Analisis Bibliometrik Berkala Ilmiah Names: Journal of Onomastics dan Peluang Riset Onomastik di Indonesia

Analisis Bibliometrik Berkala Ilmiah Names: Journal of Onomastics dan Peluang Riset Onomastik di Indonesia

Bagaimana mengutip artikel ini: Aribowo, E. K. (2019). Analisis Bibliometrik Berkala Ilmiah Names: Journal of Onomastics dan Peluang Riset Onomastik di Indonesia. Aksara, 31(1), 85. http://sci-hub.tw/10.29255/aksara.v31i1.373.85-105.

Item

Informasi yang terekam

Sitasi

penulis, Scopus ID, judul artikel, tahun terbit, nama jurnal, volume, edisi, halaman, jumlah sitasi, sumber dan tipe dokumen, DOI, tipe akses

Bibliografi

afilisasi, ISSN, PubMed ID, penerbit, editor, bahasa asli dokumen, alamat korespondensi, singkatan jurnal

Abstrak & kata kunci

abstrak, kata kunci dari penulis, indeks

Pendanaan

Jumlah, akronim, sponsor, teks pendanaan

Informasi lain

nama dagang dan manufaktur, informasi konferensi, daftar pustaka

Eric Kunto Aribowo

Prodi Ilmu-Ilmu Humaniora, FIB, Universitas Gadjah Mada

Jalan Humaniora, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta, Indonesia

Telepon (0274) 513096, Faksimile (0274) 513096

Pos-el: eric.kunto.a@mail.ugm.ac.id

Naskah diterima: 19 Maret 2019; direvisi: 31 Mei 2019; disetujui: 21 Juni 2019

Abstrak

Kajian onomastik sering dianggap sebagai topik yang gersang dan terbatas pada persoalan nama diri dan nama tempat (toponim). Permasalahan penelitian ini adalah tema riset apa saja yang telah diteliti pada kajian onomastik, tren risetnya, penulis dan afiliasi produktif, serta peluang riset onomastik yang dapat dilakukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan gambaran umum mengenai tema-tema riset onomastik dimanfaatkan analisis bibliometrik untuk menilai performa dari artikel-artikel ilmiah sekaligus memaparkan peluang riset onomastik di Indonesia. Data riset ini merupakan metadata yang diekstrak dari basis data Scopus dengan sumber Names: Journal of Onomastics dari tahun 1953—2018. Semua informasi diekspor ke format CSV untuk keperluan analisis data, khususnya word co-occurrence network yang dihasilkan menggunakan VOSviewer. Jumlah metadata dokumen yang berhasil dikumpulkan sebanyak 1.235 artikel. Hasil analisis menunjukkan investigasi terkait nama diri (terutama nickname) dan toponim menjadi topik dominan dalam onomastik, sedangkan riset tentang nama hewan, penamaan dan perkawinan, jenis kelamin dan penamaan, nama makanan, dan nama pada karya sastra menjadi tren riset menjelang tahun 2018. Riset onomastik di Indonesia memiliki potensi dan peluang yang luas karena beberapa sumber data elektronik dapat diakses dengan mudah. Dengan melibatkan kolaborasi dari berbagai disiplin ilmu, onomastik menjadi salah satu topik yang menjanjikan untuk diselidiki.

 

Kata kunci: bibliometrik, onomastik, tren riset, pemetaan riset, VOSviewer

 

Abstract

Onomastic studies are often considered an arid topic and limited to the issue of personal name and place name (toponym). The problems of this research are what research themes have been studied in onomastic studies, research trends, authors and productive affiliations, and onomastic research opportunities that can be done in Indonesia. This study aims to visualize a general overview of the research themes published in a peer-reviewed journal by bibliometric analysis to assess the performance of its articles while at the same time exposing opportunities for onomastic research in Indonesia. The research data is metadata extracted from Scopus database with the source Names: Journal of Onomastics from 1953-2018. All information is exported to CSV format for data analysis purposes, specifically the word co-occurrence network generated using VOSviewer. The total number of document metadata collected was 1,235 articles. The analysis shows that investigations regarding personal names (especially nicknames) and toponyms are the dominant topics in onomatics, while research on animal names, naming and marriage, gender and naming, and names of literature are trends in research by 2018. Research onomastics in Indonesia has great opportunities because some electronic data sources can be accessed easily. By inviting collaboration from multidisciplines, onomastics becomes a promising topics to be investigated.

 

Keywords: bibliometric analysis, onomastik, research trend, science mapping, VOSviewer

PENDAHULUAN

Onomastik, ilmu tentang tata nama dapat dikatakan cukup muda untuk menjadi sebuah bidang ilmu. Ilmu ini mulai berkembang di abad ke-19 sebagai sebuah subdisiplin ilmu yang berkontribusi pada penelitian-penelitian sejarah bahasa, sejarah, dan arkeologi. Onomastik, sejak waktu yang lama telah digolongkan ke dalam bagian riset linguistik meskipun pada faktanya masih terikat dengan berbagai ilmuwan dari berbagai bidang. Sebagai tambahan bagi para linguis, akademisi lain seperti filsuf, geografer, antropolog budaya, teolog, etnolog, sejarawan, arkeolog, psikolog, neuropsikolog, sosiolog, ekonom dengan berbagai alasannya tertarik untuk melakukan kajian pada nama (Algeo & Algeo, 2000, hlm. 265–269). Onomastik menjelma menjadi topik penelitian yang menggugah bagi ilmuwan yang tertarik kepada inter/multidisiplin ilmu.

Secara tradisional kajian tentang onomastik berfokus pada penyelidikan mengenai nama tempat atau toponim dan nama diri atau antroponim (Anderson, 2007, hlm. 114; Blanar, 2009, hlm. 122, 136; van Langendonck, 2007, hlm. 270). Kedua topik ini juga banyak dikenal dengan istilah topomastik dan antropomastik. Kajian tentang nama diri merupakan topik yang paling banyak diminati karena nama diri merupakan bagian dari budaya yang tidak dapat dipisahkan. Nama diri selalu muncul pada saat interaksi antara orang dengan komunitas bahasa beserta lingkungannya. Seseorang niscaya memberi nama kepada referen yang menurutnya layak diberi nama. Individu, tempat, objek, atau segala sesuatu yang memiliki nama, pasti memiliki makna bagi orang tersebut. Lazimnya, hewan tidak diberi nama, namun apabila sang pemilik menjadikannya sebagai sebuah individu maka diberilah nama (Chen, 2017b, hlm. 6). Budaya manusia memproduksi nama. Dengan kata lain, nama menjadi unsur unik dalam bahasa, memproduksi budaya.

Kajian onomastik pada intinya merupakan kajian tentang nama dari berbagai sudut pandang. Studi ini mencakup kajian dalam hal pola penamaan yang berlaku untuk mengungkap distribusi dan nama-nama atau tipe-tipe tertentu yang populer, piranti linguistik yang digunakan untuk membentuk nama dalam kaitannya dengan bahasa atau masyarakat yang menggunakannya, sejarah dari nama-nama individu atau nama-nama tertentu dalam sebuah grup sosial atau geografis tertentu, makna konotasi dari sebuah nama, bagaimana kata-kata dan frasa umum menjadi sebuah nama (begitu pula sebaliknya), bagaimana nama-nama yang berbeda digunakan oleh entitas yang sama, misalnya nama paraban, penamaan individu, tempat, dan lain sebagainya. Onomastik juga mencakup pembahasan tentang nama dalam dunia kedua, seperti mitos, literatur dan film, serta dunia-dunia supernatural, problem-problem praktis yang timbul akibat keberagaman nama yang digunakan pada entitas yang sama, misalnya nama geografis sehingga dapat memberikan saran pada standar penamaan.

Kajian riset onomastik di Indonesia pada prinsipnya didominasi kajian tentang nama diri (Bandana, 2015; Wibowo, 2001; Widodo, 2013), nama tempat (Prihadi, 2015; Sugianto, 2017; Sulistyono, 2016), dan nama badan usaha (Kusumaningsih, Sudiatmi, & Muryati, 2013; Riani, 2014; Wijana, 2014). Selain telaah tentang nama diri yang digunakan secara resmi, beberapa penelitian juga telah merambah pada nama-nama julukan atau paraban dan nama gelar (Novianti, 2016; Sulistyawati, 2004). Beberapa riset juga telah berhasil membuktikan hubungan antara nama dan bisnis (Aribowo, 2017; A. Gunawan, Hatane, & Dharmayanty, 2013), nama dan identitas (Aribowo, 2015a; Aribowo & Herawati, 2016b; Widodo, 2015), nama dan perkawinan (Aribowo & Almasitoh, 2019; Nurhayati, 2013), bahkan nama dan linguistik lanskap (Aribowo, Rahmat, & Nugroho, 2018). Kajian onomastik di Indonesia juga sebenarnya telah mencakup nama-nama yang ada di berbagai etnik, misalnya Jawa (Uhlenbeck, 1969; Wibowo, 2001; Widodo, 2013), Sunda (Kosasih, 2010), Bali (Bandana, 2015; Geertz & Geertz, 1964), termasuk etnik keturunan Tionghoa (Dewi & Artono, 2013; F. S. Gunawan & Karsono, 2013; Kurniawan, 2012; Suharyo, 2013), dan keturunan Arab (Aribowo, 2015b; Aribowo & Almasitoh, 2019). Meskipun demikian, kajian riset onomastik di Indonesia belum banyak menyinggung topik-topik yang lebih luas sebagaimana kajian riset onomastik di luar Indonesia, misalnya tentang nama merek (Danesi, 2011; Hernández & Pérez Hernández, 2013; Nuessel, 2010, 2016), nama akun di dunia digital (Hassa, 2012), nama gedung pencakar langit (Chen, 2017a), nama hewan (Chen, 2017b), nama resep makanan (Tsujimura, 2018), nama tim dan maskot (Zeitler, 2018), bahkan penamaan terkait transgender (Obasi, Mocarski, Holt, Hope, & Woodruff, 2018). Kajian terkait onomastik biasanya terpusat pada penelaahan makna dari nama diri (Anderson, 2007, hlm. 116–121). Padahal, fokus kajian onomastik mencakup penelitian mengenai nama hewan, nama badai, nama tempat atau daerah, nama benda-benda angkasa, nama bangunan, nama organisasi atau asosiasi, nama merek, hingga nama mata uang (van Langendonck, 2007, hlm. 201–245).

Ide dari penelitian ini adalah untuk membangun visualisasi jaringan bibliometrik, yang sering disebut dengan istilah  “science mapping” atau pemetaan riset. Riset bibliometrik merupakan sebuah teknik yang digunakan untuk menyediakan struktur sebuah jaringan yang merujuk pada pertanyaan-pertanyaan, seperti apa topik-topik utama pada sebuah bidang ilmu tertentu, bagaimana topik-topik tersebut berhubungan satu sama lain, dan bagaimana sebuah topik tertentu berkembang seiring waktu (Waltman, van Eck, & Noyons, 2010, hlm. 629). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui state of the art dari riset di area onomastik, topik-topik riset yang sering diteliti, tren riset onomastik, top author, serta kolaborator potensial. Sebagaimana ditegaskan oleh van Eck & Waltman (2014, hlm. 286–287) bahwa untuk mempermudah pemetaan riset, salah satunya dapat digunakan teknik visualisasi yang telah menjelma menjadi salah satu pendekatan yang andal dalam analisis jaringan bibliometrik, khususnya dalam memetakan serta mengelompokkan hubungan antara jurnal, penulisan bersama, para peneliti, dan kemunculan kata kunci.

 

METODE

Meskipun onomastik baru dirintis pada awal tahun 1900-an, kajian tentang nama telah melimpah. Beberapa berkala ilmiah yang secara khusus menjadikan onomastik sebagai fokus dan cakupannya telah tersedia, misalnya Names: Journal of Onomastics, Onoma, dan Voprosy Onomastiki (Problems of Onomastics). Bahkan, konferensi internasional yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun juga dilakukan di Swedia, Slowakia, Rumania, dan Polandia.

Metode yang dimanfaatkan pada riset bibliometrik ini mengadaptasi sebagaimana langkah-langkah yang telah dilakukan oleh van Eck, Waltman, Dekker, & van den Berg (2010), Waltman et al. (2010), van Eck & Waltman (2014), dan Ranjbar-Sahraei & Negenborn (2017). Untuk mengeksplorasi topik-topik riset tentang onomastik yang pernah dilakukan, telaah bibliometrik ditempuh dengan memanfaatkan basis data artikel yang telah terbit di Names: Journal of Onomastics. Dipilihnya berkala ilmiah ini karena merupakan pelopor jurnal tentang tata nama yang hanya menampung artikel riset mengenai onomastik. Di samping itu, jurnal ini juga terindeks di basis data Scopus dan Web of Science. Dipilihnya jurnal ini juga dalam rangka mendapatkan jumlah artikel terbanyak mengingat jurnal ini adalah jurnal ilmiah tertua yang terbit sejak tahun 1953.

Metadata artikel yang diunduh pada 23 Februari 2019 terdiri atas semua artikel yang terbit di berkala ilmiah Names: Journal of Onomastics dengan kategori article mulai tahun 1953—2018. Dokumen dengan kategori review, editorial, dan article in press tidak termasuk metadata yang diunduh. Dari hasil kurasi dihasilkan 1.235 metadata artikel yang diunduh dari basis data Scopus. Kemudian metadata diekspor ke format fail CSV agar seluruh informasi yang terekam dari setiap artikel terunduh sebagaimana yang tertulis pada Tabel 1. Video cara mengekspor metadata ini tersedia di https://youtu.be/_EovzZ3MSCs.

Ekspor metadata dari basis data Scopus

Sumber: (Aribowo, 2019c)

 

Informasi yang terekam pada Tabel 1 tersebut dapat digunakan untuk mengeksplorasi peneliti siapa saja yang berpengaruh, afiliasi atau instansi asal penulis, kepengarangan bersama, artikel yang paling banyak disitasi, hingga kata kunci yang paling banyak dipakai. Informasi inilah yang nantinya digunakan untuk membangun visualisasi data.

Metadata yang telah diunduh kemudian diolah menggunakan perangkat lunak VOSviewer versi 1.6.10. Perangkat ini dibutuhkan dalam rangka menciptakan visualisasi dari metadata yang telah diunduh sebelumnya dan diolah sedemikian rupa berdasarkan algoritma yang telah ditanam pada perangkat tersebut. Kata kunci atau istilah-istilah yang muncul sebagai tema riset diekstrak dari judul dan abstrak dari suatu publikasi atau dapat pula diambil dari kata-kata kunci yang disediakan penulis pada artikelnya. Sebagai misal, apabila dihasilkan dua kata kunci atau istilah dari luaran visualisasi VOSviewer berarti kedua kata kunci tersebut muncul secara bersamaan pada publikasi-publikasi yang ada dalam metadata yang diimpor, baik pada judul, abstrak, maupun daftar kata kunci. Kata-kata kunci inilah yang dimaknai sebagai topik atau tema riset (lebih jelas lihat Gambar 5).

Adapun langkah-langkah yang telah ditempuh adalah sebagai berikut.

  1. Pertama, jalankan program VOSviewer.
  2. Kedua, pilih tombol Create yang ada pada tab File sampai muncul kotak dialog.
  3. Ketiga, pilih tipe data Create a map based on text data lalu pilih tombol Next.
  4. Keempat, pilih sumber data Read data form bibliographic database file dan pilih tombol Next lalu pilih tab Scopus dan pilih fail CSV hasil ekspor yang telah dilakukan sebelumnya kemudian pilih tombol Next.
  5. Kelima, pilih opsi Title and abstract field yang akan diekstrak dan centang kedua opsi yang ada dan tunggu beberapa waktu.
  6. Keenam, pilih metode penghitungan Binary counting lalu pilih tombol Next kemudian isi ambang batas dengan 5 (secara standar terisi 10) sehingga dari 8.541 istilah ditemukan 371 kata kunci yang sering muncul kemudian pilih tombol Next dan secara standar akan terisi angka yang didapatkan dari 60% kata kunci tadi lalu pilih tombol Next.
  7. Ketujuh, pada saat tahap verifikasi istilah, kata-kata kunci diurutkan berdasarkan abjad dan istilah yang kurang spesifik terkait kajian onomastik diabaikan seperti kata: focus, kind, matter, note, overview, sample, scholar, something, success, support, dan thing; kemudian pilih tombol Finish (Aribowo, 2019d).

Video proses pemetaan riset menggunakan perangkat VOSviewer ini dapat diakses di laman https://youtu.be/Zukkn3Z6u6U. Pembaca yang tertarik untuk melakukan uji coba atau memeriksa hasil penelitian ini, dapat menggunakan set data yang tersedia di https://erickunto.com/blog/analisis-bibliometrik.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pemetaan bibliometrik merupakan salah satu langkah penting yang ditempuh dalam rangka mengetahui tema-tema riset onomastik, bagaimana perkembangan dan tren riset tersebut, serta para penulis dan afiliasi yang berpengaruh. Pemetaan ini lazimnya digunakan menyajikan gambar dalam bentuk jaringan yang menampilkan item-item yang saling terkait satu sama lain. Sebelum dipaparkan mengenai pemetaan dan pengklasteran riset onomastik, lebih dahulu disajikan penjelasan mengenai informasi mengenai sebaran dan distribusi penulis berdasarkan afiliasi dan negara, karya-karya yang banyak dikutip, serta para penulis paling produktif.

 

Produktivitas Penulis dan Afiliasinya

Sebanyak 1.232 (99,76%) artikel yang terbit di jurnal ini ditulis dalam bahasa Inggris dan hanya 3 (0,24%) artikel yang ditulis dalam bahasa Perancis. Sebanyak 735 (59,51%) artikel ditulis dari penulis yang berafiliasi Amerika Serikat. Sebagian penulis lain berasal dari Kanada (35 artikel), Inggris (28 artikel), Australia (16 artikel), Afrika Selatan (13), Perancis (12 artikel), Jerman (10 artikel), Taiwan (7 artikel), Belgia (5 artikel), Nigeria (5 artikel), Spanyol (5 artikel), dan Swedia (5 artikel). Sayangnya, belum ditemukan penulis yang berasal dari Indonesia. Peta interaktif untuk sebaran jumlah publikasi berdasarkan negara dapat diakses di sini.

University of California menjadi afiliasi nomor satu yang memiliki artikel terbanyak dengan jumlah 28 artikel yang disusul oleh University of Massachusetts (11 artikel); The City University of New York (8 artikel), The Ohio State University dan Central State University masing-masing 7 artikel; serta Wayne State University, University of Louisville, United States, dan University of Georgia, United States masing-masing 6 artikel.

 

Tabel 2 Daftar 10 Artikel yang Paling Banyak Dikutip

No.

Publikasi

Jumlah Kutipan

1.

Leslie, P. L., & Skipper, J. K. (1990). Toward a Theory of Nicknames: A Case for Socio-Onomastics. Names, 38(4), 273–282.

32

2.

Lawson, E. D. (1973). Men’s First Names, Nicknames, and Short Names: A Semantic Differential Analysis. Names, 21(1), 22–27.

28

3.

Zelinsky, W. (1983). Nationalism in the American Place-Name Cover. Names, 31(1), 1–28.

26

4.

Holland, T. J. (1990). The Many Faces of Nicknames. Names, 38(4), 255–272.

26

5.

Stump, R. W. (1988). Toponymic Commemoration of National Figures: The Cases of Kennedy and King. Names, 36(3–4), 203–216.

26

6.

Cohen, S. B., & Kliot, N. (1981). Israel’s Place-Names as Reflection of Continuity and Change in Nation-Building. Names, 29(3), 227–248.

25

7.

Dion, K. L. (1983). Names, Identity, and Self. Names, 31(4), 245–257.

23

8.

Busse, T. V. (1983). Nickname Usage in an American High School. Names, 31(4), 300–306.

21

9.

Stewart, G. R. (1954). A Classification of Place Names. Names, 2(1), 1–13.

18

10.

Lawson, E. D. (1980). First Names on the Campus: A Semantic Differential Analysis. Names, 28(1), 69–83.

18

Sumber: (Aribowo, 2019b)

 

Apabila ditinjau dari topik riset dari artikel yang paling banyak dikutip sebagaimana yang tertera pada Tabel 2, dapat disimpulkan bahwa riset mengenai nama diri dan nama tempat menjadi dua topik yang paling penting dalam kajian onomastik. Artikel terkait nama diri banyak membahas seputar nama panggilan (Busse, 1983; Holland, 1990; E. D. Lawson, 1973; Leslie & Skipper, 1990) dan nama depan (E. D. Lawson, 1973; Edwin D. Lawson, 1980); sedangkan tentang nama tempat terkait klasifikasi dan pembakuan nama tempat dalam rangka membangun nasionalisme (Cohen & Kliot, 1981; Stewart, 1954; Stump, 1988; Zelinsky, 1983). Nama panggilan, misalnya banyak dibentuk atau diambil dari bagian nama depan seperti: Daniel > Danny, John > Joey, dan Thomas > Tommie (E. D. Lawson, 1973) meskipun ada pula yang diambil dari karakteristik atau sifat pemilik nama misalnya Squirt karena berusia paling muda dan paling pendek di antara teman-temannya (Busse, 1983, hlm. 303). Terkadang, nama panggilan ini menjadi olok-olok kepada pemilik nama sehingga ada sebagian orang yang tidak menyukainya.

 

Tabel 3 Penulis dengan Jumlah Artikel >5 yang Terbit di Berkala Ilmiah Names: Journal Of Onomastics

Penulis

Jumlah Artikel

Smith, E.C.

19

Ashley, L.R.N.

17

Duckert, A.R.

15

Nicolaisen, W.F.H.

14

Nuessel, F.

13

Algeo J.; Lawson, E.D.

11

Abel, E.L.; Dabbs J.A.; Fleissner R.F.; Harder K.B.; Janzén A.

10

Cassidy, F.G.; Georgacas, D.J.; Murray, T.E.; Stewart, G.R.

9

Gudde, E.G.; Weslager C.A.

8

Sumber: (Aribowo, 2019b)

 

Apabila dilihat dari tingkat produktivitasnya, Elsdon C. Smith yang bekerja di beberapa firma hukum di Chicago merupakan penulis paling produktif dengan jumlah total 19 artikel (Tabel 3). Beliau bahkan menulis tiga buku populer yang berjudul The Naming of Your Baby (1943), American Surname (1986), dan The Dictionary of American Family Names (1988). Beliau bersama Erwin G. Gudde mendirikan American Name Society pada tahun 1951.

 

Jaringan Bibliometrik dan Tren Riset Onomastik

Langkah selanjutnya adalah melakukan analisis bibliometrik dengan membuat visualisasi network, overlay, dan density memanfaatkan VOSviewer untuk mengetahui jaringan bibliometrik yang ada di antara artikel-artikel dari metadata yang telah diunduh. Jaringan bibliometrik terdiri dari node dan edge (Gambar 1). Node yang direpresentasikan dengan lingkaran dapat berupa publikasi, jurnal, peneliti, atau kata kunci; sedangkan edge mengindikasikan hubungan antara pasangan node. Selain itu, edge tidak hanya mengindikasikan adanya hubungan antara dua node, namun juga kekuatan hubungan tersebut yang direpresentasikan dengan jarak. Semakin dekat jarak antara node satu dengan node lainnya menunjukkan tingginya hubungan di antara node tersebut.

Keterangan: Label mengindikasikan kata kunci atau istilah yang sering muncul. Warna mengindikasikan klaster.

Sumber: (Aribowo, 2019b)

 

Pemetaan dan pengklasteran bersifat komplementer, saling melengkapi satu sama lain. Pemetaan dapat digunakan untuk mendapatkan gambaran detil dari struktur sebuah jaringan bibliometrik (Waltman et al., 2010, hlm. 630), sedangkan pengklasteran digunakan untuk mendapatkan insight atau gambaran tentang pengelompokkan bibliometrik. Pada visualisasi yang ditampilkan pada Gambar 1, setiap lingkaran mewakili sebuah kata kunci atau istilah yang sering muncul, yang diambil dari judul dan abstrak artikel. Ukuran besar-kecil lingkaran mengindikasikan jumlah publikasi yang memiliki relasi dengan istilah tersebut, baik di dalam judul maupun abstrak artikel. Semakin besar ukuran lingkaran berarti semakin besar pula jumlah artikel yang memiliki relevansi dengan kata kunci atau istilah tersebut. Istilah-istilah yang berdekatan yang sering muncul cenderung berada di posisi yang berdekatan satu sama lain pada visualisasi, misalnya relasi antara first name dengan popularity pada lingkaran warna biru di sebelah kanan, lebih dekat daripada relasi first name dengan marriage.

Dari hasil analisis ditemukan bahwa dari metadata 1.235 artikel dapat dikelompokkan ke dalam enam klaster (4 klaster dominan, 2 klaster minoritas) yang masing-masing dapat diidentifikasi berdasarkan warnanya. Klaster pertama berwarna merah yang ada di posisi bagian tengah-bawah, mencakup istilah-istilah onomastik dalam kajian kesusastraan yang mencakup novel, fiction, author, theme, poet, poem, writer, dan text. Klaster kedua berwarna hijau di bagian tengah-atas, didominasi istilah onomastik terkait kajian toponim seperti: city, state, village, town, street name, dan image. Klaster ketiga berwarna biru yang berada di sebelah kanan banyak berkaitan dengan istilah-istilah nama diri seperti first name, woman, female, male name, boy, sex, child, popularity, choice, effect, dan marriage. Klaster keempat berwarna kuning yang berada di bagian kiri banyak mencakup istilah di bidang toponim dan kartografi seperti map, geographic name, spelling, standardization, application, board, collection, government, database, dan nomenclature. Klaster kelima lebih condong ke istilah-istilah seperti population, adoption, adaptation, interaction, dan genealogy. Adapun klaster terakhir, klater keenam bertalian dengan migrant, Europe, France, North America, twentieth century, dan world war II. Istilah-istilah yang ada di dalam masing-masing klaster secara rinci dapat diamati pada Tabel 4 berikut.

 

Tabel 4 Pengklasteran Berdasarkan Kata Kunci yang Sering Muncul Diurutkan secara Alfabetis

Klaster Kata Kunci yang Sering Muncul
Klaster 1

(merah),

52 item

absence, antiquity, argument, author, bible, brand name, Britain, case study, character name, connection, consideration, course, creation, event, existence, exploration, fiction, field, home, idea, identification, interpretation, link, literary onomastics, look, memory, methodology, naming process, narrative, nationalism, New York, notion, novel, object, placenames, play, poem, poet, politic, possibility, pragmatic, product, proper name, reader, replacement, rise, self, sound, text, theme, title, writer
Klaster 2

(hijau),

42 item

animal, bird, business, Chicago, Chinese, church, city, color, contribution, corpus, devil, dialect, effort, environment, food, French, geography, god, house, image, Indian, Indian place name, interest, land, landscape, light, Missouri, mountain, occupation, phenomena, race, religion, school, settlement, site, Spanish, street, street name, Texas, town, understanding, village  
Klaster 3 (biru),

41 item

age, appearance, Australia, baby, basis, birth, book, boy, cat, child, choice, desire, dog, effect, eighteenth century, ethnicity, female, female name, first name, frequency, gender, Israel, last name, letter, majority, male, male name, marriage, name choice, occurrence, parent, participant, Pennsylvania, percent, popularity, previous study, response, sex, United State, white woman
Klaster 4 (kuning),

41 item

activity, address, American Name Society, application, bibliography, board, Canada, classification, collection, computer, consequence, database, descriptive, discipline, essay, geographic name, geographic names, geographical name, government, journal, law, map, motivation, name change, new name, nicknames, nineteenth century, nomenclature, Oregon, place name literature, principle, proposal, search, Shakespeare, spelling, standardization, state, suggestion, technique, US board, view
Klaster 5 (jingga),

24 item

adaptation, adoption, attempt, comment, county, England, English name, etymology, fashion, genealogy, hypothesis, interaction, language contact, Ohio, point, population, pronunciation, province, Scandinavian place name, seventeenth century, south, Spain, university, west
Klaster 6 (biru muda), 11 item Europe, France, instance, internet, island, migrant, North Africa, recent year, toponymy, twentieth century, world war II

Sumber: (Aribowo, 2019b)

 

Setelah diidentifikasi pemetaan dan pengklasteran riset onomastik, selanjutnya dilakukan pemetaan tren riset berdasarkan tahun terbit artikel. Informasi yang didapatkan dari hasil visualisasi overlay dapat digunakan untuk mendeteksi dan mengidentifikasi state of the art riset onomastik yang dilakukan pada empat dekade terakhir.

Dari hasil analisis dari metadata yang diimpor ke VOSviewer juga dihasilkan visualisasi overlay. Pada visualisasi ini, warna sebuah node merepresentasikan kata kunci, sedangkan warna node mengindikasikan tahun terbitnya artikel yang memuat kata kunci tersebut. Semakin gelap warna yang ada pada node maka semakin lama topik tersebut dibahas dalam riset. Visualisasi pada Gambar 2 di bawah menunjukkan bahwa topik-topik terkait fiction, play, nomenklature, state, toponym, proper name, god, dan country merupakan topik-topik yang dibahas jelang tahun 1990—2000. Adapun topik-topik yang mencakup novel, child, first name, woman, population, parent, female, animal, cat, dan dog  banyak dibahas antara tahun 2000—2010, sedangkan topik yang berkaitan dengan ethnicity, marriage, popularity, gender, dan name choice mulai marak dibahas mendekati tahun 2018. Topik-topik inilah yang menjadi tren riset di bidang onomastik, terutama yang diterbitkan di berkala ilmiah Names: Journal of Onomastics.

 

Gambar Visualisasi Overlay dari 1.235 Artikel yang Terbit di Berkala Ilmiah Names: Journal of Onomastics tahun 1953—2018

Sumber: (Aribowo, 2019b)

 

VOSviewer menggunakan warna dasar merah-hijau-biru (RGB) dari setiap visualisasi yang dihasilkan. Dari hasil visualisasi density seperti yang ditampilkan di Gambar 3 dapat diidentifikasi bahwa wilayah-wilayah yang padat ditampilkan dari banyaknya node yang berdekatan antara node satu dengan node lain. Di samping itu, tingkat kejenuhan yang diindikasikan dari banyaknya kata kunci yang sering muncul dapat ditandai dari warna kuning yang ada di sekeliling label novel, nomenclature, child, first name, woman, city, dan state. Dengan kata lain, wilayah ini adalah topik yang telah banyak diteliti. Berbeda dengan topik-topik yang dilingkupi warna hijau seperti: poem, sex, male name, marriage, village, food, occupation, place name literature, fiction, dan internet. Artinya, topik-topik yang disebutkan terakhir ini masih belum banyak diteliti. Hal ini mengindikasikan gap riset yang ada di riset onomastik saat ini sehingga peluang untuk melakukan riset dengan topik ini masih sangat luas. Untuk melakukan riset dari topik-topik tersebut, berikut ini beberapa sumber data yang dapat diakses, terutama sumber data elektronik yang memungkinkan diperoleh ratusan, bahkan ribuan data sekaligus.

 

Gambar Visualisasi Kepadatan dari 1.235 Artikel yang Terbit di Berkala Ilmiah Names: Journal of Onomastics tahun 1953—2018

Sumber: (Aribowo, 2019b)

 

Beberapa Sumber untuk Memperoleh Data Onomastik dan Peluang Risetnya

Sumber data yang handal dapat menjamin hasil data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sumber data dalam penelusuran nama pada dasarnya dapat diakses dari sumber-sumber tulis, bahkan karena kemajuan teknologi beberapa data saat ini telah direkam dan dimanajemen secara rapi pada basis data elektronik yang lebih banyak dikenal dengan istilah big data.

Untuk melakukan penelusuran tentang nama, sumber data yang dituju sangat berkaitan dengan nama apa yang hendak diperoleh, misalnya nama diri (resmi atau non-resmi), nama geografis (wilayah, sungai, jalan, dlsb.), nama merek, nama toko, nama samaran (alias, nama pena, nama akun), nama hewan, atau nama-nama yang lain. Berikut ini dipaparkan beberapa sumber data yang dapat diakses untuk menjangkau nama-nama yang menjadi kajian onomastik, baik di tingkat nasional maupun global. Data-data yang ada dapat dijadikan fondasi dalam riset dasar yang dapat dilanjutkan dan dieksplorasi lebih dalam menggunakan metode survei atau wawancara.

 

Sumber Data Nama Diri

Sumber data nama diri biasanya dikumpulkan dari dokumen-dokumen tertulis seperti buku telepon (Mak, 2004, hlm. 90), daftar nama (Nurhayati, 2013, hlm. 25), media massa (Suharyo, 2013, hlm. 2), Kartu Keluarga (Sahayu, 2014, hlm. 341), atau bahkan manuskrip, prasasti, serta dokumen sejarah (Widodo, Yussof, & Dzakiria, 2010, hlm. 262). Namun, dalam beberapa penelitian terakhir mulai digunakan data korpus (Aribowo & Almasitoh, 2019; Aribowo & Herawati, 2016a, hlm. 273, 2016b, hlm. 118; Kuipers & Askuri, 2017, hlm. 28–29). Sumber data ini merupakan big data yang sudah terkumpul dalam sebuah sistem yang dikelola oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) melalui Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) seperti tampak pada Gambar 4.

Sumber: (Aribowo, 2019a)

 

Sistem ini berada di bawah Kementerian Dalam Negeri sehingga berlaku serempak secara nasional yang dapat diakses dari Disdukcapil Kabupaten atau Pemkot setempat. Data nama yang diambil dari SIAK memiliki atribut: nomor KK, NIK, nama lengkap, tempat lahir, tanggal lahir, status hubungan dalam keluarga, jenis kelamin, agama, pekerjaan, pendidikan terakhir, nama lengkap ayah, nama lengkap ibu, dan alamat. Informasi yang terekam pada basis data ini merupakan informasi yang sama yang tercetak pada dokumen resmi kependudukan seperti: Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, dan Kartu Tanda Penduduk.

Untuk sementara, data terkait nama paraban, nama pena, nama julukan atau nama alias belum dapat diperoleh dari sebuah basis data elektronik atau portal tertentu. Namun, kemungkinan besar data ini dapat diakses atau diperoleh dari komunitas atau asosiasi profesi, misalnya Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) untuk mendapatkan nama-nama panggung dan Perkumpulan Penulis Profesional (Penpro) untuk mendapatkan nama-nama pena. Untuk nama keluarga, khususnya nama fam keturunan Arab dapat diakses dari Rabithah Alawiyah yang berperan sebagai lembaga pendataan dan statistik terkait keturunan Arab di Indonesia, khususnya untuk golongan sayyid.

Sistem penamaan seseorang akan sangat tergantung dari budaya tempat dia dibesarkan sehingga setiap budaya memiliki sistem penamaan masing-masing. Ada beberapa budaya yang memiliki kecenderungan untuk memberikan nama patronim; ada pula yang memiliki nama fam yang dapat diwariskan berdasarkan sistem kekerabatan yang dianut. Keturunan Arab merupakan salah satu masyarakat yang memiliki tradisi pemberian nama ayah dan/atau nama kakek kepada anak-anaknya dengan tujuan menunjukkan silsilah atau garis keturunan sekaligus kedekatan emosional dalam keluarga, misalnya Faizah Ali Bamazruk, putri dari Ali Salim Bamazruk (Aribowo & Almasitoh, 2019). Ali adalah nama ayah kandung, sedangkan Bamazruk adalah nama fam atau nama keluarga.

Nama, khususnya nama keluarga (surname) dapat dimanfaatkan dalam menelusuri genealogi seseorang. Nama keluarga dapat menjadi salah satu bukti hubungan antara generasi satu dengan generasi yang lain (Redmonds, 2016). Nama keturunan Tionghoa biasanya ditulis setelah nama keluarga atau marga, misalnya seseorang yang bernama lengkap Wú Liánài, dapat diidentifikasi bahwaa merupakan marga yang mengikuti marga ayah dan Liánài merupakan nama diri. Penamaan ini merupakan salah satu wujud budaya turun-temurun yang diwariskan nenek-moyang (F. S. Gunawan & Karsono, 2013). Untuk kasus yang terjadi di kalangan keturunan Arab, apabila salah seorang keturunan Arab ingin mengetahui dari fam mana dia berasal, Rabithah Alawiyah akan memberikan formulir yang berisi tidak hanya nama diri namun juga nama lima kerabat dekat (paman), lima keturunan ke atas (ayah, kakek, moyang, buyut, dan cilawagi), serta dua nama saksi. Informasi ini kemudian akan dicek silang dengan buku keturunan yang ditulis dalam bentuk pohon keturunan sehingga dapat diketahui posisi yang bersangkutan dalam silsilah keluarga.

Selain terkait dengan genealogis, pemilihan nama seseorang bahkan akan disesuaikan dengan stratifikasi sosial yang berlaku di masyarakat, misalnya masyarakat Bali yang mengenal empat golongan kasta: brahmana, kesatria, waisya, dan sudra. Nama depan Ida Bagus dan Ida Ayu mengindikasikan kasta brahmana, sedangkan Cokorda Ida Bagus dan Cokorda Ida Ayu menandakan pemilik nama berkasta kesatria (Bandana, 2015, hal. 5–6). Nama Tuhan dan Dewa sering kali menjadi nama-nama yang dipilih sebagai nama diri untuk menunjukkan identitas religi seseorang. Masyarakat India banyak yang menggunakan nama dewa-dewi dari bahasa Sansekerta tersebut sebagai nama diri seperti: dewa Surya ‘matahari’, Chandra ‘bulan’, Indra ‘petir’, Baruna ‘hujan’, Agni ‘api’; serta dewi Usha ‘fajar’, Savitri ‘siang’, dan Sandya ‘senja’ (Jayaraman, 2005, hlm. 481–482). Untuk kalangan muslim, penggunaan unsur gabungan Abdul + al-asmaul husna sebagai nama juga banyak dijumpai, di samping nama-nama yang diambil dari para nabi dan keluarganya, serta nama khalifah (Mak, 2004, hlm. 94–97; Widodo et al., 2010, hlm. 265). Di Indonesia, nama-nama yang berafiliasi dengan keislaman lebih banyak dijumpai di daerah urban daripada pedesaan, seiring dengan meningkatnya kualitas pendidikan dan akses konten-konten informasi syiar keagamaan (Aribowo & Herawati, 2016b, hlm. 117).

Penamaan seseorang juga terkadang akan berbeda pada setiap generasi atau periode tertentu. Tren pada nama masyarakat Turki di tahun 2001—2013 banyak digunakan nama-nama Fatma, Ayşe, Emine, Hatice, dan Zeynep untuk kalangan perempuan, sedangkan untuk laki-laki dengan nama Mehmet, Mustafa, Ahmet, Ali, dan Hüseyin. Padahal, tradisi penamaan masyarakat Turki biasanya menggunakan nama-nama hewan seperti Şahin ‘elang’, Aslan ‘singa’, Doğan ‘rajawali’; fenomena meteorologis seperti Yağmur ‘hujan’, Ayaz ‘embun’, Bulut ‘awan’; atau benda-benda astronomi seperti Yıldız ‘bintang’, Mehtap ‘sinar bulan’, atau Güneş ‘matahari’ (Sakallı, 2016, hlm. 172–173).

Pada kehidupan nyata, nama sering kali diberikan oleh orangtua atau kerabat dekat. Akan tetapi, nama-nama yang ada di dalam karya sastra tidak demikian. Nama karakter fiksi harus ditemukan atau diciptakan oleh pengarang (Fowler, 2012) karena berfungsi sebagai sarana untuk membentuk atmosfer tertentu, khususnya terkait plot, tema, dan perwatakan melalui persona, tempat, lanskap, atau objek-objek lain (Nilsen & Nilsen, 2007). Penamaan dan penggunaannya di dalam karya sastra pun berbeda berdasarkan genre karya sastra. Dalam fiksi detektif kontemporer misalnya, digunakan nama alias atau nama samaran untuk para kriminal, bukan nama karakter ternama atau nama tokoh yang diambil dari karya sastra lainnya. Nama tokoh-tokoh pada komik pun diciptakan sedemikian rupa sehingga memunculkan nuansa-nuansa tertentu, misalnya Mickey Mouse dan Casper untuk tokoh yang lucu, gelar kemiliteran seperti Captain America digunakan untuk sosok pahlawan, nama-nama hewan banyak digunakan untuk tokoh pahlawan super seperti Batman dan Black Panther (Falck-Kjällquist, 2016, hal. 336). Bahkan, nama pengarang karya sastra pun menggunakan nama pena dalam karya-karyanya seperti Asma Nadia, Dee, dan Tere Liye.

Sumber Data Nama Merek

Nama-nama merek sangat erat kaitannya dengan bidang bisnis atau perekonomian. Merek menjadi hal penting dalam menjaga brand, kualitas, hingga pasar sebuah produk. Sebuah produk yang baik tentu akan dilabeli merek agar konsumen dapat membedakan antara produk satu dengan produk yang lain. Pendaftaran merek di Indonesia dikelola oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) di bawah naungan Kemenkumham. Nama-nama merek dapat diakses secara terbuka melalui laman https://pdki-indonesia.dgip.go.id/. Nama-nama merek yang ditampilkan juga terlampir logo untuk merek tersebut. Selain merek, dari laman tersebut juga dapat diakses kekayaan intelektual lain seperti: paten, desain industri, hak cipta, dan indikasi geografis. Dari hasil akses yang dilakukan pada 22 Februari 2019 misalnya, terdapat 1.200.439 merek yang terekam di basis data DJKI (Gambar 5). Sumber data ini juga dapat mengidentifikasi status merek yang ada: didaftar, dalam proses (pengajuan), ditarik kembali, ditolak, dibatalkan, dihapus, dan berakhir. Apabila ditelusur lebih lanjut, akan didapatkan informasi mengenai jenis barang/jasa dan pemilik (pemegang merek).

 

Gambar Salah Satu Contoh Merek yang Dapat Diakses Secara Terbuka dari Laman DJKI

Sumber: (Aribowo, 2019a)

 

Nama merek atau nama komersial yang bagus adalah nama yang mudah diingat, unik, dan memiliki asosiasi makna yang positif. Berbeda dengan nama-nama yang lain, nama komersial khususnya merek yang terdaftar dilindungi oleh hukum sehingga terdapat hak penggunaan dan batasan bagi pihak lain yang ingin mengunakannya. Banyak nama merek yang dibuat untuk memberikan sugesti kepada calon konsumen tentang kualitas produknya. Nama mobil misalnya yang banyak diadopsi dari nama-nama hewan seperti Mustang®, Jaguar®, Cougar®, Cobra®, Viper®, Beetle®, dan Colt® karena sejak zaman dahulu telah dimaklumi bahwa hewan berfungsi sebagai alat transportasi manusia (Danesi, 2011, hlm. 182). Inilah sebabnya rujukan kepada kekuatan atau kapasitas mesin kendaraan bermotor menggunakan istilah “tenaga kuda”.

Nama-nama komersial ini sering kali dibuat dari kata-kata eksotik dan semenarik mungkin melalui permainan kata sehingga dapat meningkatkan daya tarik kepada calon konsumen, misalnya merek dagang Amazon® Allianz®, dan Atoz® yang menghadirkan huruf A dan Z yang merepresentasikan luasnya cakupan klaim asuransi yang dijamin, berbagai fitur yang ditawarkan, dan beragam koleksi atau variasi produk yang dijual. Perusahaan Amazon® mengklaim bahwa produk yang ditawarkan di pusat belanja daring ini merupakan yang terlengkap di dunia, khususnya pada produk buku, majalah, musik, DVD, video, barang elektronik, komputer, perangkat lunak, aksesoris, sepatu, dan lain sebagainya.

 

Sumber Data Nama Usaha

Sumber data elektronik yang dapat dimanfaatkan untuk mengakses data nama usaha adalah hasil Sensus Ekonomi yang dilakukan oleh BPS tahun 2016 silam. Kegiatan rutin yang dilakukan 10 tahun sekali ini bertujuan untuk memperoleh populasi dari UMB dan Usaha Mikro Kecil (UMK) menurut wilayah dan lapangan usaha. Informasi yang terekam dari hasil pengisian angket ini di antaranya: kategori lapangan usaha (seperti: industri pengolahan, konstruksi, penyediaan akomodasi dan makan-minum, pendidikan, kesenian, hiburan, dan komunikasi), skala usaha (mikro, kecil, menengah, besar), status badan usaha (PT, PT Persero, PT Tbk, Perum, CV, Firma, Koperasi, Dana Pensiun, Yayasan, tidak berbadan usaha), jaringan usaha, pekerja, waralaba, hingga omset (Badan Pusat Statistik, 2017). Selain itu, untuk mendapatkan bukti autentik terkait nama usaha juga dapat dilakukan dengan penelitian lapangan dengan cara melakukan dokumentasi nama usaha menggunakan kamera digital (Aribowo, 2017, hlm. 287; Aribowo et al., 2018, hlm. 300).

Untuk nama-nama usaha di Indonesia banyak digunakan permainan kata seperti: toko obat Ben Kwat ‘agar kuat’, Takashimura ‘saya beri murah’, dan Okeiki ‘OK ini’ (Wijana, 2014, hal. 62). Pada prinsipnya, nama-nama komersial bertujuan untuk membantu pemilik nama dalam hal pemasaran dan penjualan produk. Inilah sebabnya nama tersebut memiliki nilai moneter.

 

Sumber Data Nama Geografis

Salah satu sumber data nama geografis yang dapat diakses secara terbuka adalah data yang dikelola oleh National Geospatial-Intelligence Agency (NGA). Akses ke basis data ini yang dilakukan pada 25 Februari 2019 tercatat ada 252 negara yang sebagian besar data dimutakhirkan tahun 2016—2019. Basis data ini merekam nama geografis yang mencakup nama administratif (desa, kecamatan, kabupaten, provinsi), nama sungai dan laut, nama gunung, gua, dan bukit. Data ini bahkan dilengkapi informasi mengenai koordinat lokasi (garis lintang dan bujur). Untuk negara yang memiliki sistem penulisan non-Latin (misalnya Arab Saudi, Jepang, China) juga telah disediakan nama yang ditulis dengan sistem penulisan Latin yang dilengkapi dengan sistem transliterasi yang dilakukan, khususnya terkait tanda-tanda diakritis.

Hasil pengunduhan data nama geografis negara Indonesia yang dimutakhirkan pada 4 Januari 2019, terekam 490.911 nama geografis. Dari data ini dapat dieksplorasi nama-nama gunung, bukit, atau dataran tinggi yang ada di Indonesia (Gambar 6).

 

Gambar Contoh Nama Geografis yang Diunduh Dari National Geospatial-Intelligence Agency (NGA)

Sumber: (Aribowo, 2019a)

 

Sumber data lain, khususnya untuk nama geografis di Indonesia dapat diperoleh dari Ina-Geoportal yang dikelola oleh Badan Informasi Geospasial. Portal ini diklaim sebagai geoportal nasional yang mampu menyediakan dan menghubungkan informasi dari berbagai kementerian, lembaga, provinsi, dan daerah. Data yang diunduh dari portal ini lebih mengarah pada data spasial, tidak seperti data dari NGA yang dapat diunduh dalam format TXT.

Tema riset tentang nama geografi akan banyak melibatkan para kartografer atau pembuat peta khususnya berkenaan dengan toponim yang mencakup nama wilayah, sungai, gunung, selat, dan nama geografis lainnya. PBB bahkan membentuk grup khusus, United Nations Groups of Experts on Geographical Names (UNGEGN) yang menangani pembakuan internasional terkait nama geografis. Bahkan, Indonesia menjadi salah satu anggota UNGEGN yang kemudian membentuk Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi (TNPNR) di bawah kendali Badan Informasi Geospasial (BIG). Pembakuan nama rupabumi termasuk pembakuan terhadap: tulisan, ejaan, ucapan, dan koordinat (Badan Informasi Geospasial, 2017) menjadi satu satu riset jangka panjang yang dapat diagendakan.

Nama-nama geografi di Indonesia sebagian besar berasal dari bahasa daerah yang beragam yang menandakan keunikan dan keberagaman di Indonesia. Beberapa nama geografi diawali dari kata Pulo/Pulau seperti: Pulogadung, Pulomas, Pulosari, Pulaupanjang; diawali kata Gunung/Bukit misalnya Gunungkidul, Gunungmas, Gunungtua, Bukittinggi, Bukitlawang, Bukitsari; diawali kata Tanjung contohnya Tanjungpura, Tanjungmas, Tanjungpriok; diawali oleh {ci-} seperti: Cibinong, Cipayung, Cisarua, Cilanda; diawali oleh kata Muara misalnya Muarateweh, Muaraangke, Muarakarang; diawali oleh kata Rawa, misalnya Rawamangun, Rawabuaya, Rawabelong; diawali oleh kata Lubuk contohnya Lubuklinggau, Lubukbasung, Lubukminturun (Ruskhan, 2011, hlm. 366–368).

Nama memiliki sejarah, begitu pula sejarah yang sering kali diungkap melalui nama (Algeo & Algeo, 2000, hlm. 266–267). Nama tempat menjadi salah satu bukti bahwa penamaan berkaitan erat dengan sejarah suatu wilayah. Nama-nama desa di Kabupaten Ponorogo misalnya yang banyak dinamai berdasarkan momen atau peristiwa penting yang terjadi, nama bangunan, tokoh, atau pekerjaan pada era Adipati Raden Batoro Katong (Sugianto, 2017). Kronologis sebuah peristiwa juga sering kali menjadi momen perubahan nama sebuah wilayah. Pada saat ini banyak nama kota yang dinamai dengan pola “New Town”, misalnya New Brighton di Cheshire yang merupakan sebuah distrik yang dikembangkan oleh mantan pedagang dari Liverpool. Pola ini merupakan adaptasi dari tipe penamaan tempat yang lazim dilakukan di wilayah Amerika Serikat (Fellows-Jensen, 2016, hlm. 514). Dari toponim juga dapat diketahui pada masa atau periode apa sebuah wilayah terbentuk.

Untuk kepentingan tertentu misalnya penulisan nama wilayah di peta dunia, nama-nama yang ditulis dengan sistem penulisan non-Latin (misalnya Arab, China, Korea, Jepang, Persia, dan Rusia) terkadang harus dialihaksarakan ke sistem penulisan lainnya, terutama Latin yang melibatkan proses transliterasi dan/atau transkripsi. Kesulitan proses ini karena huruf Latin terkadang tidak memiliki korespondensi fonem yang selaras dari bahasa asal, misalnya ض yang ada di bahasa Arab yang memiliki variasi penulisan /dh/ atau /dl/ (Wilson, 1986, hlm. 189). Pengalihaksaraan ini terkadang juga melibatkan ilmu perpustakaan dalam pembuatan katalog dan metadata perpustakaan (Kim & Cho, 2013, hlm. 87).

 

Sumber Data Nama Akun Media Sosial

Nama akun media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan lain sebagainya juga termasuk cakupan objek penelitian onomastik. Nama-nama akun yang telah didaftarkan secara mandiri oleh pemiliknya dapat dipanen secara sekaligus dengan memanfaatkan aplikasi, baik yang berbayar maupun gratis (dengan batasan waktu tertentu). Aplikasi-aplikasi seperti: Twlets, Electoral, Scout Zen, Simplymeasured, atau crowdbabble dapat mengunduh data pengikut (follower) dari sebuah akun tanpa harus masuk (login) menggunakan akun yang dituju. Hasil data yang dipanen melalui aplikasi-aplikasi ini dapat diunduh dalam format CSV maupun XLS (Gambar 7). Data yang terekam mencakup: nama akun, nama asli (yang diinput ketika pendaftaran), nomor ID Twitter, tautan profil Twitter, lokasi, deskripsi biografi, verifikasi akun, jumlah cuitan (tweet), jumlah teman (following), dan jumlah pengikut (follower).

 

Gambar Pengikut Akun Twitter @UGMYogyakarta yang Diunduh Menggunakan Aplikasi Twlets

Sumber: (Aribowo, 2019a)

 

Sumber Data Nama Hewan

Nama hewan yang dimaksud bukanlah nama hewan dalam konteks ilmu zoologi, namun nama-nama hewan peliharaan yang biasa menjadi teman sehari-hari manusia. Pada umumnya, hewan yang dipelihara adalah hewan-hewan yang termasuk golongan hewan kecil (seperti kucing, anjing, kelinci, hamster), burung, ikan, dan hewan melata (seperti ular dan iguana). Karena intensitas interaksi dan hubungan emosional sering kali hewan-hewan peliharaan ini diberi nama oleh empunya.

Sumber data terkait nama hewan peliharaan dapat ditelusuri melalui registrasi pasien di klinik atau dokter hewan yang marak ditemui di kota-kota besar. Kartu pengobatan atau rekam medis pasien biasanya memuat data seperti: nama hewan, jenis hewan, umur, jenis kelamin, ras, warna, nama pemilik, dan alamat. Selain dari klinik hewan, data juga dapat diperoleh dari komunitas-komunitas penyayang hewan, yang sebagian besar melakukan diskusi di grup-grup sosial media, misalnya D’Jaboers Community (@djaboerscatlovers) yang merupakan komunitas penyayang kucing yang berada di sekitar Depok, Jakarta, dan Bogor.

Onomastik meskipun sering kali dianggap sebagai ladang yang kering dalam penelitian tentang etimologis dan nomenklatur, pada faktanya terbukti dapat menjadi kajian yang multidisiplin dan prospektif. Kajiannya dapat mencakup bidang ekonomi dan bisnis (Aribowo, 2017; Danesi, 2011), psikologi (Brown, Carvallo, & Imura, 2014), dan geografi (Douglas, 2014). Bahkan, Algeo & Algeo  (2000, hlm. 265–269) menyebutkan bahwa onomastik juga melibatkan ilmu-ilmu antropologi, ekonomi, kartografi, floklor, genealogi, sejarah, leksikografi, linguistik, sastra, ortografi, filsafat, politik, psikologi, agama, dan sosiologi.

 

SIMPULAN

Penelitian ini telah mengelaborasi pemetaan dan pengklasteran tema riset tentang onomastik dari metadata 1.235 artikel yang terbit di Names: Journal of Onomastics tahun 1953—2018. Topik-topik riset yang dominan di antaranya tentang nama diri (khususnya nickname) dan nama tempat, seiring perkembangannya muncul topik-topik baru seperti kajian tentang nama hewan, keterkaitan antara penamaan dan perkawinan, jenis kelamin dan penamaan, nama makanan, dan nama pada karya sastra khususnya puisi. Penelitian ini juga telah menawarkan proposal mengenai potensi dan peluang riset onomastik yang dapat dilakukan, termasuk beberapa sumber data elektronik yang dapat diakses. Kajian onomastik yang kompleks juga membuktikan perlunya kolaborasi riset dari berbagai multidisiplin ilmu, tidak hanya terbatas pada ilmu linguistik atau bahasa semata.

Meskipun demikian, riset ini masih terbatas pada (meta)data yang diambil dari satu berkala ilmiah dan satu basis data serta memanfaatkan VOSviewer untuk membuat visualisasi pemetaan dan pengklasteran topik-topik riset. Riset bibliometrik berikutnya dapat menggunakan basis data yang lebih besar atau dapat memanfaatkan basis data yang lain seperti: Web of Science®, Crossref®, dan/atau Dimensions® dengan memanfaatkan sumber dari berkala ilmiah yang lebih beragam. Perangkat lunak lain yang juga dapat dimanfaatkan dan digunakan secara gratis seperti Publish or Perish, Pajek, Gephi, atau CiteNetExplorer dapat dijadikan perangkat lunak alternatif untuk mengolah metadata dalam rangka menganalisis performa suatu jurnal, penulis, atau bahkan afiliasi.

Penelitian ini merupakan bagian dari telaah literatur dari disertasi mengenai tata nama masyarakat keturunan Arab di Indonesia di bawah bimbingan Syamsul Hadi dan Amir Ma’ruf pada program doktor Ilmu-Ilmu Humaniora, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Namun demikian, keterbatasan yang ada pada artikel ini menjadi tanggung jawab penulis tanpa bermaksud menyangsikan profesionalitas kedua promotor.

Beberapa gagasan dalam tulisan ini, terutama terkait pencarian sumber data onomastik juga merupakan hasil diskusi singkat dengan Rasyid Kurniawan (staf Kemenkumham Yogyakarta), Sigit Subiyantoro (Kepala Seksi Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik, BPS Surakarta), dan Tri Wibowo (staf Bagian Data dan Statistik, Disdukcapil Surakarta). Penulis ucapkan terima kasih kepada mereka yang telah memberikan gambaran luas mengenai manajemen data di instansi masing-masing. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Universitas Gadjah Mada yang telah memberikan akses ke basis data Scopus dalam rangka pengambilan (meta)data. Selain itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada para mitra bestari yang telah memberikan komentar konstruktif terkait substansi artikel ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Algeo, J., & Algeo, K. (2000). Onomastics as an Interdiciplinary Study. Names, 48(3/4), 265–274.

Anderson, J.M. (2007). The Grammar of Names. Oxford: Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/acprof:oso/9780199297412.001.0001.

Aribowo, E.K. (2015a). Aspek-Aspek Linguistis Penanda Identitas Religi: Selayang Pandang Masyarakat Tutur Jawa Muslim. Dalam Seminar Nasional dan Launching ADOBSI (hal. 48–53). Diambil dari http://adobsi.org/wp-content/uploads/2015/07/Eric-Kunto-A.pdf.

Aribowo, E.K. (2015b). Selamatkan Perkawinanmu, Selamatkan Bahasamu: Catatan mengenai Dampak Positif Perkawinan Endogami terhadap Bahasa Masyarakat Keturunan Arab di Pasarkliwon Surakarta. Dalam Language Maintenance and Shift V (hal. 271–275). Diambil dari http://eprints.undip.ac.id/55372/.

Aribowo, E.K. (2017). Linking Arabic, Islam, and Economy: Onomastics on Business Name of People of Arab Descent in Indonesia. KARSA: Journal of Social and Islamic Culture, 25(2), 284–306. https://doi.org/10.19105/karsa.v25i2.139.

Aribowo, E.K. (2019a). Data Suplemen: Analisis Bibliometrik Berkala Ilmiah Names: Journal of Onomastics dan Peluang Riset Onomastik di Indonesia. https://doi.org/10.5281/ZENODO.3235058.

Aribowo, E.K. (2019b). Dataset: Analisis Bibliometrik Berkala Ilmiah Names: Journal of Onomastics dan Peluang Riset Onomastik di Indonesia. https://doi.org/10.6084/m9.figshare.7797371.v1.

Aribowo, E.K. (2019c). Ekspor metadata dari basis data Scopus [Video]. Diambil 4 Maret 2019, dari https://www.youtube.com/watch?v=_EovzZ3MSCs&t=40s.

Aribowo, E.K. (2019d). Membangun science mapping menggunakan VOSviewer [Video]. Diambil 30 Mei 2019, dari https://www.youtube.com/watch?v=Zukkn3Z6u6U.

Aribowo, E.K., & Almasitoh, U. H. (2019). Disparity of the Arabic name: the spotlight on children of endogamous and exogamous marriages among Hadrami-Arabs in Indonesia. Arabiyat : Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban, 6(1). https://doi.org/10.15408/a.v6i1.9384.

Aribowo, E.K., & Herawati, N. (2016a). Pemilihan Nama Arab sebagai Strategi Manajemen Identitas di antara Keluarga Jawa Muslim. Dalam International Seminar Prasasti III: Current Research in Linguistics (hal. 270–277). Diambil dari https://jurnal.uns.ac.id/prosidingprasasti/article/view/1508/1398.

Aribowo, E.K., & Herawati, N. (2016b). Trends in Naming System on Javanese Society: A Shift From Javanese to Arabic. Lingua Cultura, 10(2), 117–122. https://doi.org/10.21512/lc.v10i2.1730.

Aribowo, E.K., Rahmat, & Nugroho, A.J.S. (2018). Ancangan Analisis Bahasa di Ruang Publik: Studi Lanskap Linguistik Kota Surakarta dalam Mempertahankan Tiga Identitas. Dalam Semiloka dan Deklarasi Pengutamaan Bahasa Negara (hlm. 297–308). Surakarta: Badan Bahasa. https://doi.org/10.31227/osf.io/qa5p8.

Badan Informasi Geospasial. Peraturan Badan Informasi Geospasial Nomor 6 Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan Pembakuan Nama Rupabumi (2017). Indonesia. Diambil dari http://jdih.big.go.id/hukumjdih/8329524.

Badan Pusat Statistik. (2017). Hasil Pendaftaran Usaha/Perusahaan Sensus Ekonomi 2016 Provinsi Jawa Tengah. Badan Pusat Statistik.

Bandana, IG.W.S. (2015). Sistem Nama Orang Bali: Kajian Struktur dan Makna. Aksara, 27(1), 1–11. https://doi.org/10.29255/aksara.v27i1.166.1-11.

Blanar, V. (2009). Proper Names in the Light of Theoretical Onomastics. Bratislava: Matica Slovenská.

Brown, R.P., Carvallo, M., & Imura, M. (2014). Naming Patterns Reveal Cultural Values. Personality and Social Psychology Bulletin, 40(2), 250–262. https://doi.org/10.1177/0146167213509840.

Busse, T.V. (1983). Nickname Usage in an American High School. Names, 31(4), 300–306. https://doi.org/10.1179/nam.1983.31.4.300.

Chen, L.N.H. (2017a). Names of Chinese Skyscrapers. Names, 65(1), 36–44. https://doi.org/10.1080/00277738.2016.1223118.

Chen, L.N.H. (2017b). Pet-Naming Practices in Taiwan. Names, 65(3), 167–177. https://doi.org/10.1080/00277738.2017.1304097.

Cohen, S.B., & Kliot, N. (1981). Israel’s Place-Names as Reflection of Continuity and Change in Nation-Building. Names, 29(3), 227–248. https://doi.org/10.1179/nam.1981.29.3.227.

Danesi, M. (2011). What’s in a Brand Name? A Note on the Onomastics of Brand Naming. Names, 59(3), 175–185. https://doi.org/10.1179/002777311X13082331190119.

Dewi, Y.R.K., & Artono. (2013). Asimilasi Versus Integrasi: Reaksi Kebijakan Ganti Nama WNI (Warga Negara Indonesia) Tionghoa 1959-1968. Avatara, 1(2), 35–42. Diambil dari http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/avatara/article/view/2353/5514.

Douglas, B. (2014). Naming places: voyagers, toponyms, and local presence in the fifth part of the world, 1500-1700. Journal of Historical Geography, 45, 12–24. https://doi.org/10.1016/j.jhg.2014.03.004.

Falck-Kjällquist, B. (2016). Genre-based Approaches to Names in Literature. Dalam C. Hough (Ed.), The Oxford Handbook of Names and Naming (hal. 330–343). Oxford: Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780199656431.013.10.

Fellows-Jensen, G. (2016). Names and History. Dalam C. Hough (Ed.), The Oxford Handbook of Names and Naming (hal. 513–524). Oxford: Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780199656431.013.23.

Fowler, A. (2012). Literary Names: Personal Names in English Literature. Oxford: Oxford University Press.

Geertz, H., & Geertz, C. (1964). Teknonymy in Bali: Parenthood, Age-Grading and Genealogical Amnesia. The Journal of the Royal Anthropological Institute of Great Britain and Ireland, 94(2), 94–108. https://doi.org/10.2307/2844376.

Gunawan, A., Hatane, S., & Dharmayanty, D. (2013). Analisis Pengaruh Store Name, Brand Name, dan Price Discounts terhadap Purchase Intentions Konsumen Infinite Tunjungan Plaza. Jurnal Strategi Pemasaran, 1(1), 1–7. Diambil dari http://studentjournal.petra.ac.id/index.php/manajemen-pemasaran/article/view/209/153.

Gunawan, F.S., & Karsono, O.M.F. (2013). Pemberian Nama Tionghoa Keluarga Sub Suku Fúqīng di Banjarmasin 马辰福清人命名分析. Century, 1(2), 1–11. Diambil dari http://publication.petra.ac.id/index.php/sastra-tionghoa/article/view/495/432.

Hassa, S. (2012). Projecting, Exposing, Revealing Self in the Digital World: Usernames as a Social Practice in a Moroccan Chatroom. Names: A Journal of Onomastics, 60(4), 201–209. https://doi.org/10.1179/0027773812Z.00000000031.

Hernández, L.P., & Pérez Hernández, L. (2013). A Pragmatic-Cognitive Approach to Brand Names: A Case Study of Rioja Wine Brands. Names: A Journal of Onomastics, 61(1), 33–46. https://doi.org/10.1179/0027773812Z.00000000038.

Holland, T.J. (1990). The Many Faces of Nicknames. Names, 38(4), 255–272. https://doi.org/10.1179/nam.1990.38.4.255.

Jayaraman, R. (2005). Personal Identity in a Globalized World: Cultural Roots of Hindu Personal Names and Surnames. The Journal of Popular Culture, 38(3), 476–490. https://doi.org/10.1111/j.0022-3840.2005.00124.x.

Kim, S., & Cho, S. (2013). Characteristics of Korean personal names. Journal of the American Society for Information Science and Technology, 64(1), 86–95. https://doi.org/10.1002/asi.22781.

Kosasih, D. (2010). Kosmologi Sistem Nama Diri (antroponim) Masyarakat Sunda: dalam Konstelasi Perubahan Struktur Sosial Budaya. Dalam Seminar Internasional “Hari Bahasa Ibu” (hlm. 1–7). Jakarta. Diambil dari http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_DAERAH/196307261990011-DEDE_KOSASIH/PDF/Makalah/Kosmologi_Nama_Diri.pdf.

Kuipers, J.C., & Askuri. (2017). Islamization and Identity in Indonesia: The Case of Arabic Names in Java. Indonesia, 103, 25–49. https://doi.org/10.5728/indonesia.103.0025.

Kurniawan, B. (2012). Penggunaan Nama Barat oleh Etnis Tionghoa di Surabaya. Jurnal Lakon, 1(1), 12–20. https://doi.org/10.20473/LAKON.V1I1.1911.

Kusumaningsih, D., Sudiatmi, T., & Muryati, S. (2013). Pengidonesiaan Kata dan Ungkapan Asing pada Nama Badan Usaha, Kawasan, dan Gedung. Jurnal Pendidikan, 22(3), 267–286.

Lawson, E.D. (1973). Men’s First Names, Nicknames, and Short Names: A Semantic Differential Analysis. Names, 21(1), 22–27. https://doi.org/10.1179/nam.1973.21.1.22.

Lawson, Edwin D. (1980). First Names on the Campus: A Semantic Differential Analysis. Names, 28(1), 69–83. https://doi.org/10.1179/nam.1980.28.1.69.

Leslie, P.L., & Skipper, J.K. (1990). Toward a Theory of Nicknames: A Case for Socio-Onomastics. Names, 38(4), 273–282. https://doi.org/10.1179/nam.1990.38.4.273.

Mak, L. (2004). Naming and Collective Memory in Malay Muslim World. Taiwan Journal of Anthropology, 2(2), 81–114.

Nilsen, A.P., & Nilsen, D.L.F. (2007). Names and Naming in Young Adult Literature. Maryland: Scarecrow Press.

Novianti, M.I. (2016). Penggunaan Pelesetan Nama Panggilan dalam Masyarakat Sasak. RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa, 2(2), 313–327. https://doi.org/10.22225/jr.2.2.287.313-327.

Nuessel, F. (2010). A Note on Names for Energy Drink Brands and Products. Names: A Journal of Onomastics, 58(2), 102–110. https://doi.org/10.1179/002777310X12682237915188.

Nuessel, F. (2016). A Note on Selected Brand Names of E-Cigarettes. Names: A Journal of Onomastics, 64(1), 41–49. https://doi.org/10.1080/00277738.2016.1118864.

Nurhayati. (2013). Negosiasi Identitas dalam Pemberian Nama. Humanika, 17(X), 21–39. Diambil dari https://ejournal.undip.ac.id/index.php/humanika/article/view/5309.

Obasi, S.N., Mocarski, R., Holt, N., Hope, D.A., & Woodruff, N. (2018). Renaming Me: Assessing the Influence of Gender Identity on Name Selection. Names, 1–13. https://doi.org/10.1080/00277738.2018.1536188.

Prihadi. (2015). Struktur Bahasa Pedusunan (Kampung) di Daerah Istimewa Yogyakarta: Kajian Antropolingistik. Litera: Jurnal Penelitian Bahasa, Satra, dan Pengajarannya, 14(2), 307–316. https://doi.org/10.21831/ltr.v14i2.7206.

Ranjbar-Sahraei, B., & Negenborn, R. (2017). Research Positioning & Trend Identification – a data-analytics toolbox (2.2). Leiden: TU Delf. Diambil dari http://aida.tudelft.nl/toolbox/aida-booklet.

Redmonds, G. (2016). Personal Names and Genealogy. Dalam C. Hough (Ed.), The Oxford Handbook of Names and Naming (hal. 279–292). Oxford: Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780199656431.013.30.

Riani. (2014). Dominasi Bahasa Inggris pada Nama Badan Usaha di Yogyakarta. Widyaparwa, 42(2), 141–152. Diambil dari http://www.widyaparwa.com/index.php/widyaparwa/article/view/84.

Ruskhan, A.G. (2011). Keunikan Nama-Nama Geografi Indonesia: Dari Nama Generik ke Spesifik. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 17(3), 363. https://doi.org/10.24832/jpnk.v17i3.33.

Sahayu, W. (2014). Penanda Jenis Kelamin pada Nama Jawa dan Nama Jerman. Litera: Jurnal Penelitian Bahasa, Satra, dan Pengajarannya, 13(2), 338–348. https://doi.org/10.21831/ltr.v13i2.5251.

Sakallı, E. (2016). New Trends in Name-Giving in Turkey. Вопросы ономастики, 13(1), 171–177. https://doi.org/10.15826/vopr_onom.2016.13.1.010.

Stewart, G.R. (1954). A Classification of Place Names. Names, 2(1), 1–13. https://doi.org/10.1179/nam.1954.2.1.1.

Stump, R.W. (1988). Toponymic Commemoration of National Figures: The Cases of Kennedy and King. Names, 36(3–4), 203–216. https://doi.org/10.1179/nam.1988.36.3-4.203.

Sugianto, A. (2017). Pola Nama Desa di Kabupaten Ponorogo pada Era Adipati Raden Batoro Katong (Sebuah Tinjauan Etnolinguistik). Jurnal Sosial Humaniora, 10(1), 34–46. Diambil dari http://iptek.its.ac.id/index.php/jsh/article/view/2300/1947.

Suharyo. (2013). Pola Nama Masyarakat Keturunan Tionghoa. Humanika, 18(2), 1–10. Diambil dari https://ejournal.undip.ac.id/index.php/humanika/article/view/5952.

Sulistyawati. (2004). Nama dan Gelar di Keraton Yogyakarta. Humaniora, 16(3), 263–275. https://doi.org/10.22146/jh.v16i3.1306.

Sulistyono, Y. (2016). Sistem Penamaan Tempat di Kompleks Tamansari Keraton Yogyakarta (Kajian Linguistik Antropologis). Dalam The 4th University Research Coloquium 2016 (hal. 157–164). Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta. Diambil dari https://publikasiilmiah.ums.ac.id/xmlui/bitstream/handle/11617/7690/Humanoria_19.pdf?sequence=1.

Tsujimura, N. (2018). Recipe Names as a Gateway to Interpersonal Communication. Names, 66(4), 1–13. https://doi.org/10.1080/00277738.2018.1452941.

Uhlenbeck, E.M. (1969). Systematic Features of Javanese Personal Names. WORD, 25(1–3), 321–335. https://doi.org/10.1080/00437956.1969.11435576.

van Eck, N.J., & Waltman, L. (2014). Visualizing Bibliometric Networks. Dalam Measuring Scholarly Impact (hal. 285–320). Cham: Springer International Publishing. https://doi.org/10.1007/978-3-319-10377-8_13.

van Eck, N.J., Waltman, L., Dekker, R., & van den Berg, J. (2010). A comparison of two techniques for bibliometric mapping: Multidimensional scaling and VOS. Journal of the American Society for Information Science and Technology, 61(12), 2405–2416. https://doi.org/10.1002/asi.21421.

van Langendonck, W. (2007). Theory and Typology of Proper Names. Trends in linguistics Studies and monographs (Vol. 47). Berlin: Mouton de Gruyter. https://doi.org/10.1515/LING.2009.042.

Waltman, L., van Eck, N. J., & Noyons, E. C. M. (2010). A unified approach to mapping and clustering of bibliometric networks. Journal of Informetrics, 4(4), 629–635. https://doi.org/10.1016/j.joi.2010.07.002.

Wibowo, R.M. (2001). Nama Diri Etnik Jawa. Humaniora, XIII(1), 45–55. https://doi.org/10.22146/jh.v13i1.710.

Widodo, S.T. (2013). Konstruksi Nama Orang Jawa Studi Kasus Nama-Nama Modern di Surakarta. Jurnal Humaniora, 25(1), 82–91. https://doi.org/10.22146/jh.v25i1.1815.

Widodo, S.T. (2015). Personal Names as an Inter-Ethnic Model of Acculturation in Indonesia. Asian Journal of Social Sciences & Humanities, 4(1), 126–133. Diambil dari http://www.ajssh.leena-luna.co.jp/AJSSHPDFs/Vol.4(1)/AJSSH2015(4.1-14).pdf.

Widodo, S.T., Yussof, N., & Dzakiria, H. (2010). Nama Orang Jawa: Kepelbagaian Unsur dan Maknanya. Sari – International Journal of the World and Civilisation, 28(2), 259–277. Diambil dari http://journalarticle.ukm.my/1271/1/SARI_28%5B2%5D2010_%5B12%5D.pdf.

Wijana, ID.P. (2014). Bahasa, Kekuasaan, dan Resistansinya: Studi Tentang Nama-Nama Badan Usaha di Daerah Istimewa Yogyakarta. Humaniora, 26(1), 56–64. https://doi.org/10.22146/jh.v26i1.4700.

Wilson, F.E. (1986). Transcription of Afghan Placenames to an English-style Romanization. Names, 34(2), 185–197. https://doi.org/10.1179/nam.1986.34.2.185.

Zeitler, E.J. (2018). A Taxonomy of Secondary School Athletic Team Names and Mascots in the United States. Names, 66(4), 219–232. https://doi.org/10.1080/00277738.2018.1490526.

Zelinsky, W. (1983). Nationalism in the American Place-Name Cover. Names, 31(1), 1–28. https://doi.org/10.1179/nam.1983.31.1.1.

Add Your Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *