Ingin mendapatkan informasi terkini langsung ke WhatsApp Anda? Ikuti Channel saya!

Memahami dan Mencegah Coercive Citation dalam Publikasi Ilmiah

Jelajahi praktik coercive citation: identifikasi, tangani, dan cegah manipulasi sitasi. Panduan solusi dan etika publikasi ilmiah.
Gambar oleh manityagi dari Pixabay


Dalam dunia publikasi akademik, praktik yang tidak etis sering kali mengganggu integritas ilmiah. Salah satu praktik tersebut, yang menjadi perhatian utama, adalah coercive citation. Coercive citation merujuk pada praktik di mana editor jurnal memaksa peneliti atau penulis untuk menambahkan kutipan yang tidak perlu ke dalam naskah mereka, dengan tujuan utama untuk meningkatkan faktor dampak jurnal maupun h-indeks dari para editor. Sebagai seorang mahasiswa, peneliti, atau dosen, memahami praktik ini menjadi penting karena dapat mempengaruhi kredibilitas dan integritas karya ilmiah yang dihasilkan. 

Sebuah artikel di Science yang ditulis oleh Wilhite dan Fong (2012) menjelaskan bahwa:

"Coercive self-citation refers to requests that (i) give no indication that the manuscript was lacking in attribution; (ii) make no suggestion as to specific articles, authors, or a body of work requiring review; and (iii) only guide authors to add citations from the editor's journal.

Ini adalah isu yang perlu disoroti karena dapat mempengaruhi kejujuran dan keakuratan dalam penelitian ilmiah.

Menjaga integritas dalam publikasi ilmiah merupakan tanggung jawab bersama untuk menjaga kualitas dan kepercayaan dalam dunia penelitian. Oleh karena itu, dalam artikel ini, saya akan mengupas lebih dalam tentang praktik coercive citation, memberikan gambaran umum tentang fenomena ini, mempertimbangkan studi kasus yang menceritakan pengalaman seorang peneliti dalam menghadapi coercive citation, dan mengeksplorasi cara-cara efektif untuk mengatasi tantangan ini dalam konteks akademik.

Gambaran Umum tentang Coercive Citation

Untuk memahami coercive citation dengan lebih baik, penting untuk menelusuri langkah-langkah umum dalam proses publikasi akademik. Setelah penelitian selesai dan naskah ditulis, peneliti mengirimkannya kepada editor jurnal untuk diproses lebih lanjut. Tahapan penting dalam proses ini adalah peer review, di mana naskah dinilai oleh para ahli dalam bidang yang sama. Namun, tahap inilah di mana coercive citation sering terjadi. Editor maupun reviewer sering kali menyarankan peneliti untuk menambahkan kutipan yang tidak diperlukan untuk meningkatkan faktor dampak jurnal, meskipun sebenarnya peneliti mungkin tidak setuju dengan permintaan tersebut. Hal ini ditegaskan oleh Enago bahwa "peningkatan faktor dampak jurnal adalah salah satu alasan utama di balik praktik ini".

Dalam konteks ini, penting untuk memahami bahwa faktor dampak jurnal adalah ukuran yang mencerminkan jumlah kutipan terhadap artikel yang diterbitkan dalam jurnal yang sama. Namun, relevansi kutipan tersebut dengan penelitian yang sedang dilakukan sering kali tidak diperhitungkan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang keadilan dan integritas dalam penilaian kualitas sebuah jurnal dan karya ilmiah individu. 

Sebuah studi yang dilakukan oleh Wilhite dan Fong pada tahun 2012 menunjukkan bahwa 1 dari 5 responden mengalami coercive citations, dengan 86% dari mereka menganggapnya tidak etis. Oleh karena itu, penting bagi para mahasiswa, peneliti, dan dosen untuk memahami praktik coercive citation dan mempertimbangkan dampaknya terhadap kejujuran dan kredibilitas dalam dunia akademik.

Studi Kasus: Menangani Permintaan Coercive Citation

Untuk memberikan gambaran yang lebih konkret tentang bagaimana peneliti dapat menghadapi permintaan coercive citation, kita dapat merujuk pada sebuah studi kasus yang disampaikan oleh Majumder (2017). Dalam studi kasus ini, seorang peneliti mengalami situasi di mana editor jurnal meminta untuk menyertakan sejumlah referensi yang tidak relevan dengan penelitiannya. Dalam hal ini, peneliti merasa kebingungan mengapa editor melakukan permintaan tersebut, terutama ketika referensi yang diminta adalah artikel-artikel dari edisi sebelumnya dari jurnal yang sama dan sebagian besar tidak relevan dengan penelitian yang sedang dilakukan. 

Untuk menangani situasi ini, peneliti memutuskan untuk meminta bantuan dari PI atau supervisor. Dalam kasus ini, keterlibatan seorang supervisor yang merupakan pakar di bidangnya dapat menjadi kunci untuk menyelesaikan masalah ini secara etis. Dengan bantuan supervisor, peneliti dapat menyampaikan keberatan mereka terhadap permintaan coercive citation secara profesional kepada editor jurnal. Sebagai hasilnya, editor tidak lagi meminta referensi yang tidak relevan, dan naskah yang direvisi kemudian diajukan untuk proses peer review lanjutan (Majumder, 2017).

Mengidentifikasi Permintaan Coercive Citation

Penting untuk dapat mengidentifikasi permintaan coercive citation agar dapat mengatasinya secara efektif. Mcloughlin (2017) menjelaskan bahwa permintaan seperti ini seringkali muncul tanpa justifikasi atau penjelasan yang memadai tentang perlunya menambahkan referensi tambahan. Salah satu tanda utama dari permintaan yang bersifat coercive adalah ketika editor atau reviewer menyarankan secara langsung untuk menambahkan sejumlah artikel dari jurnal yang sama, tanpa alasan yang jelas atau dukungan yang kuat terhadap relevansi artikel tersebut dengan penelitian yang sedang dilakukan. Oleh karena itu, peneliti harus mempertimbangkan dengan cermat setiap permintaan tambahan referensi dan menilai apakah permintaan tersebut didasarkan pada pertimbangan ilmiah yang kuat atau sekadar untuk memanipulasi faktor dampak jurnal.

Menangani Permintaan Coercive Citation dengan Efektif

Bagaimana seharusnya peneliti menanggapi permintaan coercive citation dengan efektif? Mcloughlin (2017) menyarankan agar peneliti merespons setiap saran revisi dari editor dengan hati-hati dan menyeluruh. Peneliti harus secara terperinci mengevaluasi setiap saran tambahan referensi yang diajukan, dan jika dirasa tidak relevan atau tidak diperlukan, peneliti dapat mengajukan keberatan secara profesional dan didukung oleh alasan ilmiah yang kuat. Dalam menghadapi situasi ini, penting untuk tetap mempertahankan integritas ilmiah dan menjaga kejujuran dalam penelitian yang dilakukan.

Manipulasi Sitasi dan Pertimbangan Etika

Manipulasi sitasi, terutama dalam bentuk coercive citation, melanggar etika publikasi dan dapat merusak integritas ilmiah. COPE (Committee on Publication Ethics) menegaskan bahwa permintaan coercive citation, baik dari editor, reviewer, maupun penulis sendiri, merupakan praktik yang tidak etis dan melanggar norma-norma terbaik dalam publikasi. Manipulasi sitasi tidak hanya merugikan integritas penelitian, tetapi juga dapat merugikan kepercayaan dalam proses peer review dan penilaian kualitas karya ilmiah. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak terlibat dalam publikasi akademik untuk menghormati prinsip-prinsip etika dan menjaga kejujuran dalam setiap tahapan proses publikasi (COPE).

Rekomendasi

Rekomendasi terhadap masalah coercive citation juga dapat melibatkan pelatihan bagi peneliti tentang etika publikasi dan pentingnya integritas ilmiah. Menyadari implikasi negatif dari manipulasi sitasi, peneliti perlu dilengkapi dengan pengetahuan dan pemahaman yang cukup untuk dapat mengidentifikasi dan menanggapi permintaan coercive citation dengan tepat. Selain itu, pembentukan kesadaran kolektif di antara komunitas akademik tentang pentingnya menjaga integritas dalam publikasi ilmiah dapat menjadi langkah yang efektif dalam mencegah praktik coercive citation yang merugikan.

Kesimpulannya, permintaan coercive citation merupakan salah satu bentuk manipulasi sitasi yang melanggar etika publikasi dan dapat merugikan integritas ilmiah. Peneliti harus waspada terhadap kemungkinan adanya permintaan seperti ini dan mempertahankan kejujuran dalam publikasi ilmiah. Dengan memahami cara mengidentifikasi, menangani, dan mencegah manipulasi sitasi, kita dapat memperkuat integritas dan kepercayaan dalam proses penelitian dan publikasi ilmiah. Dalam konteks ini, kolaborasi antara peneliti, editor jurnal, dan organisasi terkait seperti COPE sangat penting untuk menciptakan lingkungan publikasi yang etis dan bermartabat. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa penelitian yang dihasilkan dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi kemajuan ilmu pengetahuan secara jujur dan transparan.

Rujukan

Enago. (2016, June 28). Primer on coercive citation in academic publishing. Enago Academy. https://www.enago.com/academy/coercive-citation-in-academic-publishing

COPE. (2019). Cope discussion document: Citation manipulation. https://doi.org/10.24318/cope.2019.3.1

Mcloughlin, Caven. (2017). How an author can deal effectively with coercive citation requests. (2017, October 9). Editage Insights. https://www.editage.com/insights/how-an-author-can-deal-effectively-with-coercive-citation-requests

Majumder, Kakoli. (2017). How to deal with coercive citation: A case study. (2017, August 18). Editage Insights. https://www.editage.com/insights/how-to-deal-with-coercive-citation-a-case-study

Mcloughlin, Caven. (2017). How to identify coercive citation requests from an editor. (2017, October 9). Editage Insights. https://www.editage.com/insights/how-to-identify-coercive-citation-requests-from-an-editor

Wilhite, A. W., & Fong, E. A. (2012). Coercive citation in academic publishing. Science, 335(6068), 542–543. https://doi.org/10.1126/science.1212540