Bibliometrik dan Manfaatnya bagi Pengelola Jurnal

Bahan diskusi PSPI RJI terkait bibliometrik dan manfaatnya untuk pengelola jurnal di Indonesia.

Sumber: PSPI RJI

Pengantar

Pusat Studi Publikasi Ilmiah (PSPI) merupakan sebuah divisi di bawah Relawan Jurnal Indonesia yang diresmikan pada 8 Februari 2020. PSPI menjadi pusat kajian publikasi ilmiah pertama di ASEAN yang diharapkan dapat menelurkan kajian-kajian terkait peningkatan mutu dan kualitas dengan memperhatikan tren dan isu pengelolaan berkala elektronik di dunia. PSPI dilahirkan menjadi bukti peran dan sumbangsih Relawan Jurnal Indonesia yang tidak hanya berkontribusi terkait pengelolaan teknis Open Journal System dan hal-hal teknis lainnya.

Pusat Studi Publikasi Ilmiah memiliki visi "menjadi pusat inovasi pengelolaan publikasi ilmiah di Indonesia". 
    Adapun tujuan PSPI antara lain:
  • mendorong peningkatan mutu publikasi jurnal ilmiah di Indonesia secara progresif;
  • menjadi acuan perkembangan publikasi di Indonesia;
  • mengembangkan manajemen publikasi dan meningkatkan kualitas publikasi ilmiah di Indonesia; dan
  • menjembatani riset dan kebijakan publikasi.

Bergabung di diskusi

Jika Anda berminat untuk bergabung pada diskusi ini, silakan cermati informasi berikut.

  • Hari/tgl         : Sabtu, 20 Maret 2021
  • Pukul            : 19.30 WIB
  • Tempat         : Zoom Meeting
  • Link Zoom   : klik tautan ini

Materi

Materi yang akan dibahas pada diskusi ini antara lain:

  • Apa itu bibliometrik?
  • Top 10 author global dan nasional
  • Bagaimana metode analisis bibliometrik?
  • Apa saja basis data yang biasa digunakan?
  • Apa saja software yang digunakan?
  • Live demo VOSviewer
  • Apa saja manfaatnya bagi pengelola jurnal?

Salindia

Berikut adalah salindia yang saya paparkan pada agenda ini.

Materi di atas dapat diunduh melalui tombol download di kanan bawah pada tampilan di atas atau melalui tombol download di bawah ini. 

Hasil diskusi

Berikut adalah catatan penting dari diskusi:

  • Tambahan saja terkait paruh hidup literatur itu merupakan rentang waktu di mana suatu literatur dikutip sebanyak 50% (separuh). Jika paruh hidup suatu jurnal dikatakan 5 tahun maka rujukan yang digunakan pada artikel-artikelnya setengahnya adalah terbitan 5 tahun terakhir. Ini akan sangat berbeda antara disiplin ilmi satu dengan yang lain. Bidang hukum misalnya, paruh hidupnya 15 tahun. Untuk bidang fisika bisa 5 tahun, berbeda pula dengan bidang kajian budaya yang cenderung lebih lama. (Prof. Sulistyo Basuki)
  • Dari artikel yang disampaikan tadi, yang ditulis oleh pustakawan memang sepertinya dilakukan dengan cara manual. Oleh sebab itu, data yang ditampilkan dalam bentuk tabel dengan menulis semua frekuensi kata kunci yang ditemukan. Dengan munculnya beberapa software seperti VOSviewer memang membantu dan memudahkan peneliti. Untuk kajian yang dilakukan oleh pustakawan bisa coba kunjungi jurnal Visi Pustaka. (Prof. Sulistyo Basuki)
  • Beberapa kata kunci yang ditampilkan pada visualisasi tadi perlu dicek ulang. Ada beberapa kata yang sebenarnya tidak dapat dikategorikan sebagai kata kunci, misalnya "something" dan "data". Kedua kata ini tidak akan kita gunakan sebagai kata kunci dalam pencarian. Untuk mengidentifikasi ini, biasanya teman-teman pustakawan sudah paham; mana kata-kata yang bisa dikategorikan sebagai kata kunci, mana yang bukan. (Prof. Sulistyo Basuki)
  • Apa yang dilakukan mas Eric ini juga pernah kita diskusikan di acara Kongkow. Saat itu yang membahas mas Anis Fuad terkait analisis bibliometrik untuk single journal. Dari analisis single journal itu apa saja yang bisa dianalisis sudah disampaikan oleh mas Anis, salah satunya adalah citedness. Dari data Dimensions tadi sepertinya juga bisa dianalisis, meskipun jika terpaksa kita harus melakukannya secara manual. (Fauziddin Harliansyah)

Tanya-jawab

Berikut adalah arsip pertanyaan dan jawaban pada saat diskusi. Untuk pertanyaan dan jawaban versi lengkap dapat disaksikan pada rekaman video.

Tanya: Jika saya adalah pengelola jurnal dan melakukan analisis bibliometrik terhadap jurnal yang saya kelola, di mana sebaiknya saya tulis? Apakah sebagai editorial atau artikel? Atau memang harus diterbitkan di jurnal lain?
Jawab: Anda dapat menulisnya sebagai editorial maupun artikel tergantung dengan bobot maupun jumlah artikel yang dianalisis. Jika periode publikasi yang dianalisis lebih dari 5 tahun, saya menyarankan untuk menuliskannya sebagai artikel riset. Namun, jangan lupa untuk menyatakan bebas conflict of interest dan mengajak kolaborator dari luar pengelola jurnal, terutama dari kalangan pustakawan.

Tanya: Jika saya ingin menarik metadata dari Google Scholar menggunakan Publish or Perish, bagaimana kualitas metadata yang saya dapatkan? Apakah ini termasuk basis data yang tepat untuk digunakan untuk menganalisis bibliometrik jurnal-jurnal di Indonesia?
Jawab: Menurut pengalaman saya, Google Scholar merupakan basis data yang paling luas dan cakupannya paling lebar (jika dibandingkan dengan WoS maupun Scopus). Namun sayangnya, dari beberapa eksperimen yang saya lakukan dengan memasukkan ISSN jurnal sebagai kata kunci pencarian, ada beberapa karya yang "nyangkut". Terkadang berupa buku atau makalah prosiding. Tentunya ini akan membutuhkan waktu ekstra untuk melakukan data cleaning. Silakan eksplorasi lebih lanjut. Yang jelas, metadata yang bisa diambil dari GS sangat terbatas. Itulah sebabnya, saya menyarankan untuk menggunakan basis data Dimensions bagi jurnal-jurnal yang telah melanggan DOI.

Tanya: Berapa periode atau rentang tahun yang ideal untuk melakukan analisis bibliometrik?
Jawab: Saya belum menemukan literatur yang menandaskan periode ideal dalam kajian bibliometrik. Beberapa tulisan bibliometrik pada umumnya menggunakan rentang dekade (10 tahun) atau per 5 tahun. Tentunya ini juga akan berkaitan erat dengan jumlah artikel yang diterbitkan per tahun. Semakin banyak artikel yang diterbitkan suatu berkala ilmiah tentunya akan menjadi data yang lebih handal. Dari rentang 5 atau 10 tahun tersebut ada pula yang menganalisisnya per tahun untuk melihat perkembangan riset per tahun.

Video rekaman

Video rekaman kegiatan ini dapat disaksikan ulang melalui video di bawah ini.

Baca Juga