Ingin mendapatkan informasi terkini langsung ke WhatsApp Anda? Ikuti Channel saya!

FAQ Kebijakan dan Etika Penggunaan AI dalam Publikasi Ilmiah

Masih bingung dengan kebijakan dan etika penggunaan AI untuk publikasi ilmiah? Bagaimana cara etis menggunakan dan mendeklarasikannya? Cek 20 FAQ ini.
Foto oleh Ann H dari Pexels


Tanya 1: Apakah kecerdasan buatan (AI) boleh dicantumkan sebagai salah satu penulis (co-author) dalam artikel ilmiah? Jawab: Sama sekali tidak boleh. Seluruh penerbit ilmiah terkemuka seperti Wiley, Taylor & Francis, Springer Nature, IOP Publishing, BMJ, ACS Publications, Sage, Cambridge University Press, dan Frontiers melarang keras pencantuman AI sebagai penulis. Atribusi kepengarangan menuntut tanggung jawab dan akuntabilitas penuh dari manusia atas kebenaran, integritas, dan orisinalitas isi naskah, yang tidak bisa didelegasikan kepada entitas non-manusia. AI juga tidak memiliki kapasitas hukum untuk memegang hak cipta, menandatangani perjanjian lisensi publikasi, atau menyatakan ada/tidaknya konflik kepentingan.


Tanya 2: Apakah saya wajib mendeklarasikan penggunaan AI jika hanya menggunakannya untuk memperbaiki tata bahasa (grammar check atau proofreading)? Jawab: Umumnya tidak wajib dideklarasikan. Penggunaan AI yang bersifat bantuan teknis (assistive AI) untuk memperbaiki tata bahasa (grammar), ejaan (spelling), tanda baca, meningkatkan keterbacaan naskah, atau menyunting teks asli buatan manusia tanpa mengubah maknanya tidak memerlukan pengungkapan formal bagi sebagian besar penerbit, termasuk Springer Nature, Wiley, Taylor & Francis, BMJ, dan Sage. Namun, IEEE mencatat bahwa pengungkapan dalam kasus ini sangat direkomendasikan. Penulis tetap memegang kendali dan bertanggung jawab penuh atas draf akhir teks tersebut.


Tanya 3: Apa perbedaan mendasar antara penggunaan AI sebagai "alat bantu" (assistive AI) dan "AI generatif" (generative AI) dalam kepenulisan? Jawab: Penerbit seperti Sage dan Springer Nature membedakan kedua jenis ini secara ketat:

  • Alat Bantu AI (Assistive AI): Digunakan untuk melakukan perbaikan kecil pada ejaan, tata bahasa, gaya bahasa, atau struktur naskah yang dibuat oleh manusia. Ini tidak memerlukan deklarasi.
  • AI Generatif (Generative AI): Digunakan ketika AI bertindak sebagai pembuat utama konten baru, baik berupa draf teks substantif baru, gambar/visual, maupun penerjemahan. Penggunaan ini wajib dideklarasikan secara transparan saat pengajuan naskah.

Tanya 4: Bagaimana cara yang benar untuk mendeklarasikan penggunaan AI generatif dalam naskah ilmiah? Jawab: Anda wajib memberikan pernyataan tertulis yang transparan mengenai penggunaan alat tersebut. Deklarasi ini harus secara rinci menyebutkan:

  1. Nama dan versi model dari alat AI yang digunakan (misalnya, Claude 3.5 Sonnet atau ChatGPT-4).
  2. Kapan alat tersebut diakses atau digunakan.
  3. Tujuan dan alasan penggunaannya (misalnya, membantu membuat draf abstrak, menyusun draf ucapan terima kasih, atau menerjemahkan metode).
  4. Bagaimana proses peninjauan manusia dilakukan oleh penulis untuk memverifikasi akurasi draf teks tersebut.

Tanya 5: Di bagian mana dalam manuskrip saya harus meletakkan deklarasi penggunaan AI tersebut? Jawab: Menurut panduan Wiley dan BMJ, lokasi deklarasi disesuaikan dengan kontribusi AI tersebut:

  • Bagian Ucapan Terima Kasih (Acknowledgements) atau Pendahuluan: Jika AI digunakan untuk membantu penyusunan draf teks substantif, penerjemahan, pemolesan argumen, atau penyuntingan substantif naskah.
  • Bagian Metode (Methods Section): Jika AI digunakan secara langsung dalam metodologi penelitian, seperti mengolah data riset, analisis statistik, penyaringan literatur sistematis, pemrosesan citra, atau penulisan kode analisis.
  • Keterangan Gambar (Figure Captions): Jika AI digunakan untuk membuat atau memodifikasi grafik, visual konseptual, atau diagram.

Tanya 6: Apakah diperbolehkan menggunakan AI untuk menerjemahkan (translation) manuskrip ilmiah saya? Jawab: Boleh, tetapi wajib dideklarasikan. Penggunaan AI untuk menerjemahkan bagian-bagian manuskrip (misalnya, menerjemahkan bagian Metode dari bahasa asal penulis ke bahasa Inggris) dikategorikan sebagai transformasi teks substantif dan harus diungkapkan secara jelas di bagian Acknowledgements. Penulis wajib memverifikasi hasil terjemahan tersebut secara manual guna memastikan bahwa istilah teknis spesifik di bidangnya diterjemahkan dengan tepat dan tidak mengalami pergeseran makna.


Tanya 7: Bolehkah penulis menggunakan AI untuk melakukan pencarian dan tinjauan literatur (literature review)? Jawab: Boleh, dengan pengawasan manusia yang sangat ketat dan wajib dideklarasikan jika digunakan secara mandiri. AI dapat membantu menemukan studi relevan melalui pencarian semantik atau mengelompokkan tema-tema pustaka ilmiah. Namun, penggunaan AI secara mandiri (agentic search) untuk menyaring naskah berdasarkan kriteria inklusi/eksklusi wajib dicantumkan dalam bagian Metodologi. Penulis dilarang mengandalkan daftar referensi yang dihasilkan AI secara otomatis tanpa mengecek keabsahannya secara langsung ke sumber primer asli.


Tanya 8: Apakah diperbolehkan menggunakan bantuan AI dalam menulis kode pemrograman (coding assistance) untuk riset? Jawab: Diperbolehkan, asalkan dideklarasikan di bagian Metode. Penggunaan AI untuk menghasilkan skrip analisis data kuantitatif, model komputasi, merancang data pipeline, atau membangun algoritma baru sangat didukung oleh penerbit seperti Wiley, Taylor & Francis, dan Sage. Penggunaan ini harus dicatat secara transparan dengan menyebutkan alat dan versinya. Penulis memegang tanggung jawab penuh untuk menguji, memverifikasi, dan merevisi kode tersebut secara menyeluruh guna menjamin orisinalitas serta reproduksibilitas riset.


Tanya 9: Bagaimana kebijakan etika mengenai pengolahan dan analisis data (data analysis) menggunakan AI? Jawab: Penggunaan AI untuk membantu pengolahan data seperti melakukan pengodean transkip kualitatif secara tematis atau menganalisis data kuantitatif besar diperbolehkan namun wajib dideklarasikan secara detail di bagian Metode. Penulis harus menjamin privasi subjek manusia dan mematuhi aturan IRB sebelum mengunggah data riset ke platform AI pihak ketiga. Namun, Sage melarang penyerahan analisis pengalaman kualitatif sepenuhnya kepada AI generatif atau melakukan wawancara AI sebagai pengganti partisipan manusia nyata.


Tanya 10: Bolehkah saya meminta bantuan AI untuk mendesain metode (study design) atau menyusun instrumen penelitian (seperti kuesioner)? Jawab: Boleh, dengan kewajiban deklarasi. Jika Anda memanfaatkan AI untuk membantu menyusun draf pertanyaan survei, merancang protokol eksperimen baru, atau membuat panduan aktivitas belajar, Anda harus menyatakannya di bagian Metode manuskrip Anda. Penulis wajib menggunakan kepakaran ilmiah mereka untuk mengevaluasi, memodifikasi, dan memvalidasi kuesioner atau protokol tersebut sebelum diterapkan dalam riset sebenarnya.


Tanya 11: Apakah kita diperbolehkan mempublikasikan gambar atau visual yang dihasilkan oleh AI generatif (generative AI images/figures)? Jawab: Diperbolehkan dengan batasan yang sangat ketat hanya untuk grafik konseptual, namun dilarang untuk bukti ilmiah. Penerbit seperti Wiley, Springer Nature, dan Taylor & Francis menerapkan aturan komparatif berikut:

  • Visual Konseptual/Penjelas (Explanatory/Conceptual Visuals): Gambar diagram alur proses, peta konsep, atau ilustrasi teoritis diperbolehkan asalkan akurasinya diverifikasi dan dideklarasikan secara transparan pada keterangan gambar (caption).
  • Bukti Faktual/Hasil Riset (Factual/Evidential Images): Penggunaan AI untuk memproduksi gambar hasil eksperimen riil, spesimen klinis, sampel mikroskopi, atau data visual primer lainnya sangat dilarang keras karena dianggap sebagai pemalsuan data riset.

Tanya 12: Bolehkah gambar hasil eksperimen riil (seperti hasil blotting gel, rontgen, mikroskopi, dll.) ditingkatkan kualitasnya menggunakan fitur AI? Jawab: Sama sekali tidak boleh. Penggunaan alat generatif AI untuk memanipulasi, menyempurnakan kualitas, menyembunyikan noda, atau memindahkan fitur tertentu pada citra ilmiah yang merupakan bukti riset primer dilarang keras. Tindakan ini dikategorikan sebagai manipulasi gambar ilmiah yang melanggar integritas riset. Hanya penyesuaian minimal dan seragam (seperti kontras atau kecerahan global) menggunakan perangkat lunak penyunting gambar non-generatif tradisional yang diizinkan, dan ini pun harus dinyatakan secara jelas.


Tanya 13: Apakah ilustrasi sampul jurnal ilmiah (cover art) boleh dibuat menggunakan bantuan AI generatif? Jawab: Ya, diperbolehkan oleh sebagian penerbit dengan deklarasi khusus. Penerbit seperti ACS Publications and Wiley mengizinkan penulis membuat draf konsep desain sampul jurnal ilmiah menggunakan alat AI generatif. Syaratnya, penulis wajib mendeklarasikannya di bagian caption sampul, memastikan mereka memiliki lisensi komersial dari alat AI tersebut, serta menjamin bahwa gambar yang dihasilkan tidak melanggar hak cipta pihak ketiga.


Tanya 14: Bolehkah visualisasi abstrak grafis atau Daftar Isi (Table of Contents) dibuat menggunakan generator AI? Jawab: Tergantung kebijakan penerbit, namun ACS melarangnya secara mutlak. ACS Publications secara tegas melarang penggunaan gambar yang dihasilkan oleh AI untuk grafis ToC naskah. Alasan etisnya adalah grafis Daftar Isi diletakkan di halaman depan publikasi tanpa adanya kolom keterangan gambar (caption) di dekatnya sehingga penulis tidak dapat menjelaskan secara transparan kepada pembaca bahwa gambar tersebut dibuat menggunakan bantuan AI generatif.


Tanya 15: Bagaimana implikasi hak cipta (copyright) jika saya menyusun manuskrip ilmiah menggunakan bantuan AI? Jawab: Hukum hak cipta internasional secara umum mensyaratkan adanya kontribusi kepengarangan dari manusia (human authorship) agar suatu karya bisa dilindungi hak ciptanya. Konten yang dihasilkan murni oleh AI generatif tanpa modifikasi manusia yang substansial umumnya tidak berhak atas perlindungan hak cipta. Oleh karena itu, penulis wajib melakukan revisi substantif secara signifikan, menambahkan analisis kritis manusiawi, serta memadukan kepakaran unik mereka ke dalam manuskrip agar integritas hak cipta artikel ilmiah tetap sah dan dapat dilisensikan secara komersial kepada penerbit.


Tanya 16: Mengapa kita dilarang keras mengunggah draf artikel ilmiah yang belum terbit (unpublished manuscript) ke platform AI publik? Jawab: Tindakan tersebut menimbulkan risiko tinggi kebocoran kerahasiaan dan kekayaan intelektual. Sebagian besar platform AI publik gratisan merekam, menyimpan, dan menggunakan data apa pun yang diunggah pengguna dalam kolom prompt untuk melatih model bahasa mereka di masa mendatang (AI training data). Jika penulis mengunggah manuskrip yang belum dipublikasikan, hasil riset orisinal mereka berisiko tinggi terekspos ke pihak luar secara ilegal sebelum dipatenkan atau diterbitkan secara sah.


Tanya 17: Apa yang dimaksud dengan "halusinasi referensi" oleh AI, dan apa sanksinya jika tercantum dalam manuskrip riset? Jawab: Halusinasi referensi terjadi ketika model bahasa besar (LLM) merancang daftar rujukan atau nomor DOI yang tampak sangat ilmiah dan meyakinkan, namun sebenarnya fiktif dan sama sekali tidak ada di dunia nyata. Mencantumkan referensi palsu adalah pelanggaran berat terhadap etika ilmiah (scientific misconduct). Menurut kebijakan IOP Publishing dan AIP Publishing, penemuan kutipan palsu dalam naskah dianggap sebagai bukti kuat praktik kepenulisan yang tidak bertanggung jawab, yang akan langsung berujung pada penolakan naskah ilmiah (rejection), penarikan naskah jika sudah telanjur terbit (retraction), serta pelaporan kasus ke universitas asal penulis.


Tanya 18: Bolehkah peer reviewer menggunakan platform AI untuk menulis laporan ulasan (review report)? Jawab: Sangat dilarang keras. Proses peninjauan ilmiah sejawat (peer review) didasarkan pada asas kerahasiaan (confidentiality) dan keahlian berpikir kritis manusia. Peer reviewer dilarang keras mengunggah naskah rahasia yang sedang mereka tinjau ke dalam AI generatif publik (seperti ChatGPT) karena tindakan ini secara langsung melanggar hak kerahasiaan penulis ilmiah. Menggunakan AI untuk menghasilkan draf penelaahan naskah ilmiah secara otomatis juga tidak dapat diterima karena mesin tidak memiliki pemikiran logis tingkat tinggi. Reviewer yang melanggar akan dicopot dari daftar penelaah jurnal secara permanen.


Tanya 19: Bolehkah editor jurnal memanfaatkan AI dalam mengambil keputusan akhir naskah? Jawab: Tidak boleh. Keputusan penyuntingan akhir harus murni mencerminkan evaluasi kepakaran manusia. Editor dilarang keras menggunakan AI generatif untuk merumuskan keputusan penolakan atau penerimaan naskah (decision letters), serta dilarang menyuruh AI merangkum isi manuskrip yang belum diterbitkan. Namun, editor diperbolehkan menggunakan sistem AI yang disediakan khusus oleh penerbit dalam jaringan internal tertutup untuk membantu proses pencocokan penelaah sejawat ilmiah (reviewer matching) serta skrining plagiarisme otomatis.


Tanya 20: Apakah naskah riset saya akan langsung ditolak jika saya mendeklarasikan penggunaan AI? Jawab: Sama sekali tidak. Penerbit ilmiah terkemuka seperti Wiley, Sage, Taylor & Francis, dan BMJ menyatakan bahwa naskah ilmiah tidak akan ditolak hanya karena penulis mendeklarasikan penggunaan AI yang bertanggung jawab dan transparan. Penggunaan AI untuk membantu pengolahan data, menerjemahkan, atau memperbaiki bahasa naskah adalah praktik modern yang diterima secara luas. Penolakan atau penarikan naskah biasanya terjadi jika penulis melakukan penggunaan AI yang tidak etis, menyembunyikan penggunaan AI secara sengaja (undisclosed use), menggunakan AI untuk memalsukan data primer, atau membiarkan AI menulis konten ilmiah secara otomatis tanpa adanya tinjauan serta revisi kritis dari manusia.