Mengapa Double Submission itu adalah Ide yang Buruk

Mengapa Double Submission itu adalah Ide yang Buruk

Riset Anda telah selesai, tentu langkah berikutnya adalah melakukan diseminasi hasil riset melalui publikasi. Double submission merupakan salah satu pelanggaran etika yang jamak ditemui. Melakukan submission ke beberapa jurnal sekaligus dengan artikel yang sama (termasuk juga pada konferensi atau seminar) merupakan salah satu bentuk ketidakjujuran penulis.

Duplicate submission / publication: This refers to the practice of submitting the same study to two journals or publishing more or less the same study in two journals. -SAGE

Sumber: https://www.springer.com/gp/authors-editors/editors/duplicate-submission-publication-and-redundant-publication/4224

 

Sebagai penulis, pastinya kita berharap besar agar artikel kita segera terbit. Namun, jika kita mengirimkan satu artikel kita ke beberapa jurnal sekaligus agar berharap mendapatkan jurnal yang memiliki respon paling cepat dan terbit lebih dahulu kemudian menarik artikel dari jurnal-jurnal lain, itu adalah salah satu dosa akademis. Percayalah, tidak ada yang namanya publikasi kilat. Setidaknya, proses publikasi memakan waktu 6 bulan dan bahkan lebih.

Lalu, mengapa double submission atau duplicate submission harus dihindari?

  1. Pelanggaran etika publikasi.
  2. Memancing kemarahan editor. Di Indonesia, pekerjaan sebagai editor sebagian besar adalah pekerjaan tambahan selain sebagai dosen dan peneliti. Anda bisa membayangkan bagaimana perasaan seorang editor yang mengetahui sebuah artikel yang siap terbit (bahkan sudah terbit) ternyata sudah atau baru saja terbit di jurnal lain.
  3. Membuang waktu berharga reviewer. Setiap artikel yang akan diterbitkan akan melalui proses peninjauan oleh reviewer atau mitra bestari. Sebagian besar waktu tunda publikasi adalah proses peninjauan karena sebagian besar dilakukan oleh pakar di bidang tersebut. Artikel yang dikirim ke reviewer berarti artikel tersebut telah lolos di tahap awal (screening) oleh editor. Dengan kata lain, artikel Anda memiliki peluang untuk diterbitkan. Jika Anda melalukan double submission, artinya akan ada minimal 4 orang yang meninjau artikel yang sama. Padahal, umumnya satu artikel ditinjau oleh dua reviewer. Sialnya lagi jika ternyata artikel yang Anda kirim di dua jurnal yang berbeda berhadapan dengan reviewer yang sama. Jangan lupa, bahwa seorang reviewer kemungkinan besar tidak hanya melakukan peninjauan di satu jurnal.
  4. Bisa melibatkan institusi. Jika Anda tidak mengakui kesalahan dan melaporkannya ke pengelola jurnal, dan pengelola jurnal menganggap tidak ada tindak lanjut yang kooperatif dari para penulis; mekanisme selanjutnya menurut COPE adalah pihak pengelola berhak melakukan kontak ke institusi penulis. Nah, jadi runyam kan masalahnya?
  5. Membuat kita masuk daftar blacklist. Beberapa jurnal di Indonesia mulai menerapkan penalti ini. Ada yang mulai dari pelarangan untuk mengirimkan artikel selama dua tahun di jurnal tersebut, bahkan ada juga yang menyebutkan bahwa selamanya para penulis dilarang mengirimkan artikel ke jurnal tersebut. Menariknya, sebagian besar pengelola jurnal memiliki asosiasi atau perkumpulan jurnal bidang ilmu, contohnya adalah PPJPAUD (Perkumpulan Pengelola Jurnal PAUD Indonesia). Jangan mengira sesama editor atau pengelola jurnal tidak melakukan komunikasi ya!
  6. Artikel kita terancam di-retract (ditarik) dari semua jurnal dan penulis dikenai sanksi. ANJANI (Anjungan Integritas Akademik Indonesia) sudah dirilis dan diaktifkan oleh Kemristekdikti untuk menopang integritas akademik. Di antara bentuk penyimpangan akademik yang dapat dilaporkan ke ANJANI di antaranya: Fabrikasi dan Falsifikasi, PlagiatKepengarangan Tidak Sah, Konflik Kepentingan, dan Pengajuan Jamak. Jika Anda ingin melihat artikel-artikel yang ditarik karena alasan pengajuan jamak bisa dicek di sini. Untuk sanksi pengajuan jamak bernilai 100 poin.
  7. Kesalahan terjadi karena Anda, bukan pihak lain. Jika Anda cermati pada daftar cek submission di OJS, Anda akan diminta untuk mencek salah satunya bahwa “The submission has not been previously published, nor is it before another journal for consideration (or an explanation has been provided in Comments to the Editor)“. Jika Anda mencek poin ini Anda menyatakan bahwa artikel yang Anda kirim belum pernah diterbitkan dan tidak sedang diproses di jurnal lain. Dan ini ditempatkan di posisi paling awal. Ya, memang Anda yang keliru dari awal. 🙂

Selain double submission, masih banyak lagi pelanggaran etika yang harus kita hindari. Jika Anda membutuhkan bacaan terkait etika riset dan publikasi silakan klik tautan ini. Berisi ebook Ethics in Research and Publication dari Elsevier, Best Practice Guidelines on Publishing Ethics: A Publisher Perspective dari Wiley, Reseach and Publication Ethics dari Enago, dan Pedoman Publikasi Ilmiah dari Kemenristekdikti.

Daripada Anda melakukan submission di jurnal kedua (atau jurnal berikutnya) langkah yang paling bijaksana adalah menulis artikel kedua Anda sembari menunggu informasi dari editor terkait progres artikel Anda. Jika Anda belum melakukan riset berikutnya, Anda bisa mengirimkan data paper atau method paper yang berisi data mentah serta konteksnya dan metode Anda.

2 Comments

  • Muhamad Ratodi Posted April 14, 2020 17:31

    para editor (termasuk saya) pun harus koreksi diri.. setidaknya kita pahami akar masalahnya ada di penulis atau malah di pengelola jurnal sendiri .. misal karena terlalu lama di “gantung” status submissionnya tanpa komunikasi, akhirnya author “nekat” submit ke jurnal lain… dan ini diperparah oleh ketidaktaguan author sendiri.. double hit jadinya…

    jadi memang harus sama2 tau posisi dan perannya

    • Eric Kunto Aribowo Posted April 16, 2020 12:40

      Terima kasih tanggapannya, mas. Moga2 makin banyak editor bermunculan yg kaya jenengan. Ini bisa kita bungkus buat PSPI 🙂

Add Your Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *