Ingin mendapatkan informasi terkini langsung ke WhatsApp Anda? Ikuti Channel saya!

Dari Ism Sampai Hijriah: Cara Jitu Mengolah Metadata Buku Arab Jadi Daftar Pustaka

Pusing nyusun daftar pustaka buku Arab buat skripsi? Yuk, bedah cara mudah nulis nama, judul, dan metadatanya di sini!
Foto oleh Andrea Piacquadio dari Pexels


Pernah nggak sih kalian lagi ngebut ngerjain bab daftar pustaka skripsi semalaman, terus tiba-tiba stuck gara-gara buku referensi utamanya berbahasa Arab? Niatnya mau nulis nama pengarangnya, eh malah bingung karena namanya panjang banget sampai memakan dua baris. Belum lagi pas mau nulis tahun terbit, angka yang tertera di halamannya malah tahun 1400-an. Bikin panik dan overthinking, kan?

Keresahan kayak gini wajar banget dialami oleh mahasiswa S1, terutama yang kuliah di jurusan Studi Islam, Sastra Arab, atau Ilmu Perpustakaan. Mengutip buku atau dokumen berbahasa Arab memang punya seninya sendiri. Beda dengan literatur Barat yang strukturnya sudah ketebak karena ada nama depan, nama belakang, dan tahun Masehi yang jelas. Di buku Arab, semua itu butuh sedikit trik "investigasi" ekstra.

Nah, biar kalian nggak bingung lagi dan daftar pustakanya nggak dicoret-coret merah sama dosen pembimbing, kita bakal bedah tuntas gimana sih sebenarnya struktur penulisan bibliografi Arab yang benar. Kita akan bahas mulai dari merangkai nama pengarangnya, membedah judul yang kadang kelewat puitis, sampai mencari data tahun dan penerbit yang suka ngumpet. 

Yuk, simak bareng-bareng!

Membedah Anatomi Nama Pengarang Arab

Menulis nama pengarang Arab itu ibarat merangkai kepingan puzzle karena struktur namanya tidak sesederhana nama orang Barat. 

Secara historis, nama orang Arab zaman dulu terdiri dari beberapa elemen yang digabung jadi satu. Ada yang namanya ism (nama pemberian asli atau nama depan), nasab (silsilah keturunan yang biasanya menggunakan kata "ibn" atau "bin"), nisbah (penunjuk asal daerah, suku, atau aliran agama yang biasanya berakhiran 'ī'), kunyah (julukan relasi keluarga yang diawali kata "Abū" atau "Umm"), laqab (nama panggilan yang menunjukkan sifat atau julukan), dan khiṭāb (gelar kehormatan) (Khurshid, 2002).

Biar gampang, di dunia perpustakaan, pengarang Arab dibagi jadi dua tipe: klasik dan modern. Untuk pengarang modern (yang hidup sekitar tahun 1800-an ke atas), peraturannya relatif gampang. Mereka biasanya sudah mengadopsi sistem surname (nama keluarga) layaknya orang Barat, jadi kita tinggal jadikan elemen terakhir namanya sebagai nama entri di daftar pustaka (Shenītī, 1972).

Tapi, cerita bakal beda kalau kalian mengutip tokoh klasik. Penentuan tajuk namanya nggak bisa sembarangan ambil kata terakhir. Aturan standarnya menyarankan agar tokoh klasik dimasukkan berdasarkan elemen nama yang paling terkenal atau paling sering digunakan masyarakat luas untuk merujuk orang tersebut (Khurshid, 2002). Misalnya, tokoh Abū Ḥāmid Muḥammad bin Muḥammad al-Gazālī, kita cukup pakai entri "al-Gazālī" karena nama itulah yang paling dikenal (Tibbetts, 1959).

Menjinakkan Judul Bahasa Arab yang Super Panjang

Masuk ke bagian judul, buku-buku Arab punya tantangan tersendiri. Pengarang muslim pada masa lalu suka banget bikin judul buku yang sangat panjang, elaboratif, dan kadang diselipkan rima biar terdengar puitis (Shenītī, 1972). 

Kadang, kalau kita cuma baca judulnya saja, kita nggak akan tahu buku itu bahas apa karena ada penggunaan majāz (kiasan) dalam bahasa Arab yang sering dipakai. Contohnya, buku karya Imam al-Syāfi'ī yang berjudul al-Umm. Secara harfiah artinya "sang ibu", padahal isinya adalah tentang yurisprudensi atau hukum Islam, karena kata ibu di sini digunakan sebagai kiasan untuk contoh teladan yang fundamental (Ismail et al., 2011).

Selain itu, buku cetakan Arab awal juga banyak yang tidak memiliki halaman judul yang jelas karena merupakan adaptasi langsung dari tradisi penyalinan manuskrip (Omoerha, 1973). Beberapa buku berbahasa Arab juga sering menggabungkan lebih dari satu judul karya dari penulis berbeda di dalam satu fisik buku. 

Biasanya judul-judul ini digabungkan di halaman depan dengan kata sambung seperti wa-yalīhi (yang diikuti oleh) atau wa-ma'ahu (bersama dengan) (Ismail et al., 2011). Sebagai mahasiswa, tantangan kalian adalah mengambil judul utamanya saja atau memisahkannya ke dalam entri tambahan agar kutipan daftar pustaka kalian tetap rapi.

Misteri Metadata: Tempat, Penerbit, dan Konversi Tahun

Lanjut ke bagian metadata atau detail publikasi. Pada buku-buku berbahasa Arab cetakan lama, data tempat dan penerbit sering kali hilang dari halaman depan, dan kadang disembunyikan di bagian colophon (catatan penutup di halaman paling belakang buku) (Wilson, 2005).

Satu hal yang paling sering menjebak mahasiswa adalah urusan edisi. Di industri buku Arab, ada kata ṭab'ah (طبعة) yang dipakai sangat longgar oleh penerbit. Kata ini bisa berarti "edisi", tapi sering juga cuma dipakai untuk arti "cetakan ulang" tanpa ada perubahan isi (Khurshid, 2002). Jadi kalau kalian nemu tulisan a-ṭab'ah al-ūlā, itu merujuk pada cetakan atau edisi pertama (Wilson, 2005).

Untuk urusan tahun terbit, siap-siap bawa kalkulator!

Banyak penerbit Arab yang mencantumkan tahun Hijriah (biasanya ditandai dengan huruf hā' atau هـ) berdampingan dengan tahun Masehi (ditandai dengan huruf mīm atau م). Kalau buku referensimu cuma mencantumkan tahun Hijriah murni, kamu wajib mengonversinya ke tahun Masehi. 

Hasil konversinya itu wajib dicatat di dalam tanda kurung siku "[ ]" di bibliografimu, karena tahun Hijriah lebih pendek jumlah harinya dari Masehi sehingga konversinya bisa jatuh di antara dua tahun kalender Masehi (Wilson, 2005).

Latihan Menyusun Entri Bibliografi Sederhana

Biar nggak cuma sebatas teori, mari kita simulasi menyusun entri bibliografi sederhana dengan studi kasus sebuah buku.

Bayangkan di halaman judul (title page) tertulis nama pengarang "Syihāb al-Dīn abī al-Faḍl Aḥmad bin 'Alī bin Muḥammad bin Muḥammad 'Alī al-'Asqalānī ṡumma al-Miṣrī, al-Syāfi'ī al-ma'rūf bi-Ibn Ḥajar". Judul bukunya adalah Kitāb al-Iṣābah fī Tamyīz aṣ-Ṣaḥābah. Di informasi penerbitannya, ada keterangan kota terbit "Bairūt", nama penerbit "Dār al-Kutub", dan tahun terbit "1425 H".

Cara menyusunnya dalam bibliografi gaya standar:

Pertama, untuk nama, kita identifikasi elemen yang paling dikenal (laqab-nya), yaitu "Ibn Ḥajar al-'Asqalānī" (Ismail et al., 2011). Kedua, tulis judul utamanya dan cetak miring. Ketiga, konversi tahun 1425 H menjadi tahun Masehi (sekitar tahun 2004 atau 2005) lalu masukkan di dalam kurung siku.

Hasil akhirnya: Ibn Ḥajar al-'Asqalānī, Aḥmad bin 'Alī. Kitāb al-Iṣābah fī Tamyīz aṣ-Ṣaḥābah. Bairūt: Dār al-Kutub, [2004 atau 2005].

Akhir Kata

Nah, ternyata seni mengolah literatur Arab menjadi barisan daftar pustaka yang rapi butuh insting detektif yang kuat, ya! Mulai dari mengurai silsilah nama keluarga sampai main hitung-hitungan konversi tahun kalender. Percayalah, kalau kamu sudah paham polanya, ngerjain referensi skripsi bakal terasa jauh lebih cepat.

Sebagai bahan refleksi buat kalian nih! Menurut kalian, kenapa sih menjaga konsistensi penulisan nama tokoh klasik Arab (seperti sepakat menggunakan tajuk al-Gazālī ketimbang membiarkan orang bebas menulis nama aslinya) itu krusial banget buat ekosistem perpustakaan digital masa kini yang sering kalian pakai buat searching tugas?