Kenapa Khotbah Jumat Nggak Pernah Pakai Bahasa Gaul?
![]() |
| Foto oleh Alena Darmel dari Pexels |
Bayangkan kamu sedang asyik nongkrong di kantin kampus, ngobrol pakai bahasa Indonesia campur Jawa atau Sunda: "Eh, antum mau pesen es teh apa es jeruk nih?" Tapi begitu kamu masuk ke masjid kampus untuk mendengarkan khotbah Jumat atau masuk ke kelas Imla, bahasanya tiba-tiba berubah jadi bahasa Arab Fusha atau bahasa Indonesia baku yang sangat rapi.
Kenapa kita seolah punya aturan tak tertulis bahwa bahasa Arab Fusha (baku) itu "haram" dipakai buat nawar cilok di depan kampus, tapi wajib dipakai untuk khotbah dan pidato resmi?
Jika kamu bisa paham isi kitab gundul berbahasa Arab tapi kesulitan kalau disuruh ngobrol cas-cis-cus sama orang Arab asli, apakah kamu masih berhak menyebut dirimu sebagai seorang "Bilingual" (Dwibahasawan)?
"Pembagian tugas" yang sangat kaku antara bahasa resmi dan bahasa santai di masyarakat, serta kemampuan otak kita untuk menyimpan dan menggunakan lebih dari satu bahasa inilah yang akan kita bedah lewat konsep Bilingualisme dan Diglosia.
Konsep Kunci
| Topik Utama | Inti Bahasan (Key Takeaways) |
|---|---|
| Bilingualisme (Kedwibahasaan) | Kemampuan menggunakan dua bahasa secara bergantian. Ada yang levelnya cuma paham pasif, ada yang aktif (seimbang). Sifatnya individual. |
| Tipe Bilingualisme | Berdasarkan kemampuan (Berimbang vs Dominan); berdasarkan fungsi (Aktif vs Pasif); berdasarkan waktu belajar (Simultan vs Suksesif). |
| Diglosia | Situasi masyarakat yang punya "pembagian kerja" bahasa secara kaku: ada Ragam Tinggi (T) untuk acara resmi, dan Ragam Rendah (R) untuk santai. |
| Ragam Tinggi (T) vs Rendah (R) | T (High): Dipelajari di sekolah, ada tata bahasa baku, gengsi tinggi. R (Low): Dipelajari di rumah (bahasa ibu), nggak baku, dipakai ngobrol. |
| Relasi Keduanya (Teori Fishman) | Bilingualisme itu fenomena individu, Diglosia itu fenomena masyarakat. Keduanya memunculkan 4 kemungkinan relasi (Kuadran Fishman). |
Konsep dan Tipe Bilingualisme
Bilingualisme atau kedwibahasaan merujuk pada
praktik pemakaian dua bahasa (atau lebih) secara bergantian oleh seorang penutur [Suhardi & Murniah, 2009].
Dulu, para ahli berdebat seberapa jago seseorang harus menguasai bahasa kedua agar bisa disebut bilingual.
Namun, tokoh seperti Haugen menyatakan bahwa sekadar tahu bahasa kedua secara pasif (bisa paham tanpa bisa ngomong) sudah cukup disebut bilingual, sementara Bloomfield menuntut penguasaan kedua bahasa sama baiknya [Herniti, 2008]. Intinya, bilingualisme adalah fenomena psikologis yang terjadi di dalam individu [Susylowati et al., 2024].
- Bilingualitas Berimbang (Balanced): Jago di kedua bahasa dengan level yang sama (equilingual).
- Bilingualitas Dominan: Lebih jago atau lancar di salah satu bahasa saja.
- Bilingual Pasif/Reseptif vs Aktif/Produktif: Hanya bisa baca/dengar (pasif) vs bisa nulis/ngomong (aktif).
- Simultan vs Suksesif: Belajar dua bahasa barengan sejak bayi (simultan) vs belajar bahasa pertama dulu, baru bahasa kedua (suksesif).
Contoh Konkret: Mahasiswa Sastra Arab yang jago baca teks Arab kuno tapi gagap kalau disuruh muhadatsah (percakapan langsung) adalah contoh Bilingual Pasif.
Diglosia (Tinggi dan Rendah)
Kalau bilingualisme itu urusan individu, Diglosia adalah urusan masyarakat tutur. Diglosia (diperkenalkan pertama kali oleh Charles Ferguson) adalah situasi kebahasaan yang stabil di masyarakat, di mana terdapat dua ragam dari bahasa yang sama yang dipakai untuk fungsi yang benar-benar terpisah [Wardhaugh, 2015; Suhardi & Murniah, 2009]. Ferguson membaginya menjadi Ragam Tinggi (T/High) dan Ragam Rendah (R/Low).
- Fungsi: Ragam T dipakai untuk agama, pendidikan, siaran berita, pidato. Ragam R dipakai buat ngobrol sama keluarga, nawar di pasar, atau acara TV hiburan.
- Pemerolehan: Ragam R adalah bahasa ibu yang dipelajari otomatis dari lahir. Ragam T tidak ada penutur aslinya; ia hanya dipelajari secara sadar di bangku sekolah/pendidikan formal.
- Prestise: Ragam T dianggap luhur, suci, logis. Ragam R sering dianggap "kampungan" atau bahasa pasaran.
Contoh Konkret: Di Mesir, bahasa untuk khotbah di masjid, koran, dan berita TV adalah bahasa Arab Fusha (Ragam T). Tapi kalau kamu pakai Fusha buat beli sayur di pasar Kairo, orang bakal ketawa karena seharusnya kamu pakai dialek lokal atau 'Amiyah Mesir (Ragam R). Nggak ada ibu di Mesir yang menidurkan bayinya pakai Fusha.
Relasi Bilingualisme dan Diglosia
Charles Ferguson mendefinisikan diglosia secara ketat hanya untuk dua ragam dari bahasa yang sama (seperti Arab Fusha dan 'Amiyah). Tapi sosiolog Joshua Fishman memperluas konsep ini: diglosia bisa saja terjadi pada masyarakat yang punya dua bahasa yang beda sama sekali asalkan fungsinya dipisah tegas secara sosial [Suhardi & Murniah, 2009].
Karena bilingualisme adalah karakter individu dan diglosia adalah karakter masyarakat, Fishman membuat 4 kombinasi/kuadran hubungan keduanya [Susylowati et al., 2024; Suhardi & Murniah, 2009].
- Bilingualisme + Diglosia: Semua orang di masyarakat itu menguasai 2 bahasa/ragam, dan tahu persis kapan pakai yang formal dan kapan pakai yang santai.
- Bilingualisme TANPA Diglosia: Orang-orangnya menguasai dua bahasa, tapi nggak ada aturan sosial yang misahin fungsinya. Dua bahasa itu dipakai campur aduk untuk semua situasi. Ujung-ujungnya bahasa yang kalah gengsi bakal punah (terjadi pergeseran bahasa).
- Diglosia TANPA Bilingualisme: Ada dua bahasa terpisah, tapi yang bisa ngomong bahasa elite cuma kelas atas (penguasa), sementara rakyat jelata cuma bisa bahasa lokal. Nggak ada warga yang bilingual (biasanya butuh penerjemah).
- Tidak Bilingualisme & Tidak Diglosia: Masyarakat primitif, terisolasi, yang hanya punya satu bahasa untuk segala urusan.
Contoh Konkret Kuadran 3: Pada zaman penjajahan Belanda di Indonesia, kaum elit/bangsawan menggunakan bahasa Belanda (Ragam T) untuk administrasi, sementara rakyat biasa pakai bahasa daerah (Ragam R). Masyarakatnya punya pembagian fungsi bahasa yang tegas (diglosia), tapi warganya tidak bilingual.
Pertanyaan Refleksi
- Berdasarkan penjelasan di atas, sebutkan tiga perbedaan utama antara Ragam Tinggi (T) dan Ragam Rendah (R) dalam konsep Diglosia yang digagas oleh Charles Ferguson! Fokus pada aspek pemerolehan, fungsi, dan prestise.
- Dalam teori tipe bilingualisme, terdapat kategori Bilingualitas Dominan dan Bilingualitas Berimbang. Jika ada seorang santri yang sangat mahir mendengarkan dan membaca literatur bahasa Arab klasik tanpa bantuan kamus, namun sama sekali tidak mampu berbicara (berkomunikasi lisan) secara lancar dalam bahasa Arab, komunikator jenis apakah santri ini jika dianalisis menggunakan klasifikasi Aktif-Pasif/Produkif-Reseptif? Jelaskan alasanmu!
- Perhatikan kasus berikut: Di sebuah keluarga transmigran asal Jawa yang tinggal di Jakarta, kakek-nenek, orang tua, dan cucu semuanya bisa bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Namun, mereka mencampuradukkan kedua bahasa tersebut di semua situasi. Mereka pakai bahasa Indonesia di rumah, dan pakai bahasa Jawa campur Indonesia di kantor atau sekolah, tanpa ada "pembagian tugas" situasi (ranah) yang jelas.
- Jika dianalisis menggunakan 4 Kuadran Joshua Fishman, masuk ke kategori manakah masyarakat keluarga transmigran ini?
- Prediksikan ancaman sosiolinguistik apa yang akan menimpa bahasa Jawa mereka dalam 2 generasi ke depan berdasarkan teori Fishman!
- Charles Ferguson merumuskan bahwa konsep "Diglosia" memiliki batasan yang sangat kaku, di mana Ragam Tinggi (seperti bahasa Arab Fusha) dan Ragam Rendah (seperti 'Amiyah Mesir/Saudi) tidak boleh bertumpang tindih atau dicampur aduk fungsinya di masyarakat. Namun, dengan munculnya internet, media sosial (X/Twitter, YouTube), dan podcast bernuansa agama saat ini, banyak penceramah atau pemuda Arab (maupun mahasiswa Indonesia lulusan Timur Tengah) yang berpidato atau nge-twit urusan agama (domain Tinggi) dengan mencampur Fusha dan 'Amiyah/Gaul sekaligus (Extended diglossia/leakage).
- Evaluasilah apakah teori Diglosia Klasik Ferguson masih relevan atau sudah runtuh di era digital!
- Menurutmu, apakah percampuran Fusha dan 'Amiyah di ruang publik digital ini merupakan "kerusakan bahasa" atau justru sebuah "evolusi variasi bahasa" yang baru?
- Berikan satu contoh fenomena kebahasaan serupa yang terjadi pada pemakaian bahasa Indonesia Baku vs Bahasa Gaul di ranah akademik kampusmu saat ini!

Gabung dalam percakapan