Ingin mendapatkan informasi terkini langsung ke WhatsApp Anda? Ikuti Channel saya!

Satu Benda Beda Nama, Beda Budaya Beda Logika?

Foto oleh Frans van Heerden dari Pexels


Pernah nggak kamu mikir, kenapa kita di Indonesia kalau belum ketemu "nasi" rasanya kayak belum makan, walau udah habis roti tiga tumpuk? Coba lihat bahasanya: kita punya kata padi, gabah, beras, sampai nasi

Tapi buat orang Inggris, dari mulai ditanam di sawah sampai terhidang di piring, namanya cuma satu: rice

Di sisi lain, dalam perbendaharaan bahasa Arab klasik, ada puluhan hingga ratusan kosakata khusus hanya untuk menyebut "Unta" berdasarkan usia, jenis kelamin, atau keadaannya, padahal di kita ya cuma "Unta".

Kok bisa sih, lingkungan dan budaya tempat kita lahir itu sebegitu detailnya "mendikte" kamus bahasa yang kita pakai sehari-hari?

Apakah ini berarti bahasa yang kita pakai secara diam-diam "mengurung" dan mengontrol cara otak kita dalam berpikir dan melihat dunia?

Fenomena rice vs nasi atau unta ini adalah bukti nyata bahwa bahasa dan budaya itu ibarat sepasang kekasih yang nggak bisa dipisahkan; hari ini kita bakal membedah seberapa jauh bahasa "menyetir" isi kepala kita lewat Hipotesis Sapir-Whorf dan bagaimana etika kesantunan dikonstruksi oleh budaya!

Konsep Kunci

Topik Utama Inti Bahasan (Key Takeaways)
Relasi Bahasa & Budaya Hubungan subordinatif (bahasa ada di bawah payung budaya) dan koordinatif (bahasa dan budaya sejajar ibarat dua sisi mata uang/kembar siam).
Hipotesis Sapir-Whorf Determinisme Linguistik (Kuat): Bahasa mengontrol 100% cara kita berpikir.
Relativitas Linguistik (Lemah): Bahasa mempengaruhi cara pandang kita.
Sanggahan Whorfian Bahasa itu dinamis, tidak kaku. Manusia buktinya bisa menerjemahkan konsep asing dan belajar bahasa baru tanpa harus ganti struktur otak.
Etika Berbahasa Politeness/kesantunan sangat bergantung pada norma budaya lokal. Tidak ada standar kesantunan universal (misal: cara menolak ajakan, tingkat tutur).

Relasi Bahasa dan Kebudayaan (Subordinatif & Koordinatif)

Banyak pakar yang sepakat bahwa bahasa dan budaya itu sangat susah dipisahkan. Ada dua pandangan dalam melihat hubungannya. 

Pertama, relasi subordinatif, di mana bahasa dianggap sebagai bagian (sub-sistem) dari kebudayaan. Artinya, di dalam sebuah payung budaya masyarakat, bahasa hanyalah salah satu unsur di samping unsur seni, hukum, dan tradisi. 

Kedua, relasi koordinatif, yang memandang bahasa dan budaya itu kedudukannya sejajar. Pakar mengibaratkan hubungan keduanya seperti bayi kembar siam atau ibarat sekeping mata uang: sisi yang satu adalah bahasa, sisi sebaliknya adalah kebudayaan [Tricahyo, 2021].

Contoh Konkret: Kalau kita memisahkan kebudayaan Arab dari bahasa Arab, kita nggak akan bisa memahami teks sastranya secara utuh. Budaya hidup nomaden di padang pasir zaman dulu (badui) terefleksikan kuat dalam ragam kiasan dan kosakata bahasa Arab itu sendiri.

Hipotesis Whorfian (Cara Bahasa Menyetir Pikiran)

Dalam sejarah linguistik antropologi, ada hipotesis super nge-tren yang digagas oleh Edward Sapir dan muridnya Benjamin Lee Whorf, dikenal dengan Hipotesis Sapir-Whorf. Mereka percaya bahwa bahasa ibu seorang penutur bertindak seperti semacam "kisi-kisi" atau jeruji kacamata saat kita melihat dunia [Tricahyo, 2021]. Hipotesis ini punya dua versi:

Determinisme Linguistik (Versi Kuat)

Mengklaim bahwa bahasa yang kita pakai menentukan/mengunci cara kita berpikir. Contoh populer: karena bahasa suku Hopi di Amerika tidak punya sistem tenses (waktu masa lalu/sekarang/depan) layaknya bahasa Inggris, Whorf mengklaim orang Hopi punya konsep waktu yang berputar (siklus), beda banget sama orang Eropa [Holmes & Wilson, 2017].

Relativitas Linguistik (Versi Lemah)

Mengklaim bahwa bahasa sebatas mempengaruhi cara kita melihat dunia. Contohnya, orang Indonesia melihat padi, beras, dan nasi sebagai konsep yang beda karena budayanya berporos pada makanan tersebut, sementara orang Inggris cuma punya kata rice [Tricahyo, 2021].

Sanggahan terhadap Hipotesis Whorfian 

Meskipun hipotesis Sapir-Whorf terdengar epik, banyak linguis (seperti Steven Pinker) yang menolak mentah-mentah ide ini [Wardhaugh, 2015]. Kritikan dan sanggahannya antara lain: 

Pertama, kalau bahasa memang mengurung pikiran, seolah-olah penutur bahasa suku terpencil itu lebih "primitif" kognitifnya, padahal nggak gitu! Nyatanya kita tidak pernah gagal menerjemahkan satu bahasa ke bahasa lain [Tricahyo, 2021]. 

Kedua, manusia nyatanya bisa kok menyerap konsep baru dan belajar bahasa kedua (bilingualisme) tanpa harus kehilangan logika aslinya. Jadi, bahasa itu bukan "penjara" yang membatasi pikiran, melainkan sekadar reflektor atau cerminan dari budaya masyarakatnya [Tricahyo, 2021].

Contoh Konkret: Meskipun dalam bahasa Indonesia kita tidak punya sistem gramatikal tenses yang ribet kayak di bahasa Inggris (verb 1, 2, 3) atau fi'il madhi/mudhari' di bahasa Arab, bukan berarti orang Indonesia itu pemalas, tidak kenal konsep waktu, atau penganut "jam karet". Kita cuma pakai penanda leksikal kayak "kemarin" atau "besok" [Tricahyo, 2021].

Etika Berbahasa dalam Konteks Budaya 

Karena bahasa adalah produk budaya, maka "tata krama" atau kesantunan (politeness) saat berbahasa sangat ditentukan oleh norma lokal. 

Apa yang sopan di satu negara, bisa jadi kasar di negara lain. 

Dalam masyarakat Jawa (atau Bali), kesantunan ini dilembagakan dalam wujud tingkat tutur atau undha-usuk (Ngoko vs Krama) yang mengharuskan penuturnya sadar posisi sosial dan umur lawan bicara [Holmes & Wilson, 2017; Tricahyo, 2021]. 

Dalam budaya Barat, menolak ajakan makan malam menuntut alasan yang rasional dan spesifik, sementara di budaya Timur, pakai alasan kabur/berbasa-basi seringkali dianggap jauh lebih sopan (polite) untuk menjaga perasaan [Holmes & Wilson, 2017].

Pertanyaan Refleksi

  1. Berdasarkan materi yang telah dipelajari, jelaskan perbedaan utama antara versi kuat (Linguistic Determinism) dan versi lemah (Linguistic Relativity) dari Hipotesis Sapir-Whorf!
  2. Masyarakat Arab klasik yang tinggal di lingkungan gurun pasir (badui) memiliki banyak sekali variasi leksikal (kosakata) untuk mendeskripsikan pasir, angin, unta, atau kurma. Sebaliknya, masyarakat Eskimo memiliki banyak ragam kata untuk salju, dan masyarakat Indonesia agraris memiliki banyak istilah untuk padi-beras-nasi. Gunakan konsep "Relasi Koordinatif/Subordinatif Bahasa dan Budaya" untuk menganalisis mengapa fenomena kelimpahan leksikon yang spesifik ini bisa terjadi pada masyarakat tutur tertentu!
  3. Steven Pinker dan beberapa pakar linguistik modern dengan keras mengkritik Hipotesis Sapir-Whorf (khususnya versi Determinisme Linguistik) yang menyatakan bahwa bahasa "mengurung" dan "menentukan" cara manusia berpikir [Wardhaugh, 2015]. Sebagai mahasiswa Sastra Arab yang belajar bahasa asing (yang punya struktur I'rab, maskulin-feminin/mudzakkar-muannats, dan tenses/fi'il yang sama sekali berbeda dengan bahasa Indonesia), susunlah argumen strategis untuk mendebat Hipotesis Sapir-Whorf tersebut! Gunakan pengalamanmu dalam menerjemahkan teks bahasa Arab ke bahasa Indonesia untuk membuktikan bahwa ketiadaan fitur gramatikal (seperti penanda gender pada kata benda atau tenses pada kata kerja) di bahasa ibu kita (bahasa Indonesia), tidak lantas membuat kita gagal memahami konsep realitas waktu maupun jenis kelamin! 
  4. Dalam kajian relasi bahasa dan kebudayaan, kita mengenal perdebatan klasik: apakah bahasa yang menentukan cara pikir/budaya masyarakat (seperti gagasan Determinisme Linguistik Whorfian), ataukah sebaliknya, kebudayaan dan lingkungan sosiallah yang mewarnai dan membentuk bahasa (relasi subordinatif/koordinatif) [Tricahyo, 2021; Holmes & Wilson, 2017]. Di sisi lain, setiap kebudayaan memiliki etika dan kesantunan berbahasa (etiquette) yang disepakati oleh masyarakatnya. Saat ini, di kalangan anak muda Muslim urban di Indonesia (termasuk di lingkungan kampus), muncul fenomena pergeseran etika sapaan. Mereka mulai meninggalkan kata sapaan budaya lokal (seperti Mas/Mbak, Kak, Saudara) dan menggantinya dengan sapaan berbasis budaya Arab (seperti Akhi, Ukhti, Antum, Ana, Syukron, Afwan) dalam interaksi sehari-hari, meskipun mereka bukan penutur asli bahasa Arab. Evaluasilah fenomena ini dari sudut pandang Relasi Bahasa dan Kebudayaan! Apakah fenomena ini membuktikan kebenaran Hipotesis Sapir-Whorf (bahwa dengan mengubah kosakatanya menjadi bahasa Arab, pola pikir/pandangan dunia (worldview) mereka ikut berubah menjadi lebih "Islami")? Ataukah sebaliknya, ini adalah bukti bahwa budaya (kebutuhan identitas komunitas baru) yang memaksa bahasa untuk beradaptasi?Bagaimana implikasi penggunaan kata ganti seperti Antum atau Ana jika dibenturkan dengan etika berbahasa lokal (misalnya budaya unggah-ungguh Jawa atau kesantunan bahasa Indonesia)? Apakah penggunaan sapaan asing ini menghapus relasi hierarki status sosial (seperti usia dan jabatan) yang biasanya ada dalam etika budaya lokal?