Onomastik

Onomastik

Onomastik, ilmu tentang tata nama dapat dikatakan cukup muda untuk menjadi sebuah bidang ilmu. Ilmu ini mulai berkembang di abad ke-19 sebagai sebuah subdisiplin ilmu yang berkontribusi pada penelitian-penelitian sejarah bahasa, sejarah, dan arkeologi. Onomastik, sejak waktu yang lama telah digolongkan ke dalam bagian riset linguistik meskipun pada faktanya masih terikat dengan berbagai ilmuwan dari berbagai bidang. Sebagai tambahan bagi para linguis, akademisi lain seperti filsuf, geografer, antropolog budaya, teolog, etnolog, sejarawan, arkeolog, psikolog, neuropsikolog, sosiolog, ekonom dengan berbagai alasannya tertarik untuk melakukan kajian pada nama (Algeo & Algeo, 2000, hlm. 265–269). Onomastik menjelma menjadi topik penelitian yang menggugah bagi ilmuwan yang tertarik kepada inter/multidisiplin ilmu.

Secara tradisional kajian tentang onomastik berfokus pada penyelidikan mengenai nama tempat atau toponim dan nama diri atau antroponim (Anderson, 2007, hlm. 114; Blanar, 2009, hlm. 122, 136; van Langendonck, 2007, hlm. 270). Kedua topik ini juga banyak dikenal dengan istilah topomastik dan antropomastik. Kajian tentang nama diri merupakan topik yang paling banyak diminati karena nama diri merupakan bagian dari budaya yang tidak dapat dipisahkan. Nama diri selalu muncul pada saat interaksi antara orang dengan komunitas bahasa beserta lingkungannya. Seseorang niscaya memberi nama kepada referen yang menurutnya layak diberi nama. Individu, tempat, objek, atau segala sesuatu yang memiliki nama, pasti memiliki makna bagi orang tersebut. Lazimnya, hewan tidak diberi nama, namun apabila sang pemilik menjadikannya sebagai sebuah individu maka diberilah nama (Chen, 2017b, hlm. 6). Budaya manusia memproduksi nama. Dengan kata lain, nama menjadi unsur unik dalam bahasa, memproduksi budaya.

Kajian onomastik pada intinya merupakan kajian tentang nama dari berbagai sudut pandang. Studi ini mencakup kajian dalam hal pola penamaan yang berlaku untuk mengungkap distribusi dan nama-nama atau tipe-tipe tertentu yang populer, piranti linguistik yang digunakan untuk membentuk nama dalam kaitannya dengan bahasa atau masyarakat yang menggunakannya, sejarah dari nama-nama individu atau nama-nama tertentu dalam sebuah grup sosial atau geografis tertentu, makna konotasi dari sebuah nama, bagaimana kata-kata dan frasa umum menjadi sebuah nama (begitu pula sebaliknya), bagaimana nama-nama yang berbeda digunakan oleh entitas yang sama, misalnya nama paraban, penamaan individu, tempat, dan lain sebagainya. Onomastik juga mencakup pembahasan tentang nama dalam dunia kedua, seperti mitos, literatur dan film, serta dunia- dunia supernatural, problem-problem praktis yang timbul akibat keberagaman nama yang digunakan pada entitas yang sama, misalnya nama geografis sehingga dapat memberikan saran pada standar penamaan.

Add Your Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *