup seseorang dari remaja hingga berumah tangga!
- Grafik pemakaian bahasa vernakular (bahasa non-standar/gaul) menunjukkan "puncak" tertinggi pada usia remaja/remaja akhir, dan menurun drastis ketika individu memasuki usia pertengahan (30–40 tahunan). Analisislah fenomena ini menggunakan pendekatan "Tekanan Sosial" (social pressure)! Mengapa seorang remaja merasa "wajib" menggunakan bahasa gaul yang menyimpang dari kaidah, dan mengapa orang dewasa tiba-tiba merasa harus meninggalkannya dan patuh pada ragam resmi? Kaitkan argumenmu dengan konsep solidaritas kelompok (in-group) vs pasar kerja profesional!
- Dalam sosiolinguistik, peneliti sering kali kesulitan membedakan antara Age-grading (siklus bahasa gaul yang akan ditinggalkan penuturnya ketika mereka tua) dan Language Change (perubahan bahasa permanen di mana bahasa gaul tersebut ternyata terus dipakai sampai si penutur mati, dan akhirnya menjadi standar baru) [Holmes & Wilson, 2017; Wardhaugh, 2015]. Banyak pengamat bahasa meyakini bahwa kata-kata serapan ala anak internet masa kini (seperti Sabi, Mager, Pargoy, Nolep) hanyalah fenomena Age-Grading sesaat. Begitu Gen-Z ini kelak menjadi pejabat atau orang tua di usia 40 tahun, mereka akan membuang kata-kata tersebut. Namun, sebagian ahli meyakini beberapa kata itu akan bertahan dan masuk KBBI sebagai perubahan bahasa permanen. Tanyakan 3 kata tersebut kepada: (a) Adik/anak kecil usia SD, (b) Teman sebaya usiamu, dan (c) Orang tua/dosen yang berusia 50 tahun ke atas. Catat reaksi, pemahaman, dan penerimaan mereka terhadap kata-kata tersebut. Apakah 3 kata yang kamu pilih ini berpotensi hanya menjadi Age-Grading (tren musiman usia remaja), ataukah memiliki potensi kuat menjadi Language Change (diserap permanen ke bahasa Indonesia arus utama)?

Gabung dalam percakapan