Nasib Bahasa: Antara Evolusi, Bertahan Hidup, atau Tinggal Kenangan?
![]() |
| Foto oleh Daniel Lee dari Pexels |
Coba perhatikan cara komunikasi di keluargamu. Kakek dan nenekmu mungkin sangat fasih ngobrol menggunakan bahasa daerah (misal: Jawa Krama, Sunda Lemes, atau Minang) dengan kosa kata yang sangat kaya.
Turun ke generasi orang tuamu, mereka masih paham bahasa daerah, tapi kalau ngobrol sama kamu mereka lebih sering pakai bahasa Indonesia.
Turun ke generasimu? Kamu mungkin cuma bisa bahasa Indonesia dan bahasa Gaul, sementara bahasa daerah leluhurmu cuma kamu pahami secara pasif (bisa dengar, tapi nggak bisa ngomong).
Kenapa hanya dalam kurun waktu tiga generasi, sebuah bahasa ibu bisa "terkikis" habis dari lidah keturunannya?
Di sisi lain, mengapa bahasa Indonesia terus menerus berubah dengan munculnya tren kata baru setiap tahun, tapi di saat yang sama banyak bahasa daerah di pelosok yang perlahan mati tanpa meninggalkan jejak?
Bahasa itu layaknya makhluk hidup; ia bisa berevolusi (berubah), kalah bersaing dan minggir (bergeser), berusaha sekuat tenaga mempertahankan wilayahnya (bertahan), atau justru mati dan punah. Hari ini kita akan membedah siklus hidup bahasa tersebut!
Konsep Kunci
| Topik Utama | Inti Bahasan (Key Takeaways) |
|---|---|
| Perubahan Bahasa | Sifat alami bahasa yang selalu berevolusi. Bisa karena faktor internal (sistem tata bunyi) atau eksternal (kontak dengan bahasa asing). |
| Pergeseran Bahasa | Komunitas perlahan meninggalkan bahasa ibu (B1) dan pindah ke bahasa dominan (B2) akibat migrasi, ekonomi, atau pendidikan. |
| Pemertahanan Bahasa | Upaya sadar/kolektif komunitas minoritas untuk terus menggunakan bahasa ibunya di tengah kepungan bahasa mayoritas. |
| Kepunahan Bahasa | Kematian total sebuah bahasa. Bisa terjadi secara bertahap (karena pergeseran gagal ditahan) atau mendadak (karena bencana/genosida). |
Perubahan Bahasa (Language Change)
Tidak ada bahasa yang statis; bahasa selalu berubah seiring berjalannya waktu. Perubahan ini bisa terjadi karena faktor internal (seperti penyederhanaan bunyi) atau eksternal (seperti kontak dengan bahasa lain) [Wardhaugh, 2015; Romaine, 2000]. William Labov membagi sifat perubahan bahasa di masyarakat ke dalam dua fenomena utama:
Change from above (Perubahan dari atas)
Perubahan linguistik yang disadari oleh para penuturnya, biasanya karena mengejar prestise atau gengsi sosial [Walker, 2024]. Penutur sengaja meniru ragam bahasa kelompok sosial kelas atas atau bahasa standar.
Change from below (Perubahan dari bawah)
Perubahan yang terjadi secara tidak sadar dan biasanya bermula dari kelas sosial yang lebih bawah (vernakular) sebelum akhirnya menyebar ke seluruh komunitas [Walker, 2024].
Contoh Konkret: Kamu secara sadar menggunakan pelafalan bahasa Inggris dengan aksen British atau bahasa Arab Fusha saat presentasi agar terlihat keren dan terpelajar (Change from above). Munculnya pelafalan santai atau slang baru ala anak muda yang tanpa sadar menyebar luas dan ditiru oleh semua kalangan (Change from below).
Pergeseran Bahasa (Language Shift)
Pergeseran bahasa terjadi ketika sekelompok masyarakat yang awalnya berkontak dengan bahasa lain mulai meninggalkan bahasa mereka sendiri (bahasa pertama) untuk pindah memakai bahasa kelompok lain yang lebih dominan [Holmes & Wilson, 2017; Suhardi & Murniah, 2009].
Faktor utama yang memicu pergeseran ini biasanya adalah tuntutan perbaikan ekonomi, pendidikan yang menggunakan bahasa nasional, hingga migrasi dari desa ke kota besar [Romaine, 2000; Holmes & Wilson, 2017].
Contoh Konkret: Penelitian Gunarwan (1994) menunjukkan bahwa pemakaian bahasa Lampung perlahan bergeser ke bahasa Indonesia karena adanya "kebocoran diglosia" (diglossia leakage). Artinya, bahasa Indonesia yang seharusnya dipakai di ranah resmi, mulai merembes masuk dipakai untuk mengobrol santai antar-anggota keluarga di dalam rumah [Suhardi & Murniah, 2009].
Pemertahanan Bahasa (Language Maintenance)
Pemertahanan bahasa adalah antitesis dari pergeseran, di mana sebuah komunitas (khususnya kelompok minoritas) berhasil mempertahankan eksistensi bahasa ibunya meski dikepung oleh bahasa mayoritas. Kunci utamanya adalah konsentrasi permukiman yang homogen dan tingginya kesetiaan bahasa (language loyalty) [Suhardi & Murniah, 2009; Holmes & Wilson, 2017].
Contoh Konkret: Penelitian Sumarsono (1990) menunjukkan fenomena luar biasa di mana masyarakat minoritas Melayu Loloan di Bali berhasil mempertahankan bahasa Melayu Loloan dari gempuran bahasa Bali yang merupakan bahasa mayoritas. Hal ini bisa terjadi karena permukiman mereka sangat terkonsentrasi dan bahasa tersebut telah menjadi lambang identitas yang kuat bagi guyub tutur mereka sebagai pemeluk agama Islam di wilayah tersebut [Suhardi & Murniah, 2009].
Kepunahan Bahasa (Language Death/Language Loss)
Bila pergeseran bahasa tidak bisa dicegah, ujungnya adalah kepunahan. Kepunahan bahasa (language death) terjadi ketika semua penutur asli dari sebuah bahasa meninggal dunia sehingga bahasa tersebut ikut mati bersama mereka [Holmes & Wilson, 2017]. Proses kepunahan ini bisa dibagi menjadi dua:
Kematian Bertahap (Gradual Death)
Kepunahan alami akibat pergeseran bahasa, di mana dari generasi ke generasi ranah pemakaian bahasa semakin menyusut hingga tidak ada lagi yang menggunakannya. Para penutur mudanya mengalami kehilangan bahasa (language loss) secara bertahap [Holmes & Wilson, 2017].
Kematian Mendadak (Sudden Death)
Terjadi secara tidak wajar karena seluruh penuturnya ditumpas habis atau terkena bencana alam massal. Contoh tragisnya adalah penduduk asli Tasmania yang dibantai pada akhir abad ke-19 oleh pemerintah pendudukan [Suhardi & Murniah, 2009; Romaine, 2000].
Pertanyaan Refleksi
- Merujuk pada konsep William Labov yang banyak dikutip dalam literatur sosiolinguistik, jelaskan apa perbedaan paling mendasar antara Change from above dan Change from below dalam proses terjadinya perubahan suatu bahasa!
- Dalam literatur sosiolinguistik, "Pergeseran Bahasa" (Language Shift) dan "Kepunahan Bahasa" (Language Death) saling berkaitan namun memiliki makna teknis yang berbeda. Mengacu pada literatur [Suhardi & Murniah, 2009; Holmes & Wilson, 2017], jelaskan titik pembeda antara proses pergeseran bahasa dan kondisi kepunahan bahasa! (Petunjuk: Pikirkan apa yang terjadi jika suatu kelompok mengganti bahasa komunikasinya versus jika seluruh penutur asli di muka bumi meninggal dunia).
- Faktor pendidikan formal sering disebut oleh para ahli sebagai salah satu pendorong terjadinya pergeseran bahasa yang sangat kuat di kalangan generasi muda [Romaine, 2000; Holmes & Wilson, 2017]. Ketika sekolah secara eksklusif hanya menggunakan bahasa nasional/resmi, bahasa daerah (sebagai bahasa ibu) cenderung cepat tergeser. Jika kamu kelak menjadi pembuat kebijakan pendidikan di daerah yang mayoritas penduduknya berbahasa ibu lokal, strategi apa yang akan kamu terapkan di sekolah agar siswa mahir berbahasa nasional namun tidak sampai "membunuh" pemertahanan bahasa ibunya? Gunakan konsep "ranah" (domain) dalam menyusun argumenmu!
- Dalam sosiolinguistik, benteng pertahanan terakhir dari Pemertahanan Bahasa adalah Ranah Keluarga. Gunarwan (dalam Suhardi & Murniah, 2009) menemukan bahwa jika bahasa dominan (seperti bahasa Indonesia) sudah merembes masuk ke dalam rumah dan dipakai untuk mengobrol santai antaranggota keluarga—sebuah fenomena yang disebut kebocoran diglosia—maka bahasa daerah/minoritas tersebut diprediksi tinggal menunggu waktu menuju kepunahan secara bertahap (gradual death).
- Amati dan catat perbandingan kasar intensitas penggunaan bahasa daerah (sebagai bahasa ibu) vs bahasa Indonesia pada masing-masing generasi tersebut saat berada santai di ranah rumah tangga!
- Jika terjadi Pergeseran Bahasa yang drastis pada generasimu, identifikasi faktor dominan apa yang menjadi penyebabnya menurut teor-teori yang telah dipelajari (apakah karena migrasi ke kota, tekanan pendidikan, atau gengsi sosial)?
- Berdasarkan temuanmu, evaluasilah masa depan bahasa daerah di jalur keturunanmu! Apakah kalian sedang berada dalam fase "Kepunahan Bertahap" (Gradual Death/Language Loss), ataukah sekadar "Bilingualisme Stabil"? Tawarkan 2 (dua) solusi konkret di tingkat keluarga untuk mendukung "Pemertahanan Bahasa"!

Gabung dalam percakapan